Minggu, 06 Oktober 2013

Pendekatan2 dlm study islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah.
Pada saat ini Islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern. Studi keislaman menjadi sangat urgen. Studi Islam dituntut untuk membuka diri terhadap masuknya dan digunakan pendekatan – pendekatan yang bersifat objektif dan rasional.
Pendekatan yang diterapkan dalam mempelajari suatu masalah amatlah penting untuk mengetahui derajat keilmuan studi yang dihasilkannya dalam hal ini tidak terkecuali masalah Studi Islam.
Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan, dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
B.     Rumusan Masalah.
Berdasarkan Latar Belakang Masalah tersebut perlu kiranya kami merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.         Apa Pengertian Pendekatan dan Studi Islam itu ?
2.         Apa Sajakah Macam – macam Pendekatan Dalam Studi Islam !
C.    Metode Pemecahan Masalah.
Metode pemecahan masalah yang kami lakukan melalui studi literatur (metode kajian pustaka) yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang kami bahas. Langkah – langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah – langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.    Sistematika Penulisan Makalah.
Makalah ini kami tulis ke dalam 3 bagian, meliputi :
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari : pendahuluan (latar belakang masalah), perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah.
Bab II, bagian pembahasan yang membahas tentang masalah – masalah yang terdapat pada rumusan masalah.
Bab III, bagian penutup bagian yang terdiri dari simpulan dan saran – saran.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian.
1.         Pengertian Pendekatan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendekatan adalah Pertama, proses perbuatan, cara mendekati. Kedua, usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode – metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Dalam bahasa inggris pendekatan diistilahkan dengan “approach”, dalam bahasa Arab disebut dengan “madkhal”.[1]
Dalam proses pendidikan islam pendekatan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang sangat bermakna bagi materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan, sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik dan menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
2.         Studi Islam.
Studi islam atau di barat dikenal dengan istilah islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal – hal yang berhubungan dengan agama islam. Dengan perkataan lain”usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk – beluk atau hal – hal yang berhubungan dengan agama islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik – praktik pelaksanaanya secara nyata dalam kehidupan sehari – hari, sepanjang sejarahnya.
Tujuan studi islam secara umum adalah dikalangan umat islam studi islam bertujuan memahami dan mendalami serta membahas ajaran – ajaran islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan di luar kalangan umat islam studi keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk beluk agama dan praktek – praktek keagamaan yang berlaku di kalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan.
Dengan tujuan tersebut diatas, maka studi islam akan menggunakan cara pendekatan yang sekiranya relevan, yaitu pendekatan Antropologis, sosiologis, filosofis, sejarah kebudayaan dan psikologi.
a.        Pendekatan Antropologis
Antropologis sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia penting untuk memahami agama. Antropologis mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan – perbedaan manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan berbagai budaya.
Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusia dengan membedakan apa yang mereka sebut dengan sence dan religious atau mystical event.[2]
-            Common sence
Dalam satu sisi common sence mencerminkan kegiatan sehari – hari yang biasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi.
-            Religious sence
Religious sence adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi diluar jangkauan kemampuan manusia.
b.        Pendekatan sosiologis
Studi islam dengan pendekatan sosiologis adalah materi studi islam yang mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat. Bagaimana agama mempengaruhi pemikiran dan pemahaman keagamaan.
Studi islam dengan pendekatan sosiologis dapat mengambil beberapa tema.[3]
-            Studi tentang pengaruh agama terhadap masyarakat atau lebih tepatnya masyarakat atau lebih tepatnya pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat.
Perubahan masyarakat (sosial change) biasanya didefinisikan sebagai perubahan sosial yang meliputi perubahan pada budaya. Struktur sosial dan perilaku sosial dalam jangka tertentu.
-            Studi pola interaksi sosial masyarakat muslim.
Studi yang mempelajari pola – pola perilaku masyarakat muslim dengan sesama muslim dan toleransi beragama umat muslim.
-            Studi tentang tingkat pengalaman beragama masyarakat
Digunakan untuk mengevaluasi pola penyebaran agama dan seberapa jauh ajaran agama diamalkan oleh masyarakat.
c.         Pendekatan filosofis
Berdasarkan pendekatan filosofis, pendidikan islam dapat diartikan sebagai studi proses tentang kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran islam menurut konsepsi filosifis, bersumberkan kitab suci Al – Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw. Pendekatan filosofis ini memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional atau “human national” sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan kepada sejauh mana pengembangan berpikir dapat dikembangkan.[4]
Tujuan pendekatan ini dimaksudkan agar siswa dapat menggunakan pemikiran (rasio) seluas – luasnya sampai titik maksimal dari daya tangkapnya sehingga siswa terlatih untuk terus berpikir dengan menggunakan kemampuan berpikirnya.
d.        Pendekatan Historis (Sejarah).
Yang dimaksud adalah meninjau suatu permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sedangkan sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa – peristiwa atau kejadian – kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan mempelajari masa lalu, orang dapat memahami masa kininya, dengan memahami serta menyadari keadaan masa kini, maka orang dapat menggambarkan masa depannya. Di dalam Studi Islam, permasalahan atau seluk beluk agama Islam dan Pelaksanaan cara perkembangannya dapat ditinjau dan dianalisis dalam kerangka perspektif kesejarahan yang demikian itu.[5]
Studi Islam dengan menggunakan pendekatan sejarah yang meliputi :[6]
Ø  Sejarah Al – Qur’an.
Ø  Sejarah Nabi.
Ø  Sejarah Perkembangan Islam.
ü  Periode Klasik, yaitu dimulai sajak Rasulullah sampai sampai runtuhnya Dinasti Abbasiyah tahun 656 H.
ü  Periode Pertengahan, yaitu dimulai sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah sampai Abad 11 H.
ü  Periode Modern, yaitu dimulai sejak abad 12 sampai sekarang.
e.         Pedekatan Psikologis.
Pengertian psikologis agama pada mulanya sering terjadi permasalahan dalam memberi batasan yang jelas dan tegas terhadap Islam.
Psikologi Agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap :
·           Sikap dan tingkah laku seseorang atas mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut cara berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku yang tidak terpisahkan dari keyakinannya. Karena keyakinan ini masih dalam konstruk kepribadiannya.
·           Psikologi agama merupakan ilmu jiwa yang memusatkan penelitiannya pada perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip – prinsip psikologi yang diambil dari Studi tingkah laku non religious.
·           Psikologi khusus yang mengkaji sikap dan tingkah laku seseorang yang timbul dari keyakinan yang dianutnya berdasarkan pendekatan psikologis.
Sedangkan Psikologi Agama menitikberatkan pada :[7]
§   “aspek pengaruh” yakni ilmu yang mempelajari sikap dan prilaku seseorang sebagai hasil pengaruh keyakinan atau kepercayaan.
§   Sebagai “proses” terjadinya pengaruh tersebut.
§   “kondisi” keagamaan seseorang yaitu mengkaji bagaimana terjadinya kemantapan dan kegoncangan jiwa dalam keberagamannya.
f.         Pendekatan Teologis Formatif.
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu agama dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya. Amin Abdullah mengatakan bahwa teologi, sebagai mana kita ketahiu tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Menurut pengamat Sayyed Hosein Nasr, dalam era kontemporer ini ada 4 prototipe pemikiran keagamaan Islam, yaitu pemikiran keagamaan fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis. Ke empat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah disatukan dengan begitu saja. Masing masing mempunyai ”keyakinan” teologi yang sering kali sulit untuk didamaikan.
Dari pemikiran tersebut, dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau symbol symbol keagamaan yang masing masing bentuk forma atau symbol symbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan lainnya sebagai salah.
Amin Abdullah mengatakan bahwa pendekatan teologis semata mata tidak dapat memecahkan masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini.
Berkenaan dengan hal diatas, saat ini muncullah apa yang disebut dengan istilah teologi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia untuk memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu penafsiran atas sumber sumber aslinya dan tradisinya dalam konteks permasalahan masa kini, yaitu teologi yang bergerak antara dua kutub : teks dan situasi : masa lampau dan masa kini.
g.        Pendekatan Kebudayaan.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan berarti juga kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur – unsur yang berbeda seperti pengetahuan kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Didalam kebudayaan tersebut yang terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat, dan sebagainya. Semuanya tersebut selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara terus menerus diprlihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.[8]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan.
Dalam studi Islam dikenal adanya beberapa metode yang dipergunakan dalam memahami Islam. Penguasaan dan ketepatan pemilihan metode tidak dapat dianggap sepele. Karena penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang dapat mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya mereka yang tidak meguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu, dan bukan menjadi produsen. Oleh karenanya disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan di bidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan.
Diantara metode studi Islam yang pernah ada dalam sejarah, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua. Pertama, metode komparasi yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. Dengan cara yang demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Kedua metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memandukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, abyektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normative. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan histories, empiris, dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normative digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normative ini seseorang memulainya dari meyakini Islam sebagai agama-agama yang mutlak benar. Hal ini didasarkan karena agama berasal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agama pun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagai norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal.
Metode metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan adanya pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Dalam konteks penelitian, pendekatan pendekatan (approaches) ini tentu saja mengandung arti satuan dari teori, metode, dan teknik penelitian. Terdapat banyak pendekatan yang digunakan dalam memahami agama. Diantaranya adalah pendekatan teologis normative, antropologis, sosiologis, psikolohis, histories, kebudayaan, dan pendekatan filosofis. Adapun pendekatan yang dimaksud disini (bukan dalam konteks penelitian), adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam satu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahman mendasarkan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian filosofi, atau penelitian legalistik.



DAFTAR PUSTAKA
v Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press.
v Abdullah, Amin, dkk. 2003. Rekonstruksi Metodologi Ilmu – Ilmu Keislaman. Yogyakarta : Suka Press.
v Muhaimin. 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta : Kecana Prenada Media.
v Nata, Abuddin. 2004. Metodologi Studi Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
v Ern.pendis.depag.go.id. Psikologi Islam.
v http://miftah19.wordpress.com/2010/01/18/berbagi-cara-pendekatan-studi-islam-bag-4/



[1] Dr. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta : Ciputat Press. 2002), hlm. 99.
[2] http://miftah19.wordpress.com/2010/01/18/berbagi-cara-pendekatan-studi-islam-bag-4/
[3] Amin Abdullah, dkk. Rekonstruksi Metodologi Ilmu – Ilmu Keislaman. (Yogyakarta : Suka Press. 2003), hlm. 176 – 178.
[4] Dr. Armai Arief, M.A. Op. Cit, hlm. 100.
[5] Prof. Dr. Muhaimin, M.A. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. (Jakarta : Kecana Prenada Media. 2005), hlm. 13
[6] Dr. H.M. Atho Mudzar. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1998), hlm. 4
[7] Ern.pendis.depag.go.id. Psikologi Islam.
[8] Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2004), hlm. 49.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar