Rabu, 20 Maret 2019

Prinsip dan Model Pengembangan Kurikulum PAI


PRINSIP DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI

Oleh:
IMAM SYAFI'I, M.Pd.
     RIZQY AMALIA, M.Pd.    


Perkembangan teknologi semakin lama semakin pesat. Hal ini mengakibatkan semakin cepatnya perkembangan pemikiran peserta didik terutama peserta didik di Indonesia. Perkembangan pesat dari teknologi ini juga berdampak pada kualitas pendidikan yang diberikan oleh guru kepada para peserta didik yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi pendidikan juga sudah tidak mendukung lagi. Oleh karena itu kurikulum di indonesia juga sudah kesekian kali diubah untuk menyesuaikan perkembangan pendidikan dengan perkembangan teknologi dan perkembangan peserta didik.
Perubahan-perubahan yang dilakukan pada kurikulum di Indonesia bertujuan untuk menyesuaikan dan mengembangkan pendidikan Indonesia ke kualitas yang lebih baik dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Selain itu perubahan kurikulum juga ditujukan untuk menyesuaikan perkembangan peserta didik.
Namun dalam setiap perubahan kurikulum, sistem kurikulum di indonesia tidak selalu berdampak positif, namun juga ada yang bersifat negatif sehingga diperlukan adanya perbaikan kembali pada sistem pendidikan yang diterapkan pada saat itu.
Dalam makalah ini penulis ingin menguraikan beberapa hal mengenai beberapa kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. Sehingga penulis dan pembaca dapat memahami dan mengambil pelajaran dari rangkuman beberapa kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia.



A.      Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum semula berasal dari istilah yang dipergunakan dalam dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno. Secara bahasa, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “curir” artinya pelari, dan “curere” yang artinya tempat berpacu. Sehingga kurikulum diartikan sebagai jarak yang ditempuh oleh pelari.[1]
Sedangkan menurut istilah pengertian kurikulum dapat didefinisikan sebagai berikut:
1.         J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam bukunya Curriculum Planning for Better Teaching and Learning sebagaimana dikutip oleh Nasution menjelaskan bahwa The curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning, whether in the class room, or the playground, or out of school; Yaitu kurikulum diartikan segala usaha sekolah untuk mempengaruhi pembelajaran, apakah di dalam kelas, atau di halaman ataupun di luar sekolah.[2]
2.         David Pratt mendefinisikan : “A curriculum is an organized set of formal educational and or training intentions”; Yaitu kurikulum diartikan sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan.[3]
3.         Peter F. Oliva mendefinisikan : “ Curriculum is everything that goes on within the school, including extraclass activites, guidance, and interpesonal relationship”; Yaitu kurikulum adalah sesuatu yang terjadi di sekolah termasuk kegiatan ektra kelas, bimbingan dan hubungan antar perseorangan.[4]
4.         Kurikulum dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka.[5]
5.         Selain manhaj kurikulum bisa diartikan dengan istilah muqarrar yang berarti ketetapan yang diwajibkan pada pengajaran siswa dalam madrasah atau di kelas.[6]
Berdasarkan pada definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa kurikulum diartikan tidak secara sempit atau terbatas pada mata pelajaran saja melainkan dapat dipahami bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan jsebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
B.       Pengertian Pengembangan Kurikulum
Sudah disinggung pada awal bab ini bahwa banyak dari para ahli pendidikan yang memberikan formulasi berbeda dalam mengartikan kurikulum. Akan tetapi secara substansial adalah sama yaitu mengarah pada mata pelajaran. Yurmaini Mainuddin memberikan definisi tentang pengembangan kurikulum bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu upaya yang diberikan/disponsori oleh sekolah untuk memberikan pengalaman edukatif dalam menumbuh kembangkan seluruh potensi psikologi dan fisik siswa untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.[7]
J. Hills menyatakan: “curriculum development could be summarised as the planning, implimentation and evaluation of the educational” Pengembangan kurikulum disini menunjuk pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program pendidikan.[8]
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum adalah upaya kegiatan edukatif yang dilakukan oleh sekolah untuk menumbuh kembangkan seluruh potensi siswa dengan merencanakan, melaksanakan dan menilai apa yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
C.      Asas-asas Pengembangan Kurikulum
Dalam kegiatan pengembangan kurikulum didasarkan atas asas-asas yang dijadikan dasar pertimbangan, yakni:
a.         Asas filosofis
Falsafah sebagai dasar dalam mengembangkan kurikulum, karena pada hakikatnya menentukan tujuan umum pendidikan sesuai dengan falsafah yang dianut oleh negara masing-masing seperti religius atau sekuler, demokratis atau otoriter akan mempunyai tujuan tersendiri dan menentukan bahan pelajaran yang khas untuk mewujudkan tujuan itu.[9]
b.         Asas sosiologis
Asas ini sebagi dasar untuk menentukan apa yang akan dipelajari harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[10] Masyarakat yang berbeda maka kurikulumnya akan berbeda satu dengan yang lain seperti masyarakat industri atau agraris berbeda dengan masyarakat modern/tradisional, daerah pegunungan berbeda dengan masyarakat pantai dan lain sebagainya.
c.         Asas organisatoris
Asas ini berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang bentuk penyajian mata-mata pelajaran yang harus disampaikan kepada anak.[11] Kurikulum yang organisasinya bersifat subject centered, yakni disusun menurut mata pelajaran yang terpisah-pisah akan berbeda sekali dengan kurikulum yang organisasinya bersifat unit yang mengintegrasikan semua bahan pelajaran.
d.        Asas Psikologi
Asas psikologi memberikan prinsip-prinsip tentang perkembangan anak dalam berbagai aspek serta caranya belajar agar bahan yang disediakan mudah dicerna dan dikuasai oleh anak sesuai dengan taraf perkembangannya.[12]
D.      Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum dikembangkan berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:
1.         Inevitability of Change
As a point of departure, it has already been postulated that change is both invitable and necessary, for it is through change that life forms grow and develop.[13] Aksioma 1 sebagai langkah permulaan, itu telah mendalilkan bahwa perubahan adalah perlu dan tidak dapat dihindarkan, oleh karenanya melalui perubahan, hidup tumbuh dan berkembang. Dalam hal ini manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka untuk bereaksi terhadap perubahan yang terjadi dan untuk menyesuaikan ke kondisi yang berubah-ubah. Sehingga masyarakat dan institusi nya secara terus menerus menghadapi permasalahan yang harus mereka jawab (pecahkan) atau binasa apabila tidak dapat merespon permasalahan yang muncul.
2.         Curriculum as a Product of ItsTime
The second axiom is a corollary of the first axiom. Quite simply, a school curriculum not only reflects but is a product of its time.[14] Dengan sederhana suatu kurikulum sekolah tidak hanya mencerminkan tetapi adalah suatu hasil dari waktu (perubahan) yang sudah ada. Dengan demikian kurikulum adalah hasil dari perubahan yang terjadi pada waktu itu untuk menyesuaikan tuntutan masyarakat yang dibutuhkan pada saat itu.
3.         Concurrent Changes
Curriculum changes made at an earlier period of time can exist concurrently with never curriculum changes at a later period of time.[15] yakni perubahan Kurikulum dapat dilakukan lebih awal pada saat suatu kurikulum ada atau perubahan kurikulum dapat dilakukan bersamaan pada saat kurikulum sudah ada (dilaksanakan). Dalam hal ini revisi kurikulum harus dilaksanakan meskipun tiba-tiba, namun biasanya pengembang kurikulum melaksanakannya secara bertahap secara berangsur-angsur dan menghapus setahap demi setahap apa yang sudah ada, meski merupakan tugas yang sulit namun namun hal itu merupakan tantangan bagi mereka.
4.         Change in People
Curriculum change results from changes in people.[16] Perubahan Kurikulum diakibatkan oleh perubahan pada manusia. Dalam hal ini pengembang kurikulum harus memulai suatu usaha untuk merubah orang yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perubahan kurikulum. Usaha ini melibatkan orang-orang dalam proses pengembangan kurikulum untuk memperoleh komitmen mereka kepada perubahan itu.
5.         Coorperative Endeavor
Curriculum improvement is effected as a result of cooperative endeavor on the part of groups,[17] yakni Peningkatan Kurikulum diakibatkan sebagai hasil usaha kerjasama pada pihak kelompok. Jadi peningkatan atau keberhasilan kurikulum adalah hasil kerja sama berbagaii pihak baik perencana, masyarakat, siswa dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap keberhasilan kurikulum.


6.         Decision-Making Process
Curriculum development is basically a decision-making process.[18] Yakni, Pengembangan Kurikulum pada dasarnya suatu proses pengambilan keputusan.
E.       Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai suatu sistem keseluruhan memiiki komponen yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yakni : a). Tujuan, b). Isi (materi) c). Strategi belajar mengajar, d). Media mengajar e). Evaluasi /penilaian.[19]
1.         Tujuan
Ada dua tujuan yang terdapat dalam sebuah kurikulum sekolah, yakni sebagai berikut :
a.         Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruhan.
Tujuan ini biasanya meliputi aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, Sikap dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki oleh para lulusan, Sekolah yang bersangkutan. Itulah sebabnya tujuan ini disebut tujuan institusional/kelembagaan, Penyelenggaraan tujuan pendidikan menengah bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan demokratis, menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos dan budaya kerja, dan dapat memasuki dunia kerja atau mengikuti pendidikan lebih lanjut.[20]
b.        Tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi.
Tujuan ini adalah penjabaran tujuan institusional di atas yang meliputi tujuan kurikulum dan instruksional yang terdapat dalam setiap GBPP tiap bidang studi. Baik tujuan kurikulum maupun instruksional juga mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan sikap, dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki anak setelah mempelajari tiap bidang studi dan pokok bahasan dalam proses pengajaran.
Tujuan kurikulum meliputi:[21]
1.        Tujuan Umum
Dalam tujuan ini kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai target tujuan pendidikan nasional khususnya dan sumber daya manusia yang berkualitas umumnya.
2.        Tujuan Khusus
Tujuan khusus disebut juga tujuan mata ajaran. Isi (materi) Komponen isi berupa materi yang di programkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Isi atau materi tersebut biasanya berupa materi-materi bidang studi.[22]
Materi kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.        Materi kurikulum berupa bahan pembelajaran yang terdiri dari bahan kajian/topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses belajar dan pembelajaran.
2.        Materi kurikulum mengacu pada pencapaian tujuan masing-masing satuan pendidikan.
3.        Materi kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional merupakan target tertinggi yang hendak dicapai melalui penyampaian materi kurikulum.[23]

F.       Sejarah Perkembangan Kurikulum Indonesia
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004 dan 2006.[24]
a.         Kurikulum Rencana Pelajaran (1947-1968)
1.        Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum yang digunakan di Indonesia pra kemerdekaan dipengaruhi oleh tatanan sosial politik Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaran yang berkembang saat itu. Pertama, sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan perantren. Kedua, sistem pendidikan Belanda. Sistem pendidikan belanda pun bersifat diskriminatif.
2.        Rencana Pelajaran Terurai 1952
Ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
3.        Kurikulum Rencana Pendidikan 1964
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Kurikulum 1964 juga menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana. Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
Cara belajar dijalankan dengan metode disebut gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II tanun 1960. Kurikulum 1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang studi (Pancawardhana).
4.        Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 memiliki perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Kurikulum 1968 bertujuan agar  pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 disebut sebagai kurikulum bulat. Karena kurikulum ini hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
b.         Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975-1994)
1.        Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan prinsip-prinsip di antaranya sebagai berikut.
1)      Berorientasi pada tujuan. Pemerintah merumuskan tujuan-tujuan yang harus dikuasai oleh siswa yang lebih dikenal dengan khirarki tujuan pendidikan.
2)      Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
3)      Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
4)      Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
5)      Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (Drill). Pembelajaran lebih banyak menggunaan teori Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam belajar ditentukan oleh lingkungan dengan stimulus dari luar, dalam hal ini sekolah dan guru.
2.        Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1)      Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.
2)      Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3)      Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
4)      Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
5)      Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
6)     Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajar-mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.
3.        Kurikulum 1994
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:
1)      Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Diharapkan agar siswa memperoleh materi yang cukup banyak.
2)      Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3)      Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum inti untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
4)      Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
5)      Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah siswa.
6)      Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
7)      Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
c.         Kurikulum Berbasis Kompetensi dan KTSP
Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Lahir sebagai respon dari tuntutan reformasi diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan.j pendidikan nasional.
KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru, yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge, understanding, skill, value, attitude, dan interest. Dengan mengembangkan aspek-aspek ini diharapkan siswa memahami, mengusai, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari materi-materi yang telah dipelajarinya.
Sedangkan KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:
1)      Kerangka dasar dan struktur kurikulum,
2)      Beban belajar,
3)      Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
4)      Kalender pendidikan.
d.        Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dirancang baik dalam bentuk dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan.
Konten pendidikan dalam SKL dikembangkan dalam bentuk kurikulum satuan pendidikan dan jenjang pendidikan sebagai suatu rencana tertulis (dokumen) dan kurikulum sebagai proses (implementasi). Dalam dimensi sebagai rencana tertulis, kurikulum harus mengembangkan SKL menjadi konten kurikulum yang berasal dari prestasi bangsa di masa lalu, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengarahkan peserta didik menjadi: 1)      Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; 2)      Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; 3)      Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.



DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyanto, Burhan. 1988. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah. Yogyakarta: BPFE.

Pratt, David. 1980. Curriculum: Design and Development, San Diego: Harcourt Brace Jovanovich.

Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2004. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2004 Untuk Madrasah, Jakarta: DEPAG RI.

Ahmad, M. dkk. 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Pustaka Setia.

Basir, M. Muzammil. dan Said, M. Malik. 1995. Madkhola ila al-Manhaj wa Turuqu al-Tadris. Daru al-Liwa’ Linnasyri wa al-Tauzik: Mamlakah Arabiyah Su’udiyah.

Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Muhammad, Omar. 1984. Filsafat Pendidikan Islam. (terj. Hassan Langgulung), Jakarta: Bulan Bintang.

Hills, P. J. Adictionary of Education. London: Routledge A Kegan Paul.

Olive, Peter F. 1982. Developing the Curriculum, Boston: Little, Brown and Company.

Nasution, S. 2001. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution, S. 1993. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Subandijah. 1992. Pengembangan dan inovasi kurikulum. jakarta: Raja Grafindo persada.

Sudjana, Nana. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1991.

Mainudin, Yurmaini. 1994. Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum yang menjiwai Tercapainya Lulusan yang Kreatif dalam Konveksi Nasional Pendidikan II, Kurikulum untuk Abad 21. Jkarta: Grasindo.


[1] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1991), hlm. 4.
[2] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), Cet.4, hlm. 4-5.
[3] David Pratt, Curriculum : Design and Development, (San Diego: Harcourt Brace Jovanovich, 1980), hlm. 4
[4] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, (Boston: Little, Brown and Company, 1982), hlm. 6.
[5] Omar Muhammad, Filsafat Pendidikan Islam, (terj. Hassan Langgulung), (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 478.
[6] M. Muzammil Basir dan M. Malik Said, Madkhola ila al-Manhaj wa Turuqu al-Tadris, (Daru al-Liwa’ Linnasyri wa al-Tauzik: Mamlakah Arabiyah Su’udiyah, 1995), hlm. 16.
[7] Yurmaini Mainudin, Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum yang menjiwai Tercapainya Lulusan yang Kreatif dalam Konveksi Nasional Pendidikan II, Kurikulum untuk Abad 21, (Jkarta: Grasindo, 1994), hlm. 48.
[8] P. J. Hills, Adictionary of Education, (London: Routledge A Kegan Paul, 1982), hlm. 22.
[9] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), Cet. v, hlm. 1.
[10] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, . . . , hlm. 2.
[11] Burhan Nurgiyanto, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Yogyakarta: BPFE, 1988), hlm. 16.
[12] S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, . . . , hlm. 2.
[13] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 30.    
[14] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 31.
[15] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 33.
[16] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 36.
[17] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 37.
[18] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 38.
[19] Peter F. Olive, Developing the Curriculum, . . . , hlm. 3.
[20] Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2004 Untuk Madrasah, (Jakarta: DEPAG RI, 2004), hlm. 9.
[21] M. Ahmad, dkk., Pengembangan Kurikulum, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Cet. 1, hlm. 104.
[22] Subandijah, Pengembangan dan inovasi kurikulum, (jakarta: Raja Grafindo persada, 1992), hlm. 5.
[23] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), Cet. 3, hlm. 37.
[24] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, . . . , hlm. 70.

Media Boneka Tangan