Minggu, 06 Oktober 2013

Mandi Jinabah, Haidh, Nifas dan Istihadlah

PEMBAHASAN
MANDI JINABAH, HAIDH, NIFAS, DAN ISTIHADLAH

1.      Mandi Wajib
Mandi wajib yaitu mengalirkan air ke seluruh badan dengan niat yang ditentukan.                                                                
      ألغسل ھوسيلا ن الماءﻋﻟﻰ جميع البد ن بنية مخصوصة                                                       
Sesuai dengan firman Allah SWT, yang artinya :
     “…Apabila kamu junub hendaklah bersuci..” (QS.Al Maidah : 6)
A.    Hal-hal yang menyebabkan wajib mandi
Sebab-sebab yang mewajibkan ada 6 sebab, tiga diantaranya biasa terjadi pada laki-laki dan perempuan dan tiga tertentu khusus pada perempuan saja.
1)      Keluar air mani
Sesuai sabda Rasul yang artinya : “ Dari Ummi Salamah, sesungguhnya Ummi Sulaim telah bertanya kepada Rasulullah SAW. katanya kepada beliau, Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu memperkatakan yang hak, Adakah wajib mandi atas perempuan apabila bermimpi? Jawab beliau, Ya (wajib atasnya mandi) apabila ia melihat air” artinya keluar air mani. Sepakat ahli hadits.
|عن ام سلمۃام سليم قالت يارسول اللھأن اللھ لاﻳﺴﺗﯥ من اﻟقھل علۍالمرأۃالغسل إذااتلت؟ قال نعم إذارأت الماء.
(ﻤﭡق عليھ)       
2)      Bersetubuh
Sesuai sabda Nabi yang artinya “Apabila bertemu  dua penyunatan (khitan), maka sesungguhnya telah diwajibkan mandi meskipun tidak keluar mani.”
قال رسول اللھ صلۍ اللھ عليھ وسلم إذاالتقۍ الختانان فقدوجب  الغسل وإن لم ينزل. (روا٥امسلم)                                                           
3)      Sebab Mati
Orang islam yang mati fardhu kifayah atas muslimin yang hidup memandikannya terkecuali orang yang mati syahid. Sesuai sabda Nabi :

قال اﻠﻧﺒﯥ صلۍ اللھ عليھ وسلم ﻓﻰﺍﻠﻘﭡﻟﻰﺃﺤﺪﻻﭡﻐﺴﻠﻭﺍﻫﻢ. (روا٥ﺃﺤﻣﺪ)     
“Kata beliau dalam peperangan uhud tentang orang mati…” jangan kamu memandikan mereka.” HR. Ahmad.                                              
4)      Sebab Haidh
Apabila seorang perempuan telah berhenti dari kain kotor, ia wajib mandi agar ia dapat sembahyang dan dapat campur dengan suaminya, juga dengan mandi itu badannya dapat segar dan sehat kembali.
5)      Sebab Nifas
Yaitu darah yang keluar setelah melahirkan anak dari kemaluan perempuan. Darah itu darah haid yang berkumpul dan tidak keluar sewaktu perempuan itu mengandung.
6)      Sebab Melahirkan
Baik anak yang dilahirkan itu cukup umur atau tidak, seperti keguguran.



B.      Fardhu (Rukun) Mandi
1.      Niat.
Orang yang junub hendaklah berniat (menyengaja) menghilangkan hadast junubnya, perempuan yang baru habis (selesai) haid, hendaklah berniat menghilangkan hadast kotorannya dan seterusnya.
2.      Menyampaikan air ke seluruh badan.
ﺘﻌﻤﯿﻢﺠﻣﯿﻊﺍﻟﺒﺪﻥﺒﺍﻠﻤﺍﺀﻤﻊﺍﻟﻨﺔ  (ﺸﺮﺡﺤﺪﯿﺚﺠﺮﯿﻞ:٤٨﴾               
3.      Menghilangkan perkara yang najis diatas badan.

C.     Sunnah-Sunnah Mandi
1.      Membaca “Bismillah” pada permulaan mandi.
2.      Memakai siwak.
3.      Membasuh telapak tangan.
4.      Berwudhu sebelum mandi.
5.      Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan.
6.      Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.
7.      Berturut-turut.

D.    Hal-hal yang dilarang bagi orang junub
1.      Sholat.
2.      Membaca Al-Quran.
3.      Menyentuh muskhaf dan membawanya.
4.      Thowaf disekitar ka’bah.
5.      Masuk masjid (kalau khawatir mengotori masjid).



Darah yang keluar dari farji wanita ada tiga macam, yaitu Haidh, Nifas, dan Istihadhoh.
2.      Haidh
Yaitu darah yang keluar dari farji seorang perempuan setelah umur 9 tahun, dengan sehat (tidak terkena sakit), tetapi memang watak /kodrat wanita dan tidak setelah melahirkan anak. [1]
Haidh adalah salah satu najis yang menghalangi wanita untuk melaksanakan ibadah sholat dan puasa, maka setelah selesai haidh kita harus bersuci dengan cara yang lebih dikenal dengan sebutan mandi haidh                                                         
          ﺃﻤﺍﺍﻟﺤﯿﺾ ﻓﻬﻭﺍﻟﺪﻢﺍﻟﺫﻱﻴﺧﺮﺝ ﻤﻦﺮﺣﻢﺍﻟﻤﺮﺃﺓﻋﻟﻰﺴﺑﻳﻞﺍﻟﻌﺍﺪﺓ ﻭﺍﻟﺼّﺤﺔ..
 ﴿ﺍﻟﻓﻘﻪﺍﻟﻭﺍﻀﻊ: ٢٠  )
  ﺍﻟﺤﻴﺽ:ﺪﻡﺟﺒﻟّﺔﻴﺨﺮﺝﻤﻥﺃﻗﺼﻰﺮﺤﻡﺍﻟﻣﺮﺃﺓﻓﻰﺃﻭﻗﺍﺕﻤﺨﺼﻭﺼﺔﻋﻟﻰﺴﺑﻳﻞ
ﺍﻟﺼﱠﺤﱠﺔ           (ﺸﺮﺡ ﺣﺪﻳﺚﺟﺑﺮﻳﻞ:٤ ٥)                            
Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir, menurut istilah syara’ ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu. Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah normal, maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan, dan iklimnya sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita.
Adapun hikmahnya, bahwa janin yang ada didalam kandungan ibu ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang diamakan oleh anak yang berada diluar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untukya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik-baik Pencipta , inilah hikmah haidh. Karena itu apabila seorang sedang dalam keadaan hamil, tidak mendapatkan haidh lagi kecuali jarang sekali. Demikian pula wanita yang menyusui sedikit haidh, terutama pada awal masa penyusuan. 
Sifat Darah Haidh
Warna darah haidh ada 5 macam :
1.      Hitam (warna ini paling kuat)
2.      Merah
3.      Abu-abu (antara merah dan kuning)
4.      Kuning
5.      Keruh (antara kuning dan putih)
Maka kalau ada cairan keluar dari farji perempuan tetapi warnanya bukan salah satu dari warna yang lima tersebut, seperti cairan putih yang keluar sebelum dan sesudah haidh atau ketika sakit keputihan, maka jelas ini bukan haidh, tetapi sama dengan kencing. Oleh karena itu jika keluar terus menerus maka tetap diwajibkan sholat, dengan cara yang akan diterangkan pada bab istihadhoh.
Sedangkan sifat-sifat darah (selain warnanya) ada 4 macam :
1.      Kental
2.      Berbau (bacin=jawa)
3.      Kental sekaligus berbau
4.      Tidak kental dan tidak berbau
Darah yang hitam kuat serta kental adalah lebih kuat dibandingkan dengan darah hitam yang tidak kental. Darah hitam yang berbau lebih kuat dibandingkan darah hitam yang tidak berbau atau berbau tapi tidak kental. Begitulah seterusnya pada macam-macam darah yang lain.[2]
Kalau darah yang keluar ada dua macam dan sama kuatnya, seperti darah hitam-encer dan merah-kental, maka darah yang lebih dulu keluar adalah lebih kuat.[3]
Umur Haidh
ﻮﺃﻗﻞﺳﻦﺗﺤﻳﺾﻓﻳﻬﺍﺍﻟﻤﺭﺃﺓﺗﺳﻊﺳﻧﻳﻥﻮﺃﻘﻞﻣﺪﺓﺍﻟﺤﻳﺽﻳﻮﻡﻭﻟﻳﻟﺔﻭﺃﻂﻭﻞﻣﺪﺘﻪ
ﺧﻤﺴﺔﻋﺷﺮﻴﻮﻤﺍ ﻮﺃﻏﻠﺒﻪ ﺴﺗﺔﺃﻳﺍﺍﻢﺃﻭﺴﺒﻌﺔﺃﻳﺍﻢﻭﺇﻥﺗﺟﺍﻭﺯﺪﻢ
ﺍﻠﺤﻴﺾﻋﻥﺨﻣﺳﺔﻋﺷﺭﻳﻭﻣﺍﻓﻬﻮﺍﺳﺤﺍﻀﺔ     (ﺍﻠﻓﻘﻪﺍﻠﻭﻀﺢ)   

Seorang wanita mungkin mengalami haidh jika sudah berumur 9 tahun (taqriban) yaitu tidak harus sudah sempurna 9 tahun, tetapi boleh kurang, asal kurangnya tidak sampai 16 hari, jadi kalau mengeluarkan darah sudah termasuk darah haidh apabila darah tersebut memenuhi 3 syarat bagi darah haidh yaitu :
1.      Tidak kurang dari 24 jam
2.      Tidak lebih dari 15 hari
3.      Bertempat pada waktu mungkin/bisa haidl.
Adapun jika mengeluarkan darah sebelum umur tersebut maka itu bukan darah haidl tetapi darah istihadhoh, jadi bila masih berumur 9 tahun kurang dari 16 hari atau lebih, mengeluarkan darah maka itu jelas darah istikhadhoh.[4]
3.      Nifas
   ﺍﻟﻧﻔﺍﺲﻫﻭﺍﻟﺪﻢﱡﺍﻟﺧﺍﺮﺝﻤﻦﺍﻟﺮﱠﺤﻢﻋﻗﺐﺍﻟﻭﻻﺪﺓ, ﻭﺃﻘﻠﱠﻪﻠﺤﻆﺔ ﻭﻏﺍﻠﺑﻪﺃﺮﺑﻌﺪﻦﻳﻭﻤﺍ,   ﻟﻭﺍﻧﻗﻄﻊﻔﻲﺃﺛﻧﺍﺌﻪﺨﻣﺴﺔﻋﺷﺮﻴﻭﻤﺍﻔﺃﮐﺮﻔﻤﺍﺑﻌﺪﻩﺤﻳﺾﺍﻭﺍﻘﻞﻣﻥﺫﺍﻠﻚﻔﻬﻭﺑﻗﻳﱠﺔﺍﻠﻧﻓﺍﺲ    ﺍﻠﻰﺍﻠﺴﺗﻴﻦ.  ﻭﺇﺬﺍﺠﺍﻮﺰﺪﻡﺍﻠﺤﻴﺾﻭﺍﻠﻧﱢﻓﺍﺲﺍﮐﺜﺮﻫﻣﺍﻓﻬﻭﺍﺴﺗﺤﺍﻀﺔ                                                   ﻭﻠﻬﺍﺍﺤﮐﺍﻢﻄﻭﻳﻠﺔﻣﺪﮐﻭﺮﺓ ﻔﻰﺍﻠﻤﻃﻭﻻﺖ.     
Yaitu darah yang keluar dari farji wanita setelah melahirkan, yakni setelah kosongnya rahim (kandungan) dari anak yang dikandung, meskipun masih berupa darah menggumpal (alaqoh) atau daging yang menggumpal (mudghoh) waktu keluarnya darah tadi sebelum melewati 15 hari dari melahirkan (wiladah).
Oleh karena itu darah yang keluar antara 2 anak kembar bukan darah nifas, tetapi darah haidl kalau memenuhi syarat-syarat haidl (tidak kurang dari 24 jam, tidak melebihi 15 hari dan keluar pada masa boleh haidl). Tetapi kalau tidak memenuhi syarat haidl maka termasuk darah rusak (istihadhoh).
      Begitu juga halnya darah yang keluar karena sakit waktu melahirkan atau menyertai keluarya anak, semua bukan darah nifas tetapi darah haidl kalau memenuhi syarat haidl, seperti seandainya bergandengan dengan haidl sebelumnya.
      Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya.[5]
      Nifas itu paling sedikit setetes darah (majjah), artinya asal ada darah yang keluar meskipun sedikit sudah dinamakan nifas. Pada umumnya lama nifas 40 hari dan paling lama 60 hari.
      Oleh karena itu kalau darah nifas berlangsung melebihi 60 hari, maka termasuk istihadhoh didalam nifas (istihadhoh fin-nifas), yakni sebagian nifas, sebagian darah rusak (suci) dan sebagian haidl.
      Namun apabila tidak melebihi 60 hari maka seluruhnya adalah darah nifas meskipun bermacam darah dan tidak sama dengan adatnya.

Perkara yang haram bagi wanita haidl dan nifas
            Wanita yang haidl atau nifas diharamkan menjalankan :
1.      Sholat, tidak wajib qodho bahkan haram
2.      Sujud syukur
3.      Sujud tilawah
4.      Thowaf
5.      Puasa, tetapi wajib qodho (Ramadhan)
6.      I’tikaf (diam didalam masjid)
7.      Masuk masjid kalau khawatir mengotori masjid
8.      Membaca Alquran
9.      Menyentuh Alquran
10.  Menulis Alquran (menurut satu pendapat)
11.  Bersuci
12.  Mendatangi orang sakarotul maut (tambahan dari Al-Muhamili)
13.  Bersetubuh
14.  Dijatuhi thalaq
15.  Dibuat senang (istimta’) tubuhnya antara pusar dan lututnya.
Orang haid atau nifas itu diharamkan bersuci karena mempermainkan ibadah. Oleh karena itu kalau ada wanita melahirkan lalu mengeluarkan darah nifas sebelum ia mandi wiladah, maka selama keluarnya darah nifas diharamkan untuk mandi wiladah. Begitu juga halnya dengan seorang istri yang baru bersetubuh, sebelum mandi jinabah tiba-tiba kedatangan haidl, maka selama haidl belum berhenti, haram untuk mandi jinabah.
Faedah : orang yang haidl atau nifas juga diharamkan mandi untuk ibadah misalnya mandi jumat kecuali beberapa mandi haji dan yang serupa seperti mandi hari raya dan mandi untuk mendatangi perkumpulan itu tidak haram.[6] 
4.      Istihadhoh
ﺍﻹﺴﺘﺤﺍﻀﺔﻫﻲﺍﻠﺪﻢﺍﻠﺨﺍﺮﺝﻠﻌﻠﺔﻤﻥﺍﺪﻧﻰﺍﻠﺮﺤﻢﻓﻰﻏﻳﺮﺍﻴﺍﻡﺍﻠﺤﻳﺾﻮﻏﻳﺭﺍﻴﺍﻢﺍﻠﻧﻓﺍﺲ
 ﻮﻣﻥﺨﺮﺝﺩﻤﻬﺍﻋﻥﺍﻻﺴﺘﻗﺍﻣﺔﻓﻤﺴﺘﺤﺍﺿﺔﻭﺼﻮﺮﻫﺍﺳﺒﻌﺔﻷﻧﻬﺍﺍﻤﺍﻣﺒﺗﺪﺃﺓﻤﻤﻴﺯﺓﺃﻭﻤﺑﺘﺪﺃﺓ
ﻏﻴﺮﻤﻤﻴﺯﺓﻭﺃﻤﺍﻣﻌﺗﺍﺪﺓﻣﻣﻳﺰﺓﻭﻣﻌﺗﺍﺪﺓﻏﻴﺮﻤﻤﻴﺯﺓﺬﺍﮐﺮﺓﻟﻌﺍﺪﺗﻬﺍﻗﺪﺭﺍﻭﻭﻘﺗﺍﺍﻭﻧﺍﺳﻴﺔﻟﻬﺍ
            ﻗﺪﺮﺍﻭﻭﻗﺘﺍﺃﻭﺬﺍﮐﺭﺓﻠﻠﻗﺪﺭﺪﻭﻦﺍﻟﻮﻗﻰﺍﻭﺑﺍﻠﻌﮐﺲﺃﻮﺫﺍﮐﺮﺓﺍﻠﻠﻭﻗﻰﺪﻮﻦﺍﻟﻗﺩﺭ                                                              (ﻓﺘﺢﺍﻟﻌﻼﻢ, ﺠﺰﺀﺃﻮﻞ: ٣٨٦)
Istihadhoh yaitu darah selain haid dan nifas, yaitu darah yang tidak memenuhi syarat-syarat darah haidl dan nifas.
Sudah diterangkan bahwa darah yang tidak memenuhi persyaratan darah haid yaitu : darah yang keluar sebelum umur 9 tahun tetapi pada masa tidak boleh haid atau tidak mencapai 24 jam atau melebihi 15 hari, namun tidak berarti jika darah keluar melebihi 15 hari, maka dianggap haidlnya 15 hari selebihnya istihadhoh. Akan tetapi masih campur, yakni sebagian haidl, sebagian istihadhoh. Wanita yang mengeluarkan darah lebih 15 hari itu dinamakan istihadhoh sedangkan ketentuannya dilihat dulu masuk golongan mustahadhoh (orang istihadhoh) yang mana?[7]
Macam-macam orang istihadhoh itu ada 7, sebab orang istihadhoh itu ada kalanya baru sekali mengeluarkan darah/belum pernah haidl dan suci langsung 15 hari (mubtada’ah) atau sudah pernah haid dan suci (mu’tadah) dan ada kalanya darahnya dua warna atau lebih/kuat dan lemah serta dapat membedakan (mumayyizah) atau hanya satu macam darah atau tidak dapat membedakan (ghoiru mumayyizah) dan ada kalanya ia ingat akan kebiasaanya (dzakirotun li’adatiha) atau lupa kepada kebiasaanya (nasiyatun li’adatiha)
Jadi 7 macam tadi yaitu :
1.      mubtada’ah mumayyizah
2.      mubtada’ah ghoiru mumayyizah
3.      mu’tadah mumayyizah
4.      mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakirotun li’adatiha qodron wa waqtan
5.      mu’tadah ghoiru mumayyizah nasiyatun li’adatiha wa waqtan
6.      mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakirotun li’adatiha qodron la waqtan
7.      mu’tadah ghoiru mumayyizah dzakirotun li’adatiha waqtan la qodron


PENUTUP

Kesimpulan :
1.       Mandi jinabah yaitu mandi dengan menggunakan air suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat.
2.       Haidh adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu. Jadi haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran.
3.       Nifas ialah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya ( 2 atau 3 hari) yang disertai dengan rasa sakit.
4.       Istihadhoh yaitu darah selain haid dan nifas, yaitu darah yang tidak memenuhi syarat-syarat darah haidl dan nifas.
Saran :
Kaum wanita wajib belajar tentang hukum-hukum haid, nifas, dan istihadhoh yang dibutuhkan. Jika sudah punya suami dan suaminya mengerti hokum-hukum yang dibutuhkan tersebut, wajib mengajari istri, adapun jika suaminya tidak mengerti, maka istrinya wajib pergi untuk belajar kepada orang yang mengerti dan suaminya haram untuk mencegahnya, kecuali suaminya yang belajar kemudian diajarkan pada istrinya. ( ket. Syarwani juz 1, hal.414)
Hal ini harus kita perhatikan sungguh-sungguh, sebab masih banyak sekaliwanita yang sudah haid/nifas/istihadhoh belum mengerti tentang hukum-hukum yang penting ini. Bahkan banyak yang sudah berumah tangga, baik yang laki-laki atau perempuan sama sekali belum mengerti tentang hal ini, padahal bab ini sangat kuat hubungannya dengan sholat, puasa, mandi, hubungan suami istri, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya

Al – Bajuri, Juz 1

Al – Jamal, Juz 1

Fatkhul ‘Anam, Juz 1

Syarkhun Khadits Jibril

Al – Fiqhi Al - Waadhih



[1] Kitab Bajuri juz 1, hal 107

[2] Al-Bajuri Juz 1 hal 108
[3] Al-Jamal Juz 1 hal 242
[4] Al-Bajuri Juz 1 hal 108
[5] Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya hal.37
[6] Al-Jamal juz 1 hal 237 dan 239
[7] Al Bajuri juz 1 hal.109

Tidak ada komentar:

Posting Komentar