Selasa, 09 Agustus 2016

STRATEGI PEMBELAJARAN MORAL, NILAI, KARAKTER, AKHLAK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

STRATEGI PEMBELAJARAN MORAL, NILAI, KARAKTER, AKHLAK
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Studi Problem dan Rancangan Strategi Pembelajaran Akhlak dalam PAI)

Oleh:
IMAM SYAFI’I (2052115026)
Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam
STAIN Pekalongan
2016
ABSTRAK
Pembinaan moral, nilai, karakter dan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan innama bu’itstu liutammima makarim al-akhlaq (HR Ahmad), yang artinya hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif analisis kritis dengan jenis penelitian pustaka (library research). Sedangkan pengumpulan data dengan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis isi (content analisys) menurut Weber yang dikutip oleh Soejono dan Abdurrohman yang mana memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan isi.
Berdasarkan analisis yang didukung dalil-dalil Al-Qur’an dan al-Hadits, kita dapat mengatakan bahwa Islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pembinaan moral, nilai, karakter dan akhlak yang menunjukkan bahwa pembinaan moral, nilai, karakter dan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integrated, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pembinaan moral, nilai, karakter dan akhlak.
Pembinaan moral, nilai, karakter dan akhlak secara efektif dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina. Untuk itu ajaran moral, nilai, karakter dan akhlak dapat disajikan dalam berbagai bentuk metode, seperti metode pembiasaan, metode keteladanan, metode mauidhoh hasanah dan metode cerita.

Kata kunci : Nilai, Moral, Karakter dan Akhlak, Strategi serta PAI
Jika kita mau merenungkan secara seksama, bahwa persoalan yang melilit bangsa ini sebenarnya adalah menyangkut akhlak, moral dan etika. Ketika seseorang terlalu mencintai jabatan, maka ia akan rela mengeluarkan uang berapapun jumlahnya. Maka, maka uang dianggap menjadi sangat penting. Tanpa uang jabatan tidak akan diperoleh.
Kecintaan terhadap harta yeng sedemikian mendalam, hingga tatkala memilih sekolah pun yang dijadikan pertimbangan adalah sekolah atau bidang ilmu yang mendatangkan banyak uang. Apapun selalu dikaitkan dengan uang. Padahal terlalu mencintai jabatan, harta, uang dan sejenisnya, pada hakikatnya adalah bagian dari akhlak yang kurang baik. Dalam pandangan Islam, orang yang terlalu mencintai jabatan dan harta disebut sebagai hubbul jah dan hubbul mal.
Oleh karena persoalan tersebut, maka cara menanggulanginya adalah juga melalui pembenahan akhlak. Akhlak bangsa ini harus diperbaiki. Caranya adalah melalui pendidikan yang benar. Pendidikan yang benar sebetulnya telah dicontohkan oleh Rasulullah. Tinggal mau atau tidak melaksanakannya. Nabi Muhammad saw berhasil membangun masyarakat Madinah juga menggunakan pendekatan Akhlak, hingga sampai-sampai dikatakan bahwa, ia diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
A.      Makna Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak
Kata karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) berarti; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Sedangkan karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas memiliki makna; bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun makna berkarakter adalah; berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabi’at, dan berwatak. Jadi, dapat dikatakan bahwa individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Allah swt.
Menurut etimologi bahasa Arab, akhlak adalah bentuk masdar (infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang memiliki arti perangai (as-sajiyah); kelakuan, tabi’at, atau watak dasar (ath-thabi’ah); kebiasaan atau kelaziman (al-‘adat); peradaban yang baik (al-muru’ah); dan agama (ad-din).[1]
Kata khuluqu juga ada yang menyamakannya dengan kesusilaan, sopan santun, serta gambaran sifat bathin dan lahiriah manusia.[2]
Sedangkan secara terminologi ulama sepakat mengatakan bahwa akhlak adalah hal yang berhubungan dengan perilaku manusia. Namun ada perbedaan ulama menjelaskan pengertiannya. Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3] Sedangkan Muhammad Abdullah Darraz mendefinisikan akhlak sebagai sesuatu kekuatan dari dalam diri yang berkombinasi antara kecenderungan pada sisi yang baik (akhlaq al-karimah) dan sisi yang buruk (akhlaq al-madzmumah).[4]
Kemudian menurut pemahaman Ibn Maskawaih, yang menekankan bahwa akhlak adalah perbuatan yang dilakukan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan, maka pendidikan akhlak menjadi upaya melahirkan manusia berkepribadian muslim yang mudah untuk melaksanakan ketentuan hukum dan ketetapan syari’at yang diperintahkan, dan sikap taat tersebut selalu menjadi karakter ketika berhadapan dengan ketentuan agama, tanpa banyak alasan untuk tidak melaksanakannya.[5]
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan nilai sifat yang tertanam dalam diri jiwa manusia yang dapat menghasilkan perbuatan baik dan buruk secara spontan tanpa adanya pemikiran maupun dorongan dari luar dirinya.
B.       Perbedaan Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa kata nilai berarti banyak sedikitnya isi; kadar; mutu; sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.[6] Sedangkan nilai dalam bahasa Inggrisnya adalah value, berasal dari kata valere dalam bahasa Latin atau valoir dalam bahasa Prancis Kuno, yang biasa diartikan sebagai ‘harga’, ‘penghargaan’, atau ‘taksiran’. Maksudnya adalah harga yang melekat pada sesuatu atau penghargaan pada sesuatu.[7]
Nilai berkaitan erat dengan istilah-istilah lain, antara lain dengan norma, moral, adat istiadat, kenyakinan dan lain-lain. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah nilai sering kali dicampuradukkan dengan norma dan moral. Sebagai ilustrasi tentang kaitan antara nilai dan norma adalah bahwa kejujuran itu merupakan nilai, sedangkan undang-undang anti korupsi itu merupakan norma. Kaelan menyatakan agar suatu nilai lebih berguna dalam menuntun sikap dan tingkah laku, maka perlu lebih dikongkretkan serta diformulasiakn menjadi lebih objektif, segingga memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam tingkah laku yang kongkret.[8]
Kemudian dalam pembahasan tentang akhlak sering muncul beberapa istilah yang bersinonim dengan akhlak, yaitu istilah etika, moral dan susila.[9] Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia yang berkenaan dengan ketentuan tentang kewajiban yang menyangkut masalah kebenaran, kesalahan, atau keputusan, serta ketentuan tentang nilai yang menyangkut kebaikan maupun keburukan.[10] Moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai ketentuan baik atau buruk, benar atau salah.[11] Pengertian dari susila adalah sopan, beradab, baik budi bahasanaya. Istilah tersebut hampir sama dengan moral, yaitu pedoman untuk membimbing orang agar berjalan dengan baik juga berdasarkan pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat serta mengacu kepada sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.[12]
Akhlak yang dimaksud di sini ialah akhlak atau karakter yang terbentuk atas dasar prinsip ketundukan, kepasrahan dan kedamaian sehingga mampu tertanam di dalam jiwa para pencari ilmu. Dengan demikian, posisi akhlak, etika, moral dan susila sangat dibutuhkan yaitu dalam rangka menjabarkan dan menerapkan ketentuan akhlak yang terdapat dalam Alquran dan Hadits.
Dari data di atas dapat disimpulkan dengan tabel sebagai berikut:
No
Unsur
Moral (etika)
Nilai
Karakter
Akhlak
1
Definisi
Istilah untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai ketentuan baik atau buruk, benar atau salah.
banyak sedikitnya isi; kadar; mutu; sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.
Bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak.
sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2
Sumber
Ajaran Manusia
Subjek (benda itu sendiri)
Hati (Jiwa)
Hati (Jiwa)
3
Objek Kajian
Nilai baik atau buruk, benar atau salah tentang tindakan
Kadar, Sifat yang penting bagi manusia
Kepribadian, Prilaku, dan Tabi’at
Perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan
4
Contoh
Ajaran kejujuran
Jujur
Kejujuran
Perilaku jujur

C.      Urgensi Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak di Sekolah
Pendidikan karakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapatkan pengakuan dari masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini, semisal korupsi, perkembangan seks bebas pada kalangan remaja, narkoba, tawuran, pembunuhan, perampokan oleh pelajar, dan pengangguran lulusan sekolah menengah dan atas. Semuanya terasa lebih kuat ketika negara ini dilanda krisis dan tidak kunjung beranjak dari krisis yang dialami.[13]
Ukuran keberhasilan pendidikan yang berhenti pada angka ujian, seperti halnya ujian nasional, adalah sebuah kemunduran, karena dengan demikian pembelajaran akan menjadi sebuah proses menguasai ketrampilan dan mengakumulasi pengetahuan. paradigma ini menempatkan peserta didik sebagai pelajar imitatif dan belajar dari ekspose-ekspose didaktis yang akan berhenti pada penguasaan fakta, prinsip, dan aplikasinya.
Semestinya, bersekolah diorientasikan agar bisa hidup dalam berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara dengan segala tuntutan dan kewajibannya. Pendidikan yang berhasil semestinya adalah yang mampu melahirkan perilaku ideal yang diinginkan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yang bersangkutan. Rupanya orientasi seperti itu belum disadari oleh banyak orang, tidak terkecuali oleh mereka yang sehari-hari aktif bekerja di dunia pendidikan sekalipun.[14]
Adapun tujuan pendidikan karakter/ akhlak antara lain; Tujuan pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (setelah lulus dari sekolah). Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam setting sekolah bukanlah sekedar suatu dogmatisasi nilai kepada peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia, termasuk bagi anak. Penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pada proses pembiasaan yang disertai oleh logika dan refleksi terhadap proses dan dampak dari proses pembiasaan yang dilakukan oleh sekolah baik dalam setting kelas maupun sekolah. Penguatan pun memilki makna adanya hubungan antara penguatan perilaku melalui pembiasaan di sekolah dengan pembiasaan di rumah.
Tujuan kedua adalah mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah. Tujuan ini memilki makna bahwa pendidikan karakter memilki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku anak yang negatif menjadi positif. Proses pelurusan yang dimaknai sebagai pengkoreksian perilaku dipahami sebagai proses yang pedagogis, bukan suatu pemaksaan atau pengkodisian yang tidak mendidik. Proses pedagogis dalam pengkoreksian perilaku negatif diarahkan pada pola pikir anak, kemudian dibarengi dengan keteladanan lingkungan sekolah dan rumah, dan proses pembiasaan berdasarkan tingkat dan jenjang sekolahnya.
Tujuan ketiga adalah membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama. Tujuan ini memiliki makna bahwa proses pendidikan karakter di sekolah yang harus dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Jika saja pendidikan karakter di sekolah hanya bertumpu pada interaksi antara peserta didik dengan guru di kelas dan sekolah, maka pencapaian berbagai karakter yang diharapkan akan sangat sulit diwujudkan.[15]
D.      Peran Guru PAI dalam Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak
Secara konseptual pendidikan Islam dianggap komprehensif dan sangat ideal, sehingga jika dilaksanakan akan berhasil mengantarkan seseorang menjadi lebih sempurna. Pendidikan Islam akan mampu mengantarkan seseorang mengenal Ke-Maha Esa-an Tuhan, para utusan-Nya, kitab suci-Nya, amal shaleh, dan akhlak karimah. Produk pendidikan seperti ini, akan unggul dibanding dengan pendidikan lainnya. Akan tetapi, pada kenyataannya belum demikian.
Selain itu pendidikan Islam, dan atau lebih sempit lagi pelajaran agama Islam, seringkali ditempatkan pada posisi yang kurang strategis. Sekalipun keberadaanya telah didasarkan pada undang-undang, namun pelaksanaannya tidak terlalu dianggap penting. Guru agama tidak selalu diposisikan pada tempat strategis. Bahkan kadang peran itu hanya sebagai tambahan. Selain mengajar, guru agama hanya bertugas memimpin do’a. tugas ini memang mulia di hadapan Tuhan, tetapi tidak selalu demikian di hadapan manusia.[16]
Untuk memberikan alternatif agar pendidikan agama Islam dilihat secara utuh melalui pendidikan, ada lima aspek yang seharusnya dikaji untuk memahami Islam. Kelima aspek itu adalah sebagai berikut;
pertama, adalah tentang ilmu. Hal itu didasarkan bahwa ayat al-Qur’an yang turun pertama kali adalah terkait dengan perintah membaca. Sedangkan membaca merupakan pintu utama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang merupakan hasil prodak manusia. Membaca bukan sebatas pengertian untuk memahami tulisan-tulisan dalam buku maupun kitab suci (ayat qouliyah), tetapi bisa dimaknai sebagai membaca alam semesta (ayat kauniyah). Hal ini bisa juga dimulai dari membaca gejala-gejala alam, seperti biologi, fisika, kimia dan matematika serta cabang-cabangnya yang bersifat aplikatif, sebagai contoh; tekni, kedokteran, pertanian, dan kelautan. Dengan mengkaji ilmu maka akan melahirkan sikap pengakuan, kesadaran, dan kenyakinan hingga mengantarkannya pada puncak keimanan yang akan senantiasa bertasbih, bertakbir, dan bertakhmid.
Kedua, menyangkut tentang penyucian diri (tazkiyah). Melalui penyucian diri itu maka manusia akan selalu memperbaiki watak, karakter, perilaku dan akhlaknya. Sebagai upaya menyucikan diri maka seseorang harus menjaga hatinya, tutur katanya, perbuatannya, pergaulannya, harta benda yang dimiliki dan juga makanannya. Termasuk juga dalam hal mencari rizki, karena Islam tidak diukur dari aspek banyaknya, melainkan dari sifat harta itu yaitu halal dan baik.
Ketiga, menyangkut tentang tatanan sosial. Materi pendidikan agama Islam yang ditawarkan dalam pendidikan hendaknya mampu memperbaiki tatanan sosial dari berbagai aspek; baik dari aspek sosial, ekonomi, politik, budaya dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, maka bisa disebutkan bahwa pendidikan agama islam diharapkan tidak sekedar mengajak orang untuk menjalankan ritual, memenuhi tempat ibadah, melainkan lebih dari itu, agar dapat membangun tatanan sosia yang berkualitas.
Keempat¸ islam memberikan pedoman ritual. Selama ini aspek tersebut telah mendapatkan perhatian yang cukup banyak. Kita lihat pelajaran agama yang ada di kelembagaan pendidikan agama Islam lebih menekankan pada aspek ritual, seperti sejak awal pendidikan dikenalkan tentang rukun Islam, rukun iman, tentang bersuci, shalat, puasa, haji dan do’a.
Kelima, tentang amal shalah atau bekerja secara profesional. Sedemikian banyak ayat al-Qur’an tatkala menyebut iman selalu diikuti deangan sebutan amal shaleh. Umpama saja, ajaran amal sholeh ini dikembangkan dan menjadi bagian dari ajaran Islam yang penting, maka akan mendorong umat Islam untuk menjalankan pekerjaannya secara benar. Kemudian seorang muslim akan terdorong pikiran, perasaan, dan jiwanya untuk menampakkan ke-Islamannya dalam semua kegiatan, baik dalam beramal dan bekerja secara shaleh.[17]
E.       Rancangan Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak dalam PAI
Pendidikan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan yang artinya; hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Perhatian Islam yang demikian terhadap pendidikan akhlak ini dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin.[18]
Perhatian Islam dalam pendidikan akhlak selanjutnya dapat dianalisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Ajaran Islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan mengerjakan serangkaian amal shalih dan perbuatan terpuji. Iman yang tidak disertai dengan amal shalih dinilai sebagai Iman yang palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Dalam al-Qur’an QS: al-Baqarah: 8;
z`ÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ $¨YtB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$$Î/ur ̍ÅzFy$# $tBur Nèd tûüÏYÏB÷sßJÎ/ ÇÑÈ  
Artinya: 8. di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[19]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Dan QS: al-Hujurat: 15;
إِنَّمَا šcqãYÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä «!$$Î/ ¾Ï&Î!qßuur §NèO öNs9 (#qç/$s?ötƒ (#rßyg»y_ur öNÎgÏ9ºuqøBr'Î/ óOÎgÅ¡àÿRr&ur Îû È@Î6y «!$# 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqè%Ï»¢Á9$# ÇÊÎÈ  
Artinya: 15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.
Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan jelas bahwa iman yang dikehendaki Islam bukan iman yang hanya sampai pada ucapan dan kenyakinan, tetapi iman yang disertai dengan perbuatan dan akhlak yang mulia, seperti tidak ragu-ragu menerima ajaran yang dibawa Rasul, mau memanfaatkan harta dan dirinya untuk berjuang di jalan Allah dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan harus membuahkan akhlak, dan juga memperlihatkan bahwa Islam sangat mendambakan terwujudnya akhlak yang mulia.
Pendidikan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman. Hasil analisis Muhammad al-Ghazali terhadap rukun Islam yang lima telah menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pendidikan akhlak. Rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimah syahadah, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat itu mengandung pernyataan bahwa selama hidupnya manusia hanya tunduk kepada aturan dan tuntunan Allah. Orang yang tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya sudah dapat dipastikan akan menjadi orang yang baik.
Selanjutnya rukun Islam yang kedua adalah mengerjakan shalat lima waktu. Shalat yang dikerjakan akan membawa pelakunya terhindar dari perbuatan keji dan munkar. (QS: al-Ankabut: 45). Dalam hadits qudsi dijelaskan pula sebagai berikut yang artinya; “bahwasanya Aku menerima shalat hanya dari orang yang bertawadlu’ dengan shalatnya kepada keagungan-Ku yang tidak terus menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk dzikir kepada-Ku, kasih sayang kepada fakir miskin, ibn sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah.” (HR al-Bazzar).
Pada hadits tersebut shalat diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia, yaitu bersikap tawadlu, mengagungkan Allah, berdzikir, membantu fakir miskin, ibn sabil, janda dan orang yang mendapat musibah. Selain itu shalat (khususnya jika dilaksanakan berjama’ah) menghasilkan serangkaian perbuatan seperti kesejahaan, imam dan ma’mum sama-sama berada dalam satu tempat, tidak saling berebut, untuk jadi imam, jika imam batal dengan rela untuk digantikan yang lainnya, selesai shalat saling berjabat tangan, dan seterusnya. Semua ini mengandung ajaran akhlak.
Selanjutnya dalam rukun Islam yang ketiga, yaitu zakat juga mengandung didikan akhlak, yaitu agar orang yang melaksanakannya dapat membersihkan dirinya dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri, dan membersihkan hartanya dari hak orang lain, yaitu hak fakir miskin dan seterusnya. Muhammad al-Ghazali mengatakan bahwa hakikat zakat adalah untuk membersihkan jiwa dan mengangkat derajat manusia ke jenjang yang lebih mulia.[20]
Pelaksanaan zakat yang berdimensi akhlak yang bersifat sosial ekonomis ini dipersubur lagi dengan pelaksanaan shadaqah yang bentuknya tidak hanya berupa materi, tetapi juga nonmateri. Hadits Nabi di bawah ini menggambarkan shadaqah dalam hubungannya dengan akhlak yang mulia.
Begitu juga Islam mengajarkan ibadah puasa sebagai rukun Islam yang keempat, bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dalam waktu yang terbatas, tetapi lebih dari itu merupakan latihan menahan diri dari keinginan melakukan perbuatan keji yang dilarang. Dalam hubungan ini Nabi mengingatkan yang artinya; “siapa yang tidak suka meninggalkan kata-kata dusta, dan perbuatan palsu, maka Allah tidak membutuhkan daripadanya, puasa meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari).
Selanjutnya rukun Islam yang kelima adalah ibadah haji. Dalam ibadah haji ini pun nilai pembinaan akhlaknya lebih besar  lagi dibandingkan dengan nilai pendidikan akhlak yang ada pada ibadah dalam rukun Islam lainnya. Hal ini dipahami ibadah haji dalam Islam bersifat komprehensif yang menuntut persyaratan yang banyak, yaitu disamping harus menguasai ilmunya, juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam menjalankannya dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, serta rela meninggalkan tanah air, harta kekayaan dan lainnya. Hubungan ibadah haji dengan pendidikan akhlak ini dapat dipahami dari ayat yang berbunyi:
kptø:$# ֍ßgô©r& ×M»tBqè=÷è¨B 4 `yJsù uÚtsù  ÆÎgŠÏù ¢kptø:$# Ÿxsù y]sùu Ÿwur šXqÝ¡èù Ÿwur tA#yÅ_ Îû Ædkysø9$# 3 $tBur (#qè=yèøÿs? ô`ÏB 9Žöyz çmôJn=÷ètƒ ª!$# 3 (#rߊ¨rts?ur  cÎ*sù uŽöyz ÏŠ#¨9$# 3uqø)­G9$# 4 Èbqà)¨?$#ur Í<'ré'¯»tƒ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÐÈ  
Artinya: 197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[21], Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[22], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa[23] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
Berdasarkan analisis yang didukung dalil-dalil al-Qur’an dan al-Hadits tersebut di atas, kita dapat mengatakan bahwa Islam sangat memberi perhatian yang besar terhadap pendidikan akhlak, termasuk cara-caranya. Hubungan antara rukun Iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak sebagaimana digambarkan di atas, menunjukkan bahwa pembinaan akhlak yang ditempuh Islam adalah menggunakan cara atau sistem yang integreted, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan dan lainnya secara simultan untuk diarahkan pada pendidikan akhlak.
F.       Strategi Pendidikan dan Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak dalam PAI
Cara yang digunakan dalam pembinaan akhlak antara lain:
1.    Metode Pembiasaan
Pembiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung secara kontinyu.  Pembiasaan selain menggunakan perintah, suri tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu, arti tepat dan positif ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural.[24]
Kemudian, ayat-ayat dalam al-Qur’an yang menekankan pentingnya pembiasaan bisa terlihat pada teks “amilus shalihat”. Teks ini diungkap dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali. Bisa diterjemahkan dengan kalimat “mereka selalu melakukan amal kebaikan” atau “membiasakan beramal saleh”. Jumlah term “amilus shalihat” yang banyak tersebut memperlihatkan bahwa pentingnya pembiasaan suatu amal kebaikan dalam proses pembinaan dan pendidikan karakter dalam Islam.[25] Dalam teori perkembangan anak didik, dikenal ada teori konvergensi, di mana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya. Potensi dasar ini dapat menjadi penentu tingkah laku (melalui proses). Oleh karena itu, potensi dasar harus selalu diarahkan agar tujuan pendidikan tercapai dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi dasar tersebut adalah melalui kebiasaan yang baik.
Berkenaan dengan ini Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat, maka ia akan menjadi orang jahat. Untuk ini al-Ghazali menganjurkan agar akhlak diajarkan, yaitu dengan cara melatih jiwa kepada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah, maka ia harus dibiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan itu menjadi bi’atnya yang mendarah daging.[26]
Menurut Burghardt, sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan, kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respon dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang, dalam proses belajar, pembiasaan juga meliputi pengurangan prilaku yang tidak diperlukan. Karena proses penyusutan atau pengurangan inilah muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan otomatis.[27]
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan dengan metode pembiasaan ini adalah termasuk prinsip utama dalam pendidikan dan merupakan metode paling efektif dalam pembentukan aqidah dan pelurusan akhlak anak didik, sehingga tujuan daripada diadakannya pembelajaran dengan metode pembiasaan ini adalah untuk melatih serta membiasakan anak didik secara konsisten dan kontinyu dengan sebuah tujuan, sehingga benar-benar tertanam dalam diri anak didik dan akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan di kemudian hari.
2.    Metode Keteladanan
Metode keteladanan merupaka  suatu  cara  atau  jalan  yang  ditempuh  seseorang  dalam  proses pendidikan melalui  perbuatan atau tingkah laku yang patut ditiru (modeling). Namun  yang dikehendaki dengan metode keteladanan dijadikan sebagai alat pendidikan Islam dipandang keteladanan merupakan bentuk prilaku individu yang  bertanggung  jawab   yang  bertumpu  pada  praktek  secara  langsung. Dengan  menggunakan  metode  praktek  secara  langsung  akan  memberikan hasil yang efektif dan maksimal.
Keteladanan dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Islam  karena  hakekat  pendidikan  Islam  ialah  mencapai  keredhaan kepada Allah dan  mengangkat tahap akhlak dalam bermasyarakat berdasarkan pada agama serta membimbing masyarakat pada rancangan akhlak yang dibuat oleh Allah SWT. untuk manusia.[28]
Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, instruksi dan larangan, sebab tabi’at jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup dengan hanya seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.[29] Cara yang demikian itu telah dilakukan Rasulullah saw. keadaan ini dinyatakan dalam QS: al-Ahzab: 21, yaitu:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Artinya; 21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
3.    Metode Cerita
Bercerita merupakan salah satu metode untuk mendidik anak didik. Berbagai nilai-nilai moral, pengetahuan, dan sejarah dapat disampaikan dengan baik melalui cerita. Cerita ilmiah maupun fiksi yang disukai anak didik dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan. Cerita dengan tokoh yang baik, kharismatik, dan heroik menjadi alat untuk mengembangkan sikap yang baik kepada anak didik dan sebaliknya. Cerita kepahlawanan dan pemikiran yang cerdas dari pahlawan dapat mendidik anak agar kelak memiliki jiwa kepahlawanan. Jadi cerita amat potensial untuk mendidik akhlak. Oleh karena itu, pendidik sebaiknya pandai bercerita.[30]
G.      Bentuk RPP yang didalamnya terdapat Nilai Pendidikan dan Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak dalam PAI
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Madrasah                                : MTs Nurul Islam Krapyak Kota Pekalongan
Mata pelajaran                       : Fiqih
Kelas/Semester                      : VIII / I
Materi Pembelajaran             : Sujud Syukur
Pertemuan Ke-                       : I ( Satu )
Alokasi Waktu                        : 1 x Pertemuan ( 2 x 40 Menit )

A.     Kompetensi Inti (KI)
1.  Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2.  Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3.  Memahami dan menerapkan  pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4.  Mengolah, menyaji dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

B.     Kompetensi Dasar & Indikator
1.1 Meyakini hikmah bersukur
1.1.1    Menunjukkan sikap menghayati ajaran agama Islam.

2.1 Membiasakan sikap bersyukur kepada Allah swt. sebagai implementasi dari pemahaman tentang sujud syukur
2.1.1     Menunjukkan sikap tanggungjawab dalam mempelajari  sujud  syukur

3.1 Memahami ketentuan sujud syukur
3.1.1    Menjelaskan pengertian sujud syukur
3.1.2    Menjelaskan hukum dan dalil disyariatkannya sujud syukur
3.1.3    Menjelaskan sebab-sebab sujud syukur

4.1  Memeragakan tata cara sujud syukur
4.1.1    Melafalkan bacaan dalam sujud syukur
4.1.2    Memperagakan tata cara sujud syukur
                             
C.    Deskripsi Materi Pembelajaran
1.  Pengertian sujud syukur
                      Syukur secara bahasa artinya adalah terimakasih, dan menurut istilah sujud  syukur  adalah  sujud  yang  dilakukan  sebagai  tanda  terima  kasih  seorang hamba kepada Allah swt.
2.  Hukum dan dalil disyariatkannya sujud syukur
Hukum bersyukur dengan cara melakukan sujud syukur adalah sunnah.
Adapun dalilnya antara lain: Surah al-Baqarah: 152, Surah Ibrahim: 7
Sementara itu hukum bersyukur dengan cara melakukan sujud syukur adalah sunnah. Hadits Rasullullah saw : 
عَنْ اَبِى بَكْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا أّتَاهُ اَمْرٌ يَسَّرَهُ اَوْ بُشِّرَبِهِ خَرَّسَاجِدًا شُكْرًالِلَّهِ تَعَالَى (رواه ابو داود وابن ماجه والترمذي وحسنه)
Artinya: "Dari Abu Bakrah, sesungguhnya Rasulullah saw. apabila mendapat sesuatu yang menyenangkan atau diberi khabar gembira segeralah tunduk sujud sebagai tanda syukur kepada Allah swt." (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Turmudzi yang menganggapnya sebagai hadits hasan).
3.  Sebab-sebab sujud syukur
Hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan sujud syukur adalah :
a.    Karena ia mendapat nikmat dan karunia dari Allah swt.
b.    Mendapatkan berita yang menyenangkan.
c.    Terhindar dari bahaya (musibah) yang akan menimpanya.
4.  Rukun Sujud syukur
Adapun rukunya:
1. Niat (di dalam hati)
2. Takbiratul ihram
3. Sujud
4. Duduk sesudah sujud (tanpa membaca tasyahud)
5. Salam
5.  Tata cara sujud syukur
Caranya,  yaitu  sebaiknya  suci  dari  hadas  dan  najis,  berdiri menghadap  kiblat,  kemudian  niat sujud syukur bersamaan takbiratul ihram, setelah itu langsung sujud satu kali, lalu duduk untuk mengucapkan salam.

D.     Kegiatan Pembelajaran
1.  Kegiatan Pendahuluan ( 10 menit )
·      Guru membuka pembelajaran dengan salam dan berdo’a bersama dipimpin oleh salah seorang peserta didik dengan penuh khidmat;
·      Pengkondisian kelas dengan senam otak ataupun bernyanyi yang riang
·      Guru memotivasi akan pentingnya kompetensi yang akan dipelajari
·      Memperlihatkan kesiapan diri dengan mengisi lembar kehadiran dan memeriksa kerapihan pakaian, posisi dan tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran;
·      Guru menyampaiakan garis besar materi yang akan dicapai dan menanyakan pelajaran yang telah lalu (apersepsi).
·      Guru memberikan penjelasan tentang penilaian yang akan dilakukan selama proses pembelajaran.
2.  Kegiatan Inti
ü Peserta didik mengamati gambar dan video tentang sujud syukur yang di tayangkan  melalui LCD Projector (mengamati)
ü Peserta didik menanyakan hal-hal yang belum difahami terkait pengertian sujud syukur ( menanya )
ü Peserta didik mengungkapkan pendapatnya tentang tata cara melaksanakan sujud syukur ( mengkomunikasikan )
ü Masing-masing kelompok mencatat pengertian sujud syukur dan tata cara melaksanakannya ( menalar / mengasosiasi )
ü Peserta didik secara berkelompok mencari penjelasan dengan membaca buku  yang berkaitan dengan materi ajar, kemudian membandingkan degan hasil yang diamati sebelumnya. ( eksperimen / Eksplorasi )
ü Bersama dengan anggota kelompoknya, peserta didik, mendiskusikan hasil temuanya tentang sujud syukur ( eksplorasi )
ü Masing-masing kelompok menempelkan hasil diskusinya di papan tulis
( mengkomunikasikan )
ü Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
( mengkomunikasikan )
ü Masing-masing kelompok mendemonstrasikan tata cara sujud syukur
( mengkomunikasikan )
3.  Kegiatan Penutup
·      Guru mengadakan refleksi hasil pembelajaran serta menguatkan tata cara melaksanakan sujud syukur
·      Peserta didik bersama dengan guru  peserta didik menyimpulkan Intisari dari materi pelajaran.
·      Guru mengadakan tes lisan dengan jawaban singkat
·      Guru memberikan tugas individu mencari contoh sujud syukur
·      Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya
·      Guru memberikan pesan-pesan moral terkait dengan materi, seperti terbiasa melaksanakan sujud syukur dalam kehidupan sehari - hari
·      Guru mengakhiri pertemuan dengan mengajak berdoa dan dilanjutkan dengan salam
E.     Penilaian
a.  Penilaian Sikap Spiritual
1.   Sikap                   : Menghayati ajaran agama Islam
2.   Teknik                 : Observasi
3.   Instrumen           :

No
Nama Peserta Didik
Aspek menghayati ajaran agama islam
Skor Akhir (Modus)
Berdo’a sebelum dan sesudah menjalankan setiap perbuatan
Berusaha semaksimal mungkin untuk meraih hasil atau prestasi yang diharapkan
( ikhtiar )
Memelihara hubungan baik dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
Azmi













2
Asfi













3















Kategori  :
4 = Sangat Bagus
3 = Bagus
2 = Cukup
1 = Kurang

Pedoman penskoran :
Skor Perolehan  x 4 =
Skor Maksimal

b.  Penilaian Sikap Sosial
1.   Sikap                   : Tanggungjawab
2.   Teknik                 : Observasi
3.   Instrumen           :
No
Nama Peserta Didik
Aspek Tanggung Jawab
Skor Akhir

Melaksanakan setiap pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya
Melaksanakan tugas individu dengan baik
Menerima resiko dari setiap tindakan yang
dilakukan

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1
Azmi













2
Asfi













3















Kategori  :
4 = Sangat Bagus
3 = Bagus
2 = Cukup
1 = Kurang
Pedoman penskoran   :
Skor Perolehan  x 4 =
Skor Maksimal

C. Penilaian Pengetahuan
1. Teknik                  : Tertulis
2. Bentuk                 : Uraian
3. Instrumen           : Soal
1.  Apa pengertian sujud secara bahasa ?
2.  Jelaskan pengertian sujud syukur secara istilah ?
3.  Apa hukum sujud syukur ?
4.  Tuliskan dalil disyariatkannya sujud syukur ?
5.  Jelaskan sebab-sebab sujud syukur ?

Kunci Jawaban:
1.   Syukur secara bahasa artinya adalah terimakasih.

2.   Menurut istilah sujud  syukur  adalah  sujud  yang  dilakukan  sebagai  tanda  terima  kasih  seorang hamba kepada Allah swt. dalil disyariatkannya sujud ialah QS. Ibrahim : 7 dan QS.  Al-Baqarah  :152.

3.   Hukum bersyukur dengan cara melakukan sujud syukur adalah sunnah.

4.   Adapun dalilnya antara lain: Surah al-Baqarah: 152, Surah Ibrahim:
þÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s?                               
Artinya  :  ”Karena  itu,  ingatlah  kamu  kepada-Ku  niscaya  Aku  ingat  (pula)  kepadamu,  dan bersyukurlah  kepada-Ku,  dan  janganlah  kamu  mengingkari  (nikmat)-Ku”.  (QS.  Al-Baqarah  :152)

5.   Hal-hal yang menyebabkan seseorang melakukan sujud syukur adalah :
a.  Karena ia mendapat nikmat dan karunia dari Allah swt.
b.  Mendapatkan berita yang menyenangkan.
c.   Terhindar dari bahaya (musibah) yang akan menimpanya.






D. Penilaian Praktik

Nama Peserta didik
Aspek yang dinilai
Menggunakan alat
Membaca do’a sujud syukur
Melaksanakan dengan baik
Menyimpan alat pada tempatnya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Eko

ü   
ü   





Fafa








Geri








Hadi








.....








Contoh:       Format instrumen penilaian praktik sujud syukur
Keterangan: diisi dengan tanda cek (√)

F.     Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1.  Media/alat               : LCD, Layar Proyektor, Gambar
2.  Bahan                      : Spidol, tata cara sujud syukur, Kertas Karton
3.  Sumber belajar       : Buku guru Fiqih, MTs kelas 8, kementerian agama RI
Jakarta, 2014 halaman 16-17…,Buku siswa Fiqih MTs Kelas 8, kementerian agama RI Jakarta, 2014 halaman 1-11 . . .       


Pekalongan, 16 November 2015
Mengetahui:
Kepala Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam




Mislailatun Nikmah, S.H.


Guru Mata pelajaran Fiqih





Imam Syafi’I, S.Pd.I.




H.      Bentuk RPP yang didalamnya terdapat Nilai Pendidikan dan Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak dalam Mapel Tahfidzul Ba’dhul Qur’an

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Satuan Pendidikan                : MTs Nurul Islam
Mata Pelajaran                      : Tahfidhul ba’dhul quran (suar)
Kelas/ Semester                     : VIII/ 1
Materi Pokok                         : Surat al-Munafiqun
Alokasi Waktu                       : 2 x 40 menit ( 2 x Pertemuan )
Hari/ Tanggal                        :
Standar Kompetensi             : 1. Membaca dan menghafal surat al-Munafiqun
Kompetensi Dasar                 : 1.1 Membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan benar.
                                                  1.2 Menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar.
                                                  1.3 Mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
A. Indikator Kompetensi      :
Indikator Pencapaian Kompetensi
Nilai Budaya dan Karakter Bangsa
1.    Mampu membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan benar.
2.    Mampu menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar.
3.    Mampu mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
Disiplin, Kerja keras, Tanggungjawab, Jujur, Percaya diri, Sadar akan hak dan kewajiban.

B. Tujuan Pembelajaran      :
1. Siswa mampu membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan benar.
2. Siswa mampu menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar.
3. Siswa mampu mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.

C. Materi Ajar Pokok           :
1. Melihat               : melihat Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 secara bersama-sama.
2. Membaca            : membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 secara klasikal dan individu.
3. Mengamati         : mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
4. Menanya             : menanyakan bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
5. Menghafal          : menghafalkan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 secara klasikal dan individu.
إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ -١- اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ -٢- ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ -٣- وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ -٤

D. Metode Pembelajaran      :
1. Model pembelajaran                   : Pengajaran langsung.
2. Pendekatan pembelajaran           : Pendekatan ilmiah (scientific approach).
3. Metode                                       : Pembiasaan, Resitasi, Tanya jawab, Pengamatan, Hafal.
E. Strategi Pembelajaran     :
Tatap Muka
Terstruktur
Mandiri
1.    Mampu membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan benar.
2.    Mampu mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
v  menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar.
Ø Mencari dan menerapkan bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dalam keseharian.
F. Langkah Pembelajaran   :
1. Kegiatan Awal (10 menit)
Apersepsi dan Motivasi
ü Guru – Siswa memberi salam dan memulai pelajaran dengan kalimat basmallah dan berdo’a bersama sebelum memulai pelajaran.
ü Guru memberikan motivasi kepada siswa berkaitan dengan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
ü Siswa menyiapkan kitab suci al-Quran
ü Siswa secara bersama-sama membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 selama 5 – 10 menit.
ü Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.
1.    Kegiatan Inti (60 menit)
Dalam kegiatan inti, guru dan siswa melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:
a.    Elaborasi (30 menit)
Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi pembelajaran dalam memahami Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
ü Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contohnya:
1.    Pernahkah kalian membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 ?
2.    Pernahkah kalian menghafalkan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 ?
3.    Siapakah di anatara kalian yang sudah bisa membaca dan menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 ?
ü Guru menunjuk beberapa siswa yang sudah fasih untuk membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dan memimpin teman-temannya membaca klasikal di bawah bimbingan guru dengan membaca 2 – 3 kali.
ü Setelah para siswa selesai membaca secara klasikal, guru menunjuk beberapa siswa untuk mengulangi membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
ü Guru menjelaskan kembali beberapa hukum bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
ü Guru memberikan ice breaker kepada siswa untuk merileksasi suasana siswa agar senantiasa dalam keadaan alfa zone setelah adanya suatu transfer of knowledge pada siswa, yang mana ice breaker tersebut adalah permainan pengetahuan.
ü Kemudian guru membagi siswa menjadi 5 kelompok untuk mendiskusikan materi tajwid yang telah disampaikan.
b.   Eksplorasi (15 menit)
ü Guru meminta beberapa siswa untuk menjelaskan hukum bacaan yang terdapat dalam Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 setelah adanya penyampaian materi tersebut.
ü Guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang hukum bacaan tajwid kepada siswa.
ü Guru meminta siswa agar menyalin Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 setelah menghafal.
ü Siswa diminta untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok.
c.    Kofirmasi (15 menit)
ü Dalam Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu disiplin dan tanggungjawab serta mengamalkan bacaan tajwin.
ü Guru menyatukan pendapat dan menyimpulkan hasim diskusi.
ü Guru memberikan tugas dalam bentuk permainan pendidikan yang harus diselesaikan oleh setiap kelompok dengan memberikan satu bingkisan yang mana di dalamnya terdapat beberapa saal yang berkaintan dengan materi tersebut dan diberi batasan waktu.
2.    Kegiatan Akhir (10 menit)
ü Guru meminta siswa sekali lagi untuk membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 sebagai penutup materi pembelajaran.
ü Guru meminta siswa untuk rajin mempelajari hukum bacaan tajwid dan menghafalkan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
ü Guru memberikan tugas mengerjakan soal-soal latihan tentang hukum bacaan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 sebagai pekerjaan rumah.
ü Guru menutup/ mengakhiri pelajaran tersebut dengan bacaan hamdalah/ do’a.
ü Guru mengucapkan salam kepada siswa.

G. Sumber Belajar/ Bahan   :
1.    al-Quran dan terjemahan Departemen Agama RI.
2.    Buku cetak suar, untuk kalangan sendiri.
3.    Kaset VCD pembelajaran (aplikasi al-Kalam yang di dalamnya terdapat ayat-ayat suci al-Quran)
4.    LCD dan Proyektor.
5.    Sumber buku-buku lain yang relevan sebagai materi tambahan dan referensi.

H. Penilaian                           :
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Contoh Instrumen Soal
1.    Mampu membaca Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan benar.
2.    Mampu menghafal Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar.
3.    Mampu mengidentifikasi bacaan tajwid Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4.
Tes membaca

Tes hafalan


Tes tertulis


Tes tertulis


Tes tertulis
Ketetapan membaca ayat
Kefasihan dan kelancaran
Uaraian


Uraian


Uraian
Ø Bacalah Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan fasih dan lancar?
Ø Hafalkan Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan benar dan lancar?
Ø Sebutkan bacaan tajwid dalam Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4?
Ø Berikan contoh bacaan tajwid dalam al-Quran yang sesuai dengan contoh tadi?
Ø Jelaskan bacaan tajwid dalam Q. S. al-Munafiqun : 1 - 4 dengan baik dan benar?

v Kunci Jawaban              :
Hukum nun sukun atau tanwin ada 5, yaitu:
1.    Idghom bighunnah      : apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu huruf ya’, nun, mim, wawu.                           Contoh            : وَإِن يَقُولُوا
2.    Idghom bila ghunnah  : apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu huruf lam dan ra’.
Contoh            :
3.    Idzhar halqi                 : apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu huruf hamzah, ha’, ha, kha, ‘ain, ghain.            Contoh            : كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ
4.    Iqlab                            : apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu huruf ba’.
Contoh            : مِن بُيُوتِهِنَّ
5.    Ikhfa’                          : apabila ada nun sukun atau tanwin bertemu huruf ta, tsa, jim, dal, dzal, za, sin, syin, shad, dlo’, tho’, dho’, fa, qof, kaf.
Contoh            : عَن سَبِيلِ اللَّهِ
v Pedoman Penilaian        :
Nilai Akhir      =          Jumlah nilai yang diperoleh x 100
                                                Skor maksimal

Pekalongan, 05 Januari 2015


Mengetahui:

Kepala MTs Nurul Islam




Mislailatun Nikmah, S.H.
Guru Mata Pelajaran




Imam Syafi’i




I.         Bentuk RPP yang didalamnya terdapat Nilai Pendidikan dan Pembelajaran Moral, Nilai, Karakter dan Akhlak dalam Mapel Nahwu

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan                            : MTs Nurul Islam Krapyak – Pekalongan
Mata Pelajaran                                  : Nahwu Shorof
Kelas/ Semester                                 : VIII/ 1
Materi Pokok                                     : Kalimah Fi’il
Alokasi Waktu                                   : 1 x 40 menit (1 x pertemuan)
Hari/ Tanggal                                    :
Standar Kompetensi                         : Mengetahui kalimah fi’il
Kompetensi Dasar                             : 1.1 menjelaskan pengertian kalimah fi’il
                                                         1.2 menyebutkan macam-macam fi’il
                                                         1.3 memberikan contoh kalimah fi’il
Indikkator Kompetensi                    :
Indikator Pencapaian Kompetensi
Nilai Budaya & Karakter
1.    Mampu menjelaskan pengertian kalimah fi’il
2.    Mampu menyebutkan macam-macam kalimah fi’il
3.    Mampu memberikan contoh kalimah fi’il
Jujur, percaya diri, kerja keras, tanggung jawab, sadar akan hak dan kewajiban, cinta ilmu dan rasa ingin tahu.

*        Kewirausahaan/ ekonomi kreatif :
1.    Toleransi terhadap semua makhluk Allah SWT.
2.    Percaya diri (keteguhan hati dan optimis)
3.    Berorientasi pada tugas (berenovasi, tekun, tabah, bertekad dan energik)
4.    Berorientasi ke masa depan (punya perspektif)


A.    Tujuan Pembelajaran
1.    Siswa dapat menjelaskan pengertian kalimah fi’il
2.    Siswa dapat menyebutkan macam-macam kalimah fi’il
3.    Siswa dapat memberikan contoh kalimah fi’il
B.     Materi Ajar (Pokok)
No
Materi
Kalimah Fi’il
1
Jenis
Fi’il Madli
Fi’il Mudhori’
Fi’il Amar
2
Pengertian
Sudah selesai/ lewat (lampau)
Sekarang/ yang akan datang
Yang akan datang/ perintah
3
Tanda
Fathah
Dhummah
Sukun
4
Contoh
نَصَرَ
يَنْصُرُ
أُنْصُرْ

1.    Melihat                   : melihat pengertian, macam-macam dan contoh fi’il
2.    Membaca                : membaca pengertian, macam-macam dan contoh fi’il
3.    Mengamati             : mengidentifikasi tanda-tanda kalimah fi’il
4.    Menanya                 : menanyakan contoh macam-macam kalimah fi’il
5.    Menghafal              : menghafal pengertian, macam-macam dan tanda fi’il
C.    Model Pembelajaran
1.    Model pembelajaran           : pengajaran langsung
2.    Pendekatan pembelajaran   : pendekatan ilmiah (scientific approach)
3.    Metode                               : pembiasaan, tanya jawab, pengamatan, hafalan
D.    Strategi Pembelajaran
Tatap muka
Terstruktur
Mandiri
1.    Membaca pengertian, macam-macam dan contoh fi’il
2.    Mengidentifikasi tanda-tanda kalimah fi’il
Ø Menghafalkan pengertian, macam-macam dan contoh fi’il
*     Mencari dan menerapkan tanda-tanda kalimah fi’il

E.     Langkah-langkah Pembelajaran
1.    Kegiatan Awal (10 menit)
Apersepsi dan Motivasi
ü Guru dan Siswa memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmallah dan berdo’a secara bersama-sama.
ü Guru memberikan motivasi kepada siswa berkaitan dengan kalimah fi’il.
ü Siswa menyiapkan buku cetak nahwu sharaf.
ü Secara bersama-sama membaca pengertian, macam-macam dan contoh fi’il.
ü Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.
2.    Kegiatan Inti (60 menit)
*   Dalam kegiatan inti, guru dan siswa melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:
Elaborasi (30 menit)
Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang materi pembelajaran dalam memahami kalimah fi’il.
*   Guru mengawali dengan mengajukan beberapa pertanyaan, contoh:
a.    Pernahkan kalian membaca pengertian, macam-macam dan contoh fi’il ?
b.    Pernahkan kalian menghafalkan pengertian, macam-macam dan contoh fi’il ?
c.    Siapakah diantara kalian yang sudah mengerti pengertian, macam-macam dan contoh fi’il ?
*   Guru menunjuk beberapa siswa yang sudah tahu tentang materi untuk menjelaskan pengertian, macam-macam dan contoh fi’il dan memimpin teman-temannya dengan menjadi tutor sebaya di bawah bimbingan guru dengan jumlah 2-3 orang.
*   Setelah para siswa membaca materi secara singkat, guru menunjuk beberapa siswa untuk mengulangi apa yang telah dibaca.
*   Guru menjelaskan kembali kalimah fi’il secara singkat.
*   Guru memberikan ice breaker kepada siswa untuk merelaksasi suasana dan menfokuskan kembali kondisi siswa agar senantiasa dalam keadaan alfa zone setelah adanya suatu transfer of knowledge pada siswa.
*   Kemudian guru membagi siswa menjadi 4 kelompok untuk mendiskusikan materi kalimah fi’il.
Eksplorasi (15 menit)
Ø Guru meminta beberapa siswa untuk menjelaskan kalimah fi’il setelah adanya penyampaian materi tersebut.
Ø Selanjutnya, guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang kalimah fi’il.
Ø setelah menghafal dan mengidentifikasi, guru meminta siswa agar menyalin kalimah fi’il.
Ø Siswa diminta untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok.
Konfirmasi (15 menit)
v Dalam kalimah fi’il banyak mengandung nilai-nilai sikap dan perilaku yang utama, yaitu ketelitian dan kesabaran serta mengamalkan contoh kalimah fi’il dalam kehidupan sehari-hari.
v Guru menyatukan pendapat dan menyimpulkan hasil diskusi.
v Guru memberikan tugas dalam bentuk permainan yang harus diselesaikan oleh setiyap kelompok dengan memberikan satu bingkisan yang mana didalamnya terdapat beberapa soal yang berkaitan dengan materi tersebut dan diberi batasan waktu.
3.    Kegiatan Akhir (10 menit)
·      Guru meminta agar para siswa membaca sekali lagi kalimah fi’il sebagai penutup materi pembelajaran.
·      Guru meminta agar siswa mempelajari kalimah fi’il dengan rajin.
·      Guru memberikan tugas mengerjakan soal-soal latihan tentang kalimah fi’il sebagai pekerjaan rumah (PR).
·      Guru menutup/ mengakhiri pelajaran tersebut dengan membaca hamdalah/ do’a.
·      Guru mengucapkan salam kepada para siswa.
F.     Bahan/ Sumber Belajar
1.    Buku cetak ilmu Nahwu , terjemah al-Jurmiyah oleh al-Imam Akhsonhaji.
2.    Kaset VCD Pembelajaran (aplikasi bahasa arab yang didalamnya yaitu meteri nahwu.
3.    LCD dan Proyektor
4.    Sumber buku-buku lain yang relevan sebagai materi tambahan dan refrensi.



G.    Penilaian
Indikator Pencapain Kompetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Contoh Istrumen Soal
1.      Mampu menjelaskan pengertian kalimah fi’il
2.      Mampu menyebutkan macam-macam kalimah fi’il
3.      Mampu memberikan contoh kalimah fi’il
Tertulis


Tertulis



Tertulis
Uraian


Uraian



Uraian
1.    Jelaskan pengertian kalimah fi’il?
2.    Sebutkan dan jelaskan macam-macam kalimah fi’il?
3.    Berikan contoh macam-macam kalimah fi’il?

*   Kunci Jawaban:
1.    Kalimah Fi’il adalah kalimah yang menunjukkan arti pekerjaan yang disertai waktu.
2.    Macam-macam kalimah fi’il ada 3, yaitu:
a.    Fi’il madli        : kalimah yang menunjukkan pekerjaan yang sudah selesai atau lewat (lampau).
b.    Fi’il mudhari’  : kalimah yang menunjukkan pekerjaan yang sedang berlangsung atau yang akan datang.
c.    Fi’il amar         : kalimah yang menunjukkan pekerjaan perintah atau yang akan datang.
3.    Contoh macam-macam kalimah fi’il:

Fi’il Madli
Fi’il Mudhari’
Fi’il Amar
ضَرَبَ
يَضْرِبُ
إِضْرِبْ

Ø Pedoman Penilaian    :
                 Nilai Akhir      =          Jumlah nilai yang diperoleh x 100
                                                                 Skor maksimal

Pekalongan, 25 Agustus 2015

Mengetahui:

Kepala MTs Nurul Islam

Mislailatun Nikmah, S.H.
Guru Mapel

Imam Syafi’i, S.Pd.I.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. 1989. Ihya’ ‘Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr.

Dharma Kesutra, Cepi Triatna dan Johar Permana. 2011. Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktik di Sekolah). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ebta Setiawan. 2010. KBBI- Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI Offline Versi 1.5, Freewere.

Imam al-Ghazali. Tt. Kitab al-Arba’in fi Ushul al-din. Kairo: Maktabah al-Kindi.

Imam Suprayogo. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter”, (Malang: UIN –Maliki Press.

M. Yatimin Abdullah. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Penerbit Amzah.

Muchson dan Samsuri. 2013. Dasar-Dasar Pendidikan Moral (Basis Pengembangan Pendidikan Karakter). Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Muhammad al-Ghazali. 1993. Akhlak Seorang Muslim. Semarang: Wicaksana.

Muhibbin Syah. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nashiruddin Abdullah bin Nashir at-Thurky. 1432. Al-Fasad al-Khuluqi fi al-Mujtama’ fi Dau’i al-Islam. Riyadh: Mathabi’ al-Hamidi.

Nur Hidayat. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Oemar Mohammad al-Toumy al-Syaibany. 1976. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Sahilun A. Natsir. 1991. Tinjauan Akhlak. Surabaya: Penerbit al-Ikhlas.

Ulil Amri Syafri. 2012. Pendidikan Karakter berbasis Al-Qur’an. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


[1] Nashiruddin Abdullah bin Nashir at-Thurky, “Al-Fasad al-Khuluqi fi al-Mujtama’ fi Dau’i al-Islam”, (Riyadh: Mathabi’ al-Hamidi, 1423 H), hlm. 16. Dalam Ulil Amri Syafri, “Pendidikan Karakter berbasis Al-Qur’an”, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 72.
[2] Sahilun A. Natsir, “Tinjauan Akhlak, (Surabaya: Penerbit al-Ikhlas, 1991), hlm. 14.
[3] Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, “Ihya’ ‘Ulumuddin”, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), hlm. 56. Dalam Ulil Amri Syafri, ibid., hlm. 73.
[4] M. Yatimin Abdullah, “Studi Akhlak dalam Perspektif al-Qur’an”, (Jakarta: Penerbit Amzah, 2007), hlm. 4. Dalam Ulil Amri Syafri,Pendidikan Karakter Berbasis Al Quran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 137-138.
[5] Ulil Amri Syafri, ibid., hlm. 104.
[6] Ebta Setiawan, KBBI- Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI Offline Versi 1.5, Freewere, 2010.
[7] Muchson dan Samsuri, op., cit., hlm. 21.
[8] Muchson dan Samsuri, “Dasar-Dasar Pendidikan Moral (Basis Pengembangan Pendidikan Karakter)”, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), hlm. 35.
[9] Nur Hidayat, “Akhlak Tasawuf, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), hlm. 8.
[10] Nur Hidayat, op., cit., hlm. 11.
[11] Nur Hidayat, op., cit., hlm. 14.
[12] Nur Hidayat, op., cit., hlm. 17.
[13] Dharma Kesutra, Cepi Triatna dan Johar Permana, “Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktik di Sekolah)”, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 4.
[14] Imam Suprayogo, “Pengembangan Pendidikan Karakter”, (Malang: UIN –Maliki Press, 2013), hlm. 43.
[15] Dharma Kesutra, Cepi Triatna dan Johar Permana, “op., cit., hlm. 9-10.
[16] Imam Suprayogo, “op., cit.”, hlm. 29.
[17] Imam Suprayogo, “op., cit.”, hlm. 33-36.
[18] Muhammad al-Ghazali, “Akhlak Seorang Muslim”,  (Semarang: Wicaksana, 1993), cet. IV, hlm. 13.
[19] Hari kemudian Ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya.
[20] Ibid., Muhammad al-Ghazali, hlm. 12.
[21] Ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.
[22] Rafats artinya mengeluarkan Perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[23] Maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.
[24] Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 123.
[25] Ulil Amri Syafri,Pendidikan Karakter Berbasis Al Quran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 137-138.
[26] Imam al-Ghazali, “Kitab al-Arba’in fi Ushul al-din”, (Kairo: Maktabah al-Kindi, t.t.), hlm. 190-191.
[27] Muhibbin Syah, op., cit., hlm. 118.
[28] Oemar Mohammad al-Toumy al-Syaibany,Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 420.
[29] Imam al-Ghazali, op., cit., hlm. 16.
[30] Slamet Suyanto, “Strategi Pendidikan Anak, (Yogyakarta : Hikayat Publishing, 2008), hlm. 46.