Selasa, 29 Oktober 2013

media pengajaran dengan isyarat dua tangan



                                                PENDAHULUAN
Dalam proses belajar mengajar, kehadiran alat / media mempunyai arti yang sangat penting. Karena dalam kegitan tersebut, ketidak jelasan bahan yang disampaikan, dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media pengajaran yang digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses belajar mengajar. Alat / media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indra pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya media/alat tersebut dapat mempercepat proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid cepat pula.
Penggunaaan media pengajaran dalam proses pembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran. Sebagai alat bantu, media memiliki fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi  dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Bukan pada masa modern saja,  penggunaan media/alat bantu pengajaran jga sudah dikenal sejak jaman Nabi Saw. Nabi Saw adalah sosok pendidik yaang agung bagi umat manusia. Meskipun pendidik pertama adalah Allah SWT nabi Muhammad pada dasarnya mempresentasikan dan mengejawantahkan apa yang diajarkan melalui tindakan, kemudian menerjemahkan tindakanya dalam kata-kata. Sehingga segala “materi”  yang diajarkan muhammadakan segera diterima para sahabatnya karena ucapanya yang diawali dengan contoh tindakan konkret.





PEMBAHASAN
MEDIA PENGAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN ISYARAT DUA TANGAN, MENUNJUK KE TELINGA DAN MATA, MENUNJUK KE
WAJAH DAN TELAPAK TANGAN

A.    Isyarat dengan dua tangan

اخرج البخاري فى الكتاب الغسل عن جبير بن مطعم رضي الله عنه قال : قال رسول الله
 صلى الله عليه وسلم : (أما أنا فأفيض على رأسى ثلاثا، وأشار بيديه كلتيها            

Artinya :
Meriwayatkan Imam Bukhori dalam kitab ( bab mandi ), dari jubair bin muth’im r.a, berkata Rosulullah SAW bersabda : adapun saya (Rosulullah )meratakanair di atas kepala saya tiga kali dan memberi isyarat dengan kedua tangan nya”.
1). Penjelasan
Hadits ini menerangkan bahwa Rosulullah memberikan contoh teladan baik dalam setiap perilaku, sampai hal-hal sekecil apapun beliau selalu memperhatikan. Ketika Rosulullah mandi jinabat beliau mengajarkan kepada sahabatnya. Ketika itu beliau menyiramkan air diatas kepala sebanyak tiga kali dan hal ini kemudian menjadi pelajaran bagi sahabatnya untuk dicontoh oleh umatnya.[1]
 
 أما أنافأفيض(adapun aku maka aku menyiram). Abu Nu’aim menyebutkan sebab nya dalam kitab Al Mustakhraj, dimana dibagian awal haditsnya disebutkan “Mereka menyebut-nyebut tentang mandi junub di dekat Rosulullah” maka beliau SAW mengucapkan sabdanya seperti diatas. Sementara dalam riwayat Imam Muslim melalui riwayat Abu Al Ahwas dari Abu Ishaq dikatakan “Mereka berdebat tentang Mandi (junub) di dekat Nabi SAW. Sebagian mereka berkata, “Adapun aku, maka aku menyiram kepalaku dengan cara begini dan begini.” Kemudian ia menyebutkan hadits diatas, dan bagian inilah yang tidak dicantumkan dalam hadits tadi.
 ثلاث( Tiga Kali). Lafadz ini memberi keterangan bahwa yang dimaksud dengan lafadz, “begini dan begini” adalah bahwa perbuatan tersebut dilakukan lebih dari tiga kali. Lalu diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur periwayatan lain, bahwa yang bertanya adalah utusan dari Tsaqif.
Susunan hadits diatas mengisyaratkan bahwa Nabi SAW tidak menyiram (badannya) kecuali tiga kali. Hal ini mengandung kemungkinan bahwa ketiga siraman itu adalah sebagai pengulangan, dan dimungkinkan juga bahwa setiap siraman tersebutuntuk bagian badan tertentu. Akan tetapi, hadits jabir di akhir bab menguatkan kemungkinan pertama.
عن جابر بن عبدالله قال: كان النبي صلى لله عليه وسلم  يفرغ على رأسه ثلاثا

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata. “biasanya Nabi  SAWmenyiram kepalanya tiga (kali).2
2). Nilai Tarbawi
a.       Seorang pendidik hendaknya dalam menyampaikan materi, pendidik menyampaikan dengan jelas, runtut agar dapat dipahami oleh peserta didik dengan mudah.
b.      Seorang pendidik dapat memanfaatkan media yang ada serta yang mudah dapat dijangkau oleh peserta didik.


B.     Hadits tentang menunjuk ke telinga dan mata
وعن سليم بن جبير مولى أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت ابا هريرة يقرأ هذه الآية : (ان الله 
             يأ مركم أن تؤدا الأمانات إلى اهلها) إلى قوله تعالى (سميعا بصيرا) قال    رايت رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع إبهامه على أذنه والتي تليها على عينيه. أخرجه ابو دود فى سننه[3]


Artinya :
“Dari Salim bin Jubair  berawal dari Abu Hurairah ra beliau berkata:  saya mendengar Abi Hurairah membaca ayat ini, “(sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerima amanat itu  ) sampai ayat ini (Maha Mendengar dan Maha Melihat) saya melihat Rosulullah meletakkan ibu jarinya atas telinga dan jari telunjuk atas matanya (menunjuk telinga dan mata).”HR.Abu Daud

1)      Penjelasan
Bahwa Allah memerintahkan kita untuk selalu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerima amanah itu, karena amanah merupakan sebuah titipan yang harus disampaikan. Orang yang menerima amanah tersebut merupakan orang yang mendapat kepercayaaan dari orang lain sehingga kita harus melaksanakan sesuai dengan apa yang diamanahkan. Kita harus menyampaikan amanah itu dengan apa adanya tanpa harus mengurangi atau menambahnya.

Hadits pendukung :
عن أبي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : اية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد اخلف وإذا أوتمن خان                                                                            

“Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, (1) ketika berbicara selalu bohong, (2) ketika janji selalu mengingkari, (3) ketika dipercaya selalu khianat.”


2). Nilai Tarbawi
a.       Mendidik seseorang untuk selalu berperilaku jujur
b.      Mendidik kita agar selalu tolong menolong antar satu dengan yang lain
c.       Mendidik kita agar selalu memiliki rasa tanggung jawab.

C.     Hadits tentang menunjuk ke wajah dan telapak tangan

عن عاءشة رضي الله عنها ان اسماء بنت ابي بكر دحلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعليها ثياب رقاق، فاْعرض عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال : يا اسماء ان المرءة اذا بلغت المحيض لم يصلح لها ان يرى منها الا هذا وهذا واشار الي وجهه وكفيه.

Artinya :
“hadits riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rosulullah SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rosululloh SAW berpaling darinya dan berkata :”Hai Asma,sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh)maka tak ada yang layak terlihat keculi ini.” (sambil menunjuk ke wajah dan telapak tangan).
1).  Penjelasan
Hadits ini menerangkan dua hal :
a.       Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan
b.      Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari hadits diatas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh
tubuh kecuali wajah dan dua  telapak tangan. Dari hadits tersebut
pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika
dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilaksanakan
maka akan menuai dosa.
Menutup aurat bagi wanita, bukn hanya sekedar memakai baju atau pakaian saja, melainkan harus diperhatikan layak dan tidaknya pakaian tersebut, seperti memakai pakian yang tipis hingga terlihat bentuk tubuh atau pakaian yang ketat hingga membentuk lekuk tubuh. Sebab cara berpakaian seperti itu dilarang oleh isalam.
Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat shalat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain yang bisa melihatnya.
2. Aspek tarbawi 
a.      Kewajiban seorang wanita yang akil baligh untuk menutup auratnya. Dan dalam berhijab terdapat beberapa syarat diantaranya :
Pertama menutupi seluruh badan kecuali wajah dan dua telapak tangan.
Kedua, hijab itu bukan dimaksudkan sebagai hiasan bagi dirinya, sehingga tidak diperbolehkan memakai kain yang berwarna mencolok, atau kain yang penuh gambar dan hiasan.
Ketiga, hijab itu harus lapang dan tidak sempit sehingga tidak menggambarkan postur tubuhnya.
Keempat, hijab yang digunakan itu tidak sobek sehingga tidak menampakkan bagian tubuh atau perhiasan wanita.
b.      Perintah menutup aurat ini, tidak lain untuk menjaga keutamaan, kehormatan, dan menjaga dirinya dari kejahatan yang timbul akibat dari memperlihatkan aurat tersebut.
c.       Orang yang senantiasa menutup auratnya karena mengharapkan ridho Allah dan maghfirah-NYA akan mendapat derajat yang sangat mulia di hadapan Allah SWT.








PENUTUP

Dari penjelasan hadits-haduts diatas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media pengajaran sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena media pengajaran sangat membantu dalam menyampaikan materi kepada peserta didik.
Media itu sendiri adalah merypakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, dan minat serta perhatian peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terwujud.
Penggunaan media pengajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi agar peserta didik dapat memperolehtujuan dari belajar tersebut. Kita bisa memanfaatkan media sederhana sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rosulullah dalam hadits nya.











DAFTAR PUSTAKA

Al Asqalani, Ibnu Hajar,2008,Fathul Baari syarah shahih Al Bukhori,jakarta : PUSTAKA AZZAM
Imam Nawawi, Terjemahan Sholihin jilid 1, jakarta : Pustaka Amani


[1] Ibnu hajar Al Asqolani,Fathul Baari syarah shahih Al Bukhari,terjemahan jilid 1,(jak-sel: pustaka Azzam.2008),hal 406-407
[2] log.cit.fathul Baari,hal 407
[3] Lukmanhakim.makalah hadits tarbawi,http://lukemanhakimon7.blogspot.com./2012/06/makalah-hadits-tarbawi.html.21/10/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar