Rabu, 19 November 2014

Laporan KKN Tematik Akhir



KARYA ILMIAH
PENCEMARAN AIR SUNGAI LOJI KELURAHAN KRPAYAK LOR
DAN
DAMPAK-DAMPAK LINGKUNGANNYA


Disusun oleh:
Nama              : IMAM SYAFI’I
NIM                :     2021 111 071

PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
KULIAH KERJA NYATA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pada zaman sekarang ini perkembangan teknologi dan industri yang begitu pesat memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia. Dampak yang bersifat positif memanglah menjadi harapan bagi semua manusia dalam rangka meningkatkan kualitas dan kenyamanan serta ketentraman dalam menjalani hidup ini. Sedangkan dampak yang bersifat negatif memang tidak akan menjadi harapan dikarenakan dapat menurunkan kualitas dan kenyamanan serta ketentraman dalam masyarakat.
Dalam hal ini dampak yang positif sudah barang tentu tidak akan memunculkan masalah bagi kehidupan manusia, namun dampak yang negatif yang perlu untuk kita waspadai dan kita atasi agar tidak menurunkan kualitas kehidupan manusia. Oleh sebab itulah hendaknya para ilmuan, industriawan, dan pemerintah serta masyarakat harus bekerja sama dalam meminimalisir dari adanya dampak negatif yang akan muncul di tengah-tengah masyarakat.
Di sisi lain manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidupnya dengan mengeksploitasi/memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Di lain pihak, manusia juga harus mampu menerima dampak baik atau buruk dari adanya pemanfaatan alam tersebut. Seharusnya dalam membangun sebuah industri hendaknya manusia harus memperhatikan keseimbangan alam yang ada di sekitarnya agar ekosistem alam tersebut tidak terganggu dan dapat berjalan sebagaimana dengan sunnatullah.
Pencemaran air sungai pekalongan sudah semakin memprihatinkan, terutama daerah Krapyak Lor yang mana limbah industi sudah mulai menampakkan dampak negatifnya di tengah-tengah masyarakat. Warna, bau, rasa, kebersihannya pun sudah mulai tidak terjaga dengan sebaik-baiknya. Kemudian pedangkalan kedalaman air yang disebabkan banyaknya sampah yang menumpuk serta menambah semerbaknya bau busuk di sekitar air sungai.
Pencemaran air sungai yang terjadi di Krapyak Lor adalah bersumber dari industri rumahan batik yang ada di perkampungan Krapyak Lor dan limbah rumah warga yang langsung dialirkan ke sungai. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan di sekitar sungai Krapyak Lor.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang tersebut di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah, sebagai berikut:
1.      Bagaimana kehidupan sosial masyarakat Krapyak Lor?
2.      Bagaimana keadaan air sungai Krapyak Lor?
3.      Apa pencemaran air sungai Krapyak Lor?
4.      Bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dari adanya pencemaran air di Sungai Krapyak Lor?
C.    Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut, maka dapat diambil kesimpulan dengan tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat Krapyak Lor.
2.      Untuk mengetahui keadaan air sungai Krapyak Lor.
3.      Untuk mengetahui pencemaran air sungai Krapyak Lor
4.      Untuk mengetahui dampak-dampak yang diakibatkan adanya pencemaran air sungai Krapyak Lor?












PEMBAHASAN
A.    Profil Singkat Kelurahan Krapyak Lor
Kota Pekalongan adalah salah satu kota di pesisir pantai utara Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan dengan laut jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat dan Kabupaten Batang di timur. Kota Pekalongan terdiri atas 4 kecamatan, yakni Pekalongan Utara, Pekalongan Barat, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Timur. Kota Pekalongan terletak di jalur pantai Utara Jawa yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Kota Pekalongan berjarak 384 km di timur Jakarta dan 101 km sebelah barat Semarang. Kota Pekalongan mendapat julukan kota batik. Hal ini tidak terlepas dari sejarah bahwa sejak puluhan dan ratusan tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.
Krapyak sendiri terletak di pekalongan bagian utara, yang mayoritas penduduknya beragama muslim dan banyak memproduksi batik. sedangkan penamaan krapayak sendiri mengalami kesulitan untuk mengetahuinya, Karena tidak adanya pembukuan atau dokumentasi dari para sesepuh sebelumnya. Sehingga mengenai asal usul daerah krapyak sendiri belum dapat diketahui secara jelas dan juga ketika para sesepuh warga sudah meninggal kejelasan penamaan desa kurang diketahui oleh warga. Penuturan dari pak carek desa krapyak lor saat di wawancarai di tempat kerja menyebutkan demikian bahwa sejarah desa belum begitu diketahui karena tidak ada nya pembukuan, akan tetapi perlu diketahui bahwa nama desa Krapyak masing-masing daerah di indonesia mepunyainya seperti halnya di solo, semarang, jogja. Sehingga nama desa sudah ada penentuanya sendiri.[1]
Namun hasil wawancara dari ibu Alifah umur 63 tahun mengenai asal usul krapayak dapat diketahui bahwa  pada Zaman dahulu ada hujan yang datangnya dari arah selatan, atau dari daerah pegunungan. Yang mana air hujan tersebut turun kepesisir hingga menyebabkan banjir hingga beberapa meter, karena zaman dahulu belum ada yang namanya lantai ataupun pondasi seperti dizaman modern ini, dan pada zaman dahulu masih menggunakan tanah sebagai pengganti lantai, karena adanya banjir kiriman dari daerah pegunungan sehingga  tanah tersebut penuh dengan air banjir kiriman  serta menyebabkan kebecekan disekitar rumah warga maupun didalam rumah warga sendiri. Dan karena tanah tersebut penuh dengan air hingga ketika berjalan ada suara kropyak kropyaknya maka dari situlah daerah tersebut dinamakan dengan Desa KRAPYAK yang samapai sekarang masih  bertempat dipekalongan utara. Dari hasil cerita turun temurun mengenai penamaan krapyak yang banyak diketahui warga sekitar seperti yang dipaparkan diatas. Dan Krapyak sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu krapyak utara dan krapyak selatan, namun rencana program dari pemerintahan akan dijadikan satu menjadi nama krapyak tanpa adanya pemisahan lagi.[2]
B.     Kondisi Sungai Krapyak Lor menurut Warga
Sungai krapyak lor merupakan sungai yang berada di Kecamatan Pekalongan Utara adalah wilayah pesisir pantai utara (laut Jawa), sehingga sebagian wilayahnya yang berdekatan dengan pantai seringkali mengalami Rob (air laut pasang). Wilayah yang sering mengalami bencana rob antara lain; Kelurahan Panjang Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Krapyak Lor. Keadaan rob yang demikianyang nantinya air sungai akan naik sehingga terjadi banjir setiap tahunya apalagi pada musim hujan.
Hal ini juga  karena kondisi tanahnya lebih rendah dibanding dengan daratan disekitarnya. Penamaan masyarakat sungai krapyak tidak jauh berbeda dengan adanya desa krapyak yang ada di setiap daerahnya, sehingga dari penaman sungai krapyak karena keberadaanya di daerah krapyak itu.  Belum adanya penaamaan krapyak secara jelasnya.
Berdasarkan penelusuran sungai yang telah kami lakukan bahwa kedalaman sungai krapyak lor, pekalongan utara yaitu sekitar 3,3 m, sedangkan lebar sungai yaitu sekitar 75 m, dengan warna air coklat lumpur dan hitam kelam karena banyak tercemar limbah batik. Warna hitam air akan tampak jelas bila mana saat musim kemarau tiba.[3]
C.    Sumber Pencemaran Air Sungai
1.      Sampah
Sungai yang berada di daerah krapyak adalah sungai yang berasal bukan dari daerah krapyak lor saja sendiri sungai berasal dari krapyak kidul juga, kondisi keadaan sungai yang kotor dan  banyak sampah merupakan gambaran dari keadaan sungai yang nampak jelas dan nyata, kondisi sungai yang menghubungkan dua tembapt panjang wetan sehingga dapat di jadikan sebagai alat transportasi dengan adanya batasan-batasan sungai yang di jadikan tempat penyebrangan.
Berdasarkan penelusuran bersama pak jo batasan sungai yang ada di krapyak lor banyak beberapa pengamatan uyang tidak dapat di pungkiri, bahwa kondisi sampah mememang sudah banyak baik yang berada di dalam air maupun sekitar sungainya juga, banyak tumpukan salmah yang berada di sekitar sungai yang berasal dari  penduduk setempat.
Pola kebiasaan yang sudah menjadi hal yang lumrah bahwa membuang sampah di sekitar sungai bahkan kesungainya sekalipun. Dalam kebersihan terhadap lingkunganya sangatlah miris akan tetapi bukan halnya itu saja dalam kebersihan terhadap dirinya disisni masyarakat masih membiasakan pola yang kurang baik dengan MCK yang tidak pada tempatnya.
Kondisi air sungai dapat dilihat hitam yang lebih sering terjadi adapun beda warna keruh disebabakan pola hujan dan air rob yang datang dari arah mana apakah kiriman dari sungai atas ataupun dati arah laut.
Perlu diketahui sungai krapyak yang berasal dari sungai pekalongan bermuara langsung ke laut Slamaran sehingga dalam sekitar daerah tersebut dijadikan tempat persinggahan perahu-perahu besar (dijadikan dog).
2.      Limbah
Tampak memang disekitar sungai limbah-limbah yang ada di sekitar sungai mulai dari sampah-sampah baik dari yang organik maupun an organik seperti plastik   samapah peralatan rumah masak memasak dan lain sebagainya yang mana sampah sampah tersebut telah menyatu dengan air yang ada di sungai, limbah yang tak kalah memprihatikan sama halnya seperti sungai sungai yang telah tercemar pada umumnya ada adalah warna sungai yang sudah tidak lagi seperti sungai bersih, sungai yang berwarna hitam dan kotor yang mana tidaklah lepas dari limbah produksi batik.
Pekalongan sebagai kota batik memang kental akan rumah produksi pembuatan batik dan di desa krapyak sendiri secara mayoritas bermata pencaharian pelaut akan tetapi masih ada sebagian oarng yang bermata pencaharian batik, warna sungai yang bisa dikatakan juga sebagian tercemar oleh limbah juga dipengaruhi produksi batik yang ada di sungai sungai hulu sehingga sungai hilir yang sebagai  muara sungai juga akan ikut tercemar.[4]
D.    Pencemaran Air Sungai
Pencemaran air terjadi apabila telah ada penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air masih tergantung pada faktor penentu yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air. Ukuran air bersih atau tidak tercemar ditentukan oleh kemurnian air.[5]
Tanda atau indikator bahwan bahwa air sungau/ lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau atau tanda yang dapat diamati melalui:
Ø  Adanya perubahan suhu air
Ø  Adanaya perubahan Ph atau konsentrasi ion hydrogen. Air normal mempunyai pH 6,5 – 7,5. Air yang mempunyai pH yang lebih kecil dari pH normal akan bersifat basa. Air limbah buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan merubah pH yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air.
Ø  Adanya perubahan warna, baud an rasa air. Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan organik/an organik seringkali dapat terlarut dalam air, maka akan terjadi perubahan warna air. Air dalam keadaan normal dan bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih.
Ø  Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut.
Ø  Adanya mikroorganisme.
Ø  Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan.[6]
E.     Dampak Pencemaran Air Sungai
Air yang telah tercemar dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi kelangsungan kehidupan manusia. Kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air dapat berupa:
*      Air menjadi tidak bermanfaat lagi.
*      Air dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit.

1.      Air menjadi tidak bermanfaat lagi
Air yang tidak dapat dimanfaatkan lagi akibat pencemaran air merupakan kerugian yang terasa secara langsung oleh manusia. Kerugian ini pada umumnya disebabkan oleh adanya pencemaran air oleh berbagai kalangan dan macam komponen pencemar air. Bentuk kerugian langsung ini antara lain berupa:
ð  Air tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan rumah tangga.
Air yang telah tercemar dan kemudian tidak dapat digunakan lagi sebagai penunjang kehidupan manusia, terutama untuk keperluan rumah tangga yang akan menimbulkan dampak social yang sangat luas dan akan memakan waktu lama untuk memulihkannya. Padahal air yang dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga sangat banyak, mulai untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan lain sebagainya.
ð  Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri.
Pencemaran air dapat mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan untuk keperluan industri yang mana usaha untuk meningkatkan kehidupan manusia tidak akan pernah tercapai. Sebagai contoh, air lingkungan yang berminyak (karena tercemar minyak), yang mana air tersebut tidak lagi digunakan sebagai solvent atau sebagai air ketel uap. Pusat listrik tenaga uap tidak dapat menggunakan air sadah.
ð  Air tidak dapat digunakan untuk keperluan pertanian.
Air tidak dapat digunakan lagi sebagai air irigasi, untuk pengairan di persawahan dan kolam pernikahan, karena adanya senyawa-senyawa an organik yang mengakibatkan perubahan drastis pada Ph air. Air yang bersifat terlalu basa akan mematikan tanaman dan hewan air. Selain dari itu banyak senyawa an organik yang mengandung racun seringkali justru bening, seolah-olah tidak tercemar.
2.      Air menjadi penyebab timbulnaya penyakit
Pencemaran air dapat menimbulkan kerugian jauh lebih besar lagi yaitu kematian. Kematian dapat terjadi karena pencemaran yang terlalu parah, air dapat menimbulakan berbagai macam penyakit.
Penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air dapat berupa:
*      Penyakit menular
Penyakit menular akibat pencemaran air dapat terjadi karena berbagai macam sebab, antara lain:
a.       Air merupakan tempat berkembang biak mikroorganisme, termasuk mikroba pathogen.
b.      Air yang telah tercemar tidak dapat digunakan sebagai air pembersih, sedangkan air bersih sudah tidak mencukupi sehingga kebersihan manusia dan lingkungannya tidak terjamin yang pada akhirnya menyebabkan manusia mudah terserang penyakit.
Jenis Mikroba
Penyakit
Virus:

Rota Virus
Diare, terutama pada anak-anak
Virus Hepatitis A
Hepatitis A
Virus Poliomyeletis
Poliomyeletis
Bakteri:

Vibrio Cholerae
Cholera
Esheceria Coli
Diare/ Disentri
Salmonella Typhi
Typhus
Salmonella Partyphi
Patrathypus
Shigella Dysenteriae
Dysentri
Protozoa:

Entaamoeba Histolyca
Dysentri Amoeba
Balantida Coli
Balantidiasis
Giardia Lamblia
Giardiasis
Metazoa:

Ascaris Lumbricoides
Ascaris
Clonorchis Sinensis
Clonorchiasis
Diphyllobothrium Latum
Diphyllobothriasis
Tawenia Saginata
Taeniasis
Schistosoma
Schistosomiasis[7]

*      Penyakit tidak menular
Sekalipun dikatakan sebagai penyakit tidak menular, namun penyakit ini tetap merupakan bahaya besar karena dapat mengakibatkan kematian. Penyakit tidak menular dapat muncul terutama karena air lingkungan telah tercemar oleh senyawa an organic yang dihasilkan oleh industri yang banyak menggunakan unsur logam. Selain dari hal itu, senyawa organic pun bisa menyebabkan penyakit yang tidak menular. Pembuangan limbah industri secara sembarangan ke lingkungan yang sangat merugikan kehidupan manusia karena hal ini dapat menimbulkan penyakit atau kercunan yang menyebabkan cacat dan kematian.
a.       Keracunan Cadmium
Keracunan Cadmium dapat terjadi karena banyak industri yang menggunakan logam Cadmium dalam proses produksinya. Seperti pada pabrik PVC yang menggunakan Cadmium sebagai stabilitatornya.
b.      Keracunan Cobalt
Keracunan Kobalt dapat terjadi apabila makanan dan minuman mengandung Co 150 ppm atau lebih. Kobalt yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah banyak akan merusak kelenjar gondok sehingga penderita akan kekurangan hormone kelenjar gondok. Selain itu juga dapat membuat sel darah merah menjadi berubah, tekanan darah menjadi tinggi, pergelangan kaki membengkak, dan gagal jantung.
c.       Keracunan Air Raksa (Hg)
Gejala keracunan merkuri ditandai dengan sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi kabur dan daya dengar menurun. Selain itu, orang yang keracunan merkuri merasa tebal di bagian tangan dan kaki, mulut terasa tersumbat oleh logam, gusi membengkak dan disertai pula dengan diare. Kematian dapat terjadi karena kondisi tubuh yang makin melemah. Wanita yang mengandung akan melahirkan bayi yang cacat apabila keracunan merkuri.
d.      Keracunan Bahan Insektisida
Jika keracunan bahan insektisida yang akibatnya jangka panjang, ini akan lebih berbahaya karena akan mengakibatkan penyakit tertunda. Penyakit tertunda tersebut adalah penyakit kanker kulit, kanker paru-paru dan kanker hati. Timbulnya penyakit kanker ini disebabkan karena bahan insektisida bersifat merangsang timbulnya kanker.[8]

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan kepadatan penduduk sehingga menyebabkan pula kenaikan standar hidup. Hal ini terjadi dengan mengorbankan sumber daya alam dan membuang sisa-sisa itu tidak tercernakan secara ilmiah. Seiring berkembangnya zaman teknologi semakin maju sehigga mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan begitu cepat dan serba instant. Berkenaan dengan itu agar sepatutnya manusia memiliki rasa peduli dengan keaadaan lingkungan sekitarnya sehingga akan menimbulkan suatu keseimbangan dalam ekosistem lingkungan tersebut pada umumnya dan kebersihan air sungai pada khususnya.
Pencemaran yang difokuskan dalam karnya ilmiah ini yaitu akibat atau dampak yang ditimbulkan dari adanya pencemaran lingkungan sungai pada khususnya air barsih yang dijadikan sebagai sumber kehidupan oleh masyarakat. Dampaknya ada dua yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif tersebut antara lain bertambah majunya perekonomian masyarakat dari segi perdagangan batik. Sedangkan dampak negatifnya antara lain yaitu adanya pencemaran limbah terhadap kebersihan air sungai.
B.     Saran
Menurut uraian tersebut, maka penulis akan sedikit memberikan saran sebagai upaya sumbangsih penulis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang telah ada antara lain :
1.      Masyarakat yang berada di sekitar sungai dan yang secara langsung mendapatkan dampak negatif dari adanya pencemaran limbah air sungai ini hendaknya mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan pejabat setempat agar memberikan suatu bimbingan dan penyuluhan tentang arti pentingnya melestarikan sumber kehidupan bagi manusia terutama dalam hal kebersihan air sungai.
2.      Pencemaran air sungai krapyak merupakan suatu tanggung jawab dan tugas masyarakat untuk menanggulanginya secara keseluruhan baik dari kalangan muda maupun tua sehingga akan memunculkan suatu kesadaran secara kolektif dan akan menciptakan suatu tatanan dan lingkungan sungai yang bersih, indah dan tidak membosankan.

DAFTAR PUSTAKA
Wardhana, Wisnu Arya Wardhana. 2009. Dampak Pencemaran Lingkungan (Yogyakarta: Penerbit: Andi)
Hasil wawancara dengan warga yaitu Pak Raharjo (Petugas Kebersihan Sungai dari Kel. Krapyak Lor)
Sumber dari arsip kantor Kelurahan Krapyak Lor
Hasil wawancara dari ibu Alifah umur 63 tahun


[1] Sumber dari arsip kantor Kelurahan Krapyak Lor.
[2] Hasil wawancara dari ibu Alifah umur 63 tahun
[3] Sumber dari arsip kantor Kelurahan Krapyak Lor.
[4] Hasil wawancara dengan warga yaitu Pak Joe (Petugas Kebersihan Sungai dari Kel. Krapyak Lor)
[5] Wisnu Arya Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan (Yogyakarta: Penerbit: Andi, 2009), Hlm .73
[6] Ibid,.hlm.75-77.
[7] Ibid.,hlm.135-138
[8] Ibid.,hlm. 145-151

Tidak ada komentar:

Posting Komentar