Minggu, 06 April 2014
KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
MAKALAH
KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Metode Penelitian Pendidikan
Dosen
Pengampu : AHMAD TARIFIN, MA
Disusun
Oleh :
IMAM SYAFI’I (2021 111 071)
Kelas:
F
JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2013
PEMBAHASAN
1.
KERANGKA TEORI
A.
Definisi Kerangka Teori
Kerangka teoritis adalah dukungan dasar teoritis sebagai
dasar pemikiran dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi peneliti. Kerangka
teoritis adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang
hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, subvariabel, atau pokok masalah
yang ada dalam penelitiannya.
Theory is a set of interelated construct or concept,
definition, and proposition that presents a systematic view of phenomena by
specifying relations among variables
with the purpose of explanation and predicting the phenomena. (Kerlinger,
2000:11). Teori adalah satu set konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang
saling berhubungan, yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik mengenai
suatu fenomena dengan menspesifikkan hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk
menjelaskan dan memprediksi fenomena;
A theory is generalization or series of
generalization by which we attempt to explain some phenomena in a systematic
manner (Wiersma, 1986:17). Teori adalah generalisasi atau seri generalisasi
di mana kita mencoba menjelaskan suatu fenomena dengan cara yang sistematis. A
theory is a systematic explanation for the observed facts and laws that relate
to a particular aspect of life (Babbie, 1989:46).
Untuk memahami arti teori ada beberapa pengertian teori menurut para ahli: Kerlinger (2000:11)
mengungkapkan bahwa teori adalah seperangkap keterkaitan konstrak atau konsep,
definisi, dan proposisi yang mencerminkan pandngan sistematik mengenai fenomena
melalui penentuan hubungan antar variabel secara sepesifik, dengan tujuan
menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena. Sedangkan Neoman (2000:40)
mengungkapakn mengenai teori sosial sebagai suatu sistem keterkaitan antar
abstraksi ide-ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan mengenai
dunia sosial.
Pengertian diatas memberikan gambaran bahwa
teori adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk menguraiakan suatu fenomena
yang saling terkait antara satu dan yang lainya.[1]
B.
Tingkatan Teori
Menurut Neuman
mengemukakan tentang teori berdasarkan tingkatannya yaitu:
1. Teori tingkat Mikro Level
Dalam tingkat ini memberi penjelasan hanya terbatas
pada peristiwa yang berskala kecil, baik dari sisi waktu, ruang, maupun jumlah
orang. Seperti dalam sosiologi dikenal dengan teori “Face Work” Erving Goffman
yang mengkaji kegiatan ritual dua orang yang saling berhadapan atau bertatap
muka.
2. Teori Meso Level
Teori ini menghubungkan tingkat mikro dan makro,
misalnya teori organisasi, gerakan sosial, atau komunitas teori Collin tentang
kontrol organisasi.
3. Teori Makro Level
Teori ini menjelaskan objek yang lebih luas seperti
lembaga sosial, sistem budaya,dan masyarakat secara keseluruhan. Misalnya,
teori makro Lenski tentang stratafikasi sosial.[2]
C.
Peran Teori dalam Penelitian
Teori
dalam penelitian memiliki beberapa peranan antara lain:
1.
Memberi kerangka pemikiran bagi
penelitian;
2.
Membantu peneliti dalam menyusun
hipotesis penelitian;
3.
Memberikan landasan yang kuat
dalam menjelaskan dan memaknai data dan fakta;
4.
Mendudukkan permasalahan
penelitian secara logis dan runtut;
5.
Membantu dalam membangun ide-ide yang
diperoleh dari hasil penelitian;
6.
Memberi acuan dan menunjukkan
jalan dalam membangun kerangka pemikiran;
7.
Memberikan dasar-dasar konseptual
dalam merumuskan definisi operasional;
8.
Membantu mendudukkan secara tepat
dan rasional dalam menyintesis dan mengintegrasikan gagasannya.
Semua penelitian
bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam
sebuah penelitian teori yang digunakan harus sudah jelas karena fungsi teori
dalam sebuah penelitian menurut Sugiyono adalah sebagai berikut:
1. Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam
ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti;
2. Untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen
penelitian;
3. Memprediksi dan membantu menemukan fakta tentang
sesuatu hal yang hendak diteliti.[3]
D.
Prosedur Penyusunan Teori
1.
Melakukan kajian pustaka;
2.
Melakukan sintesis atau modifikasi
antara teori yang satu dengan teori yang lain;
3.
Menyusun sendiri kerangka
pemikiran secara logis, runtut, dan rasional;
4.
Merumuskan hipotesis;
5.
Melakukan penelitian untuk menguji
hipotesis;
6.
Merumuskan teori baru.
Agar penjelasan tentang
kerangka teoritis (berpikir) ini lebih mengenai sasaran, berikut ini akan
dikemukakan contoh penelitian.
Contoh:
Kualitas Pengelolaan Kelas Ditinjau
dari Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Guru Sekolah Dasar
Untuk dapat menyusun
kerangka teoritis bagi penelitian dengan judul di atas, peneliti terlebih
dahulu harus menentukan pengertian-pengertian yang terkandung dalam judul tersebut
antara lain:
1.
Kualitas pengelolaan kelas;
2.
Latar belakang pendidikan guru;
3.
Pengalaman mengajar guru;
4.
Pengaruh latar belakang pendidikan
guru terhadap kualitas pengelolaan kelas;
5.
Pengaruh pengalaman mengajar guru
terhadap kualitas pengelolaan kelas.
E.
Proses Penyusunan Kerangka
Teoritis
2.
Tinjauan Pustaka
A.
Definisi Tinjauan Pustaka
1.
Tinjauan pustaka sering juga
disebut kajian atau telaah pustaka (literature review).
2.
Tinjauan pustaka adalah kegiatan
mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi pengetahuan.
3.
Tinjauan pustaka adalah pandangan
kritis terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan yang signifikan
dengan penelitian yang sedang (akan) kita lakukan.
Tinjauan
pustaka berisi uraian tentang penelitian-penelitian sebelumnya, tentang
permasalahan yang sama atau yang serupa. Setiap penelitian dan hasilnya
haruslah ditempatkan dalam konteks body of knowladgenya untuk itu
peneliti perlu menjelaskan pada orang lain dimana letak penelitian. Dalam
tinjauan pustaka peneliti perlu meninjau secara kritis data yang sudah
ditemukan sebelumnya, analisis-analisis yang sudah dilakukan sebelumnya,
faktor-faktor yang belum diperhatikan oleh penelitian-penelitian sebelumnya,
kekuatan dan kelemahan logika yang ada dalam penelitian-penelitian sebelumnya,
dan persetujuan dan ketidak setujuan diantara penelitian-penelitian sebelumnya.[4]
Suatu penelitian didasarkan pada penelitian atau
kajian sebelumnya hasil penelitian/kajian sebelumnya dijadikan landasan dalam
menentukan topik, permasalahan, arah, tujuan penelitian/kajian Tinjauan pustaka
penting untuk menentukan kedudukan hasil penelitian terhadap penelitian sebelumnya
untuk menentukan bobot penelitian agar penulis/peneliti tidak terjebak pada
pandangan sempit isi studi kepustakaan dapat berbentuk kajian teoritis yang
pembahasannya difokuskan pada informasi sekitar permasalahan yang hendak dipecahkan
melalui penelitian.[5]
Anggapan beberapa
orang bahwa tinjauan pustaka merupakan ringkasan adalah tidak benar. Walaupun
kita harus meringkas penelitian yang relevan, adalah sangat penting bahwa kita
juga melakukan evaluasi terhadap karya tersebut, memperlihatkan hubungannya
dengan karya-karya lain, dan memperlihatkan bagaiamana karya tersebut terkait
dengan penelitian kita. Hal ini dilakukan dalam rangka agar penelitiannya dapat
diketahui sejauh mana hasil, pembahasan, dan temuan penelitian terdahulu sehingga
penelitian yang hendak dilakukannya dapat dibedakan dari penelitian terdahulu. Itulah
sebabnya, sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti hendaknya banyak
membaca dan mengkaji literatur yang mendukung penelitiannya.
B.
Keterkaitan Antarbagian dalam
Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoritis
C.
Tujuan Tinjauan Pustaka
Leedy (1997, hal. 71) menerangkan bahwa suatu
tinjauan pustaka mempunyai kegunaan untuk:
(1)
mengungkapkan penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan)
kita lakukan; dalam hal ini, diperlihatkan pula cara penelitian-penelitian
tersebut menjawab permasalahan dan merancang metode penelitiannya;
(2)
membantu memberi gambaran tentang metoda dan teknik yang dipakai dalam
penelitian yang mempunyai permasalahan serupa atau mirip penelitian yang kita
hadapi;
(3)
mengungkapkan sumber-sumber data (atau judul-judul pustaka yang berkaitan) yang
mungkin belum kita ketahui sebelumnya;
(4)
mengenal peneliti-peneliti yang karyanya penting dalam permasalahan yang kita
hadapi (yang mungkin dapat dijadikan nara sumber atau dapat ditelusuri karya
-karya tulisnya yang lain—yang mungkin terkait);
(5)
memperlihatkan kedudukan penelitian yang (akan) kita lakukan dalam sejarah
perkembangan dan konteks ilmu pengetahuan atau teori tempat penelitian ini
berada;
(6)
menungkapkan ide-ide dan pendekatan-pendekatan yang
mungkin belum kita kenal sebelumya;
(7)
membuktikan keaslian penelitian (bahwa penelitian yang kita lakukan berbeda
dengan penelitian-penelitian sebelumnya); dan
(8)
mampu menambah percaya diri kita pada topik yang kita pilih karena telah ada
pihakpihak lain yang sebelumnya juga tertarik pada topik tersebut dan mereka
telah mencurahkan tenaga, waktu dan biaya untuk meneliti topik tersebut.
Dalam penjelasan yang hampir serupa, Castetter
dan Heisler (1984, hal. 38-43) menerangkan bahwa tinjauan pustaka mempunyai
enam kegunaan, yaitu:
(1)
mengkaji sejarah permasalahan;
(2)
membantu pemilihan prosedur penelitian;
(3)
mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan;
(4)
mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu;
(5)
menghindari duplikasi penelitian; dan
(6) menunjang
perumusan permasalahan.[6]
Studi kepustakaan
dilakukan oleh setiap penelitian dengan tujuan yang utama yaitu mencari dasar
pijakan atau fondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka
berfikir, dan menentukan dugaan sementara atau yang sering duisebut sebagai
hipotesis penelitian sehingga para peneliti dapat mengerti, melokasikan,
mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variasi pustaka dalam bidangnya.[7]
Tujuan penyusunan
tinjauan pustaka yaitu:
1.
Memperlihatkan mengapa
literatur itu perlu dilakukan;
2.
Memperlihatkan
bagaimana sampai pada keputusan memilih metodologi atau teori tertentu yang
digunakan;
3.
Menambah informasi
terhadap penelitian yang telah ada;
4.
Meringkas karya yang
dibaca;
5.
Memutuskan gagasan atau
informasi yang penting bagi penelitian itu;
6.
Mengabaikan gagasan
mana yang kurang penting.
DAFTAR
PUSTAKA
[3] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.(
Bandung: Alfabeta. 2010). Hlm. 57.
[4] Bagong Suyatno dan Supinah, Metodologi penelitian
sosial, cet.6, (Jakarta: kencana, 2011), hlm. 295.
[6] http://dunia-penelitian.blogspot.com/2011/10/pengertian-tinjauan-pustaka.html , di ases
tanggal 5 april 2014.
[7] Sukardi, metodologi Penelitian pendidikan,(jakarta:bumi
Aksara,2003). Hlm. 33-34
Senin, 24 Maret 2014
Takhrij Khadits
Nama: IMAM SYAFI’I
NIM: 2021 111 071
PAI/ TARBIYAH
Lomba Takhrij Khadits
1.
Kata Kunci Hadits :
...... ألا
واستوصوا بالنساء خيرا فإنما هن عوان عندكم
2.
Petunjuk Hadits :
ألا
واستوصوا بالنساء خيرا
Referensi :
سليمان بن أحمد
بن أيوب أبو القاسم الطبراني، المعجم الكبير، مكتبة العلوم والحكم- الموصول، الطابعة
الثانية: ١٩٨٣- ١٤٠٤، عددالأجزاء: ٢٠
3.
Matan Hadits & Rawi :
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا
الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ شَبِيبِ بْنِ
غَرْقَدَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْأَحْوَصِ قَالَ حَدَّثَنِي
أَبِي أَنَّهُ شَهِدَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَذَكَّرَ وَوَعَظَ
فَذَكَرَ فِي الْحَدِيثِ قِصَّةً فَقَالَ أَلَا
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ
عَوَانٌ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا
أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي
الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا
تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا
وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا
يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ
أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ
وَطَعَامِهِنَّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَمَعْنَى
قَوْلِهِ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ يَعْنِي أَسْرَى فِي أَيْدِيكُمْ
Referensi : Mukhammad bin Isa bin Shaurah bin Musa bin
Dhohak, al-Turmudli, Abu Isa, {Kitab Sunan at-Tirmidzi, bab: ما جاء في حق المرأة
على زوجها , juz: 4, hal:
391, no hadits: 1083}
4.
Terjemah Hadits :
Hasan bin Aliy al-kholal telah menceritakan kepada kami, Khusain bin Ali
al-Ju’fi telah menceritakan kepada kami dari Zaidah dari Syabib bin Ghorqodah
dari Sulaiman bin ‘Amri bin Akhwash telah berkata, Ayahnya telah menceritakan
kepadaku, sesungguhnya ayahku telah menyaksikan haji wada’ bersama Rosulullah
saw. Maka Rasul telah memuji Allah dan Allah telah dipuji oleh Rasul dan Rasul
telah mengingatkan dan telah menjajikan. Maka Rasul telah mengingatkan dalam
hadits tentang qishshoh, maka nabi telah bersabda: ingat-ingatlah dan kalian
semua berwasiatlah perkara yang begus kepada kaum wanita/ nisa’, karena
sesungguhnya perkaranya kaum wanita adalah lebih mudah/ lebih ringan disisi
kalian semua, bukanlah kamu sekalian memiliki sesuatu yang selain dari itu,
dari antara kaum wanita tersebut kecuali kaum wanita mendatangi dengan menjadi
orang yang membuat kerusakan yang jelas, dan jika wanita tersebut berbuat
perkara yang jelek itu, maka kalian pindahkanlah wanita-wanita itu di tempat
yang tinggi dan pukullah wanita itu dengan satu pukulan yang tiada meninggalkan
bekas dan jika wanita itu telah taat kepamu semua maka janganlah kamu semua
menghindari jalannya dari wanita itu, ingatlah sesungguhnya kamu sekalian
memiliki hak atas kaum wanita, dan kaum wanita memiliki hak atas kamu sekalian,
adapun haknya kamu semua atas wanita kamu sekalian yaitu janganlah wanita itu
di wathi/ duhul bila mana orang tersebut masih dalam keadaan marah, dan
janganlah mengizinkan orang bila mana masih dalam keadaan gawat, ingatlah
haknya wanita atas kamu sekalian yaitu mendapat perlakuan yang bagus dari kamu
sekalian di dalam kehiduannya dan memberi makan kepadanya. Abu Isa telah
berkata bahwa hadits ini khasan, shokhih keduduknnya dan makna kata dari ‘awanun
‘indakum’ yaitu ‘asro fi aidikum’ yang artinya lebih mudah dalam
kekuasaan kalian semua.
Refrensi : Terjemah
sendiri. Hehe
5.
Maksud Hadits :
Hadits ini menjelaskan tentang hukum jender seorang wanita yang
mana kedudukannya lebih baik/ bagus dari seorang perempuan apabila dalam
dirinya mempunyai peranan atau eksistensi yang bermanfaat bagi masyarakat pada
umumnya dan agama pada khususnya. Kemudian hadits ini juga menjelaskan
hendaknya kita tidak bertindak semena-mena terhadap kaum wanita karena dalam
diri wanita itu ada hak yang harus dipenuhi oleh kaum laki-laki dan kaum
laki-laki juga punya hak atas bagi kaum wanita yang harus d patuhinya. Selain
itu kaum laki-laki juga harus berbuat yang baik terhadap kaum wanita.
6.
Sebab Wurud Hadits :
Hadits ini muncul karena adanya suatu peristiwa pada haji wada’
yang mana ada pihak laki-laki yang berbuat kasar terhadap kaum wanita. Kedua
pihak tersebut tidak memahami adanya hak masing-masing yang harus dipenuhi oleh
kedua pihak tersebut. selain itu adanya perlakuan kasar dari kaum laki-laki
terhadap kaum wanita, dengan adanya hadits ini maka muncullah sebuah study
dengan nama study gender yang menjunjung tinggi maratabat kaum wanita yang
tidak melupakan akan hak-haknya sebagai seorang isteri dalam rumah tangganya.
Referensi : Jalaludin
as-Suyuthiy, {Asbab Wurud al-khadits awil lam’i fii asbabil khadits}
7.
Biografi Perawi :
a.
Nama :
Akhwash
Biografi :
b.
Nama :
Sulaiman bin Amriy bin
Biografi :
c.
Nama :
Syabib bin Ghorqodah
Biografi :
d.
Nama :
Zaidah
Biografi :
e.
Nama :
Husain bin Ali al-Ju’fiy
Biografi :
nama aslinya Husain bin Ali bin walid al-Ju’fiy, lahir tahun 119 M dan
meninggal pada usia 204 M/ 3 H, dikatakan bahwa beliau tidak pernah
mengeluarkan kalimat yang berkaitan dengan dunia dan tidak pernah pula
tersenyum pada dunia bahkan tertawa ketika ditanya masalah dunia.
f.
Nama :
Hasan bin Ali al-Kholal
Biografi :
Refrensi :
8.
Hadits Pembanding :
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ
بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ
زَائِدَةَ عَنْ شَبِيبِ بْنِ غَرْقَدَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ
الْأَحْوَصِ حَدَّثَنَا أَبِي أَنَّهُ شَهِدَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ
وَذَكَّرَ وَوَعَظَ ثُمَّ قَالَ أَيُّ يَوْمٍ أَحْرَمُ أَيُّ يَوْمٍ أَحْرَمُ
أَيُّ يَوْمٍ أَحْرَمُ قَالَ فَقَالَ النَّاسُ يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ
عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي
شَهْرِكُمْ هَذَا أَلَا لَا يَجْنِي جَانٍ إِلَّا عَلَى نَفْسِهِ وَلَا يَجْنِي
وَالِدٌ عَلَى وَلَدِهِ وَلَا وَلَدٌ عَلَى وَالِدِهِ أَلَا إِنَّ الْمُسْلِمَ
أَخُو الْمُسْلِمِ فَلَيْسَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ إِلَّا مَا
أَحَلَّ مِنْ نَفْسِهِ أَلَا وَإِنَّ كُلَّ رِبًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ
لَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ غَيْرَ رِبَا
الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ أَلَا وَإِنَّ
كُلَّ دَمٍ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ دَمٍ وُضِعَ مِنْ
دِمَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ دَمُ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ كَانَ
مُسْتَرْضَعًا فِي بَنِي لَيْثٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ أَلَا
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ
عَوَانٍ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا
أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي
الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا
تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا
وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا
يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ
تَكْرَهُونَ أَلَا وَإِنَّ حَقَّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي
كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ
Refrensi : Mukhammad
bin Isa bin Shaurah bin Musa bin Dhohak, al-Turmudli, Abu Isa, {Sunan Tirmudzi, bab: و من سورة التوبة , Juz:10, hal: 353, no
hadits: 3012}
Langganan:
Postingan (Atom)
-
تَنْبِيْهُ اْلمُتَعَلِّمِ مألّف : اَلْأُسْتَاذُ اَلْعَالِم اَلْعَلَّامَةْ اَلْمُكَرَّمْ أَحْمَدْ مَيْسُوْر سِنْدِى اَلطُّرْسِدِى ...
-
Lampiran 1 : تَنْبِيْهُ اْلمُتَعَلِّمِ مألّف : اَلْأُسْتَاذُ اَلْعَالِم اَلْعَلَّامَةْ اَلْمُكَرَّمْ أَحْمَدْ مَيْسُوْر سِنْدِى ا...