Sabtu, 22 Maret 2014

Ibnu Khadun



BIOGRAFI
IBNU KHALDUN
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah  :   STUDI TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
Dosen Pengampu  : LABIB SAJAWANDI, M.Pd


Disusun Oleh :
IMAM SYAFI’I       (2021 111 071)

Kelas: C



JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013


Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun
A.    Biografi Ibnu Khaldun
Nama asli Ibnu Khaldun ialah wali ad-din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun al-Hadrami al-Idhbili, disingkat Ibnu Khaldun. Lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 M/ 1 Romadhon 732 H dan wafatnya di Kairo 25 Romadlon / 19 Maret 1406 M. N. J Dawood menyebutkan sebagai negarawan, ahli hokum, sejarawan dan sarjana.
Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut yang kemudian bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad 8 setelah semenanjung itu dikuasai Arab Muslim. Keluarga yang dikenal pro umayyah ini selama berabad-abad menduduki posisi tinggi dalam politik di Spanyol sampai akhir hijrah ke Maroko beberapa tahun sebelum Seville jatuh ke tangan penguasa kristen. Pada 1248 setelah itu mereka menetap  di Tunisia. Di kota ini mereka dihormati pihak istana, diberi tanah milik Dinasti Hafsiah. Sewaktu kecil Ibnu Khaldun sudah menghafal al-Qur’an dan Tajwid, gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, waktu itu Tunisia menjadi pusat Hijrah, Andalusia yang mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan. Kehadiran mereka bersamaan dengan naiknya Abul Hasan pemimpin bani Marin (1347). Ibnu Khaldun mendapatkan kesempatan belajar dari para ulama’ itu selain dari ayahnya yaitu dari ulama’ yang hijrah dari Andalusia. Ayah Ibnu Khaldun bernama Muhammad, beliau menguasai ilmu mendalam mengenai al-Qur’an dan ilmu fiqih, gramatika dan sastra.
Pada usia 17 tahun Ibnu Khaldun telah menguasai disiplin ilmu Islam klasik termasuk Ulum Aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, metafisika), beliau mengikuti madzhab Maliki di samping itu semua, beliau juga tertarik pada ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, dan lain-lain.[1]
Otaknya memang tidak puas dengan satu dua disiplin ilmu saja, disinilah terletak kekuatan dan sekaligus kelemahan Ibnu Khaldun sehingga dari catatan sejarah beliau tidak dikenal menguasai satu bidang disiplin ilmu yang spesifik.
Dalam usia 21 tahun Ibnu Khaldun telah diangkat menjadi sekretaris sultan dinasti Hafs al-Fadl yang berkedudukan di Tunisia tahun 751 H atau 1350 M, tetapi kemudian beliau berhenti karena penguasa yang didukungnya kalah dalam suatu pertempuran. Pada tahun 753 H beliau ke Baskarah (Al-Jazair) dari sana beliau berusaha bertemu dengan Abu Anan penguasa bani Marin yang sedang berada di Tilmisan. Pada tahun 775 H beliau diangkat menjadi anggota Majelis ilmu pengetahuan dan setahun kemudian beliau diangkat menjadi sekretaris sultan sampai tahun 763 H (1361-1362 M) ketika wazir Umar bin Abdillah murka kepadanya dan memerintahkannya untuk meninggalkan negeri itu.
Pada tahun 764 H beliau berangkat ke Granada oleh Sultan bani Ahmar, beliau diberi tugas menjadi duta negara di Castillah dan berhasil tetapi kemudian hubungannya dengan sultan mengalami keretakan. Tahun 766 H beliau pergi ke Bijayah atas undangan penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad yang mengangkatnya menjadi perdana menteri.
Tetapi kemudian beliau pergi ke Baskarah beliau berkirim surat kepada Abu Hammu, Sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad kepada sultan beliau memberikan dukungan, Sultan memberikan jabatan penting tetapi beliau menolak karena beliau ingin melanjutkan studinya secara autodidak, tatkala Abu Hammu diusir oleh Sultan Abdul Aziz (Bani Marin) Ibnu Khaldun beralih pihak kepadanya tetapi akhirnya Tilmisan direbut kembali oleh Abu Hammu, meskipun pernah bersalah kepada penguasa Tilmisan itu beliau berjanji pada diri sendiri untuk tidak terjun lagi dalam dunia politik. Beliau akhirnya menyepi di Qol’at Ibnu Salamah dan menetap di sana sampai 780 H/ 1378 M disinilah beliau mengarang kitab monumentalnya: “Al-I’bar wa diwan Al-Mubtada’ wa al-khabar fi Ayyam Al-‘Arab wa al-Ajam wa al-Barbar”.
Pada tahun 780 H (1378) Ibnu Khaldun kembali ke tanah airnya Tunisia, untuk menelaah beberapa kitab yang diperlukan sebagai bahan refisi kitab “al-‘Ibar”, pada tahun 784 H/ 1382 M beliau berangkat ke Iskandaria Mesir dengan maksud menghindari kekacauan politik-politik di Maghrib setelah sebulan beliau ke Kairo.
B.     Setting Sosial
Telah kita ketahui bahwa Ibnu Khaldun berasal dari keluarga terpelajar, neneknya pernah menjabat mentri keuangan Tunisia, sementara ayahnya sendiri seorang Administrator dan perwira militer dan moyangnya itu juga pemimpin politik di Siville dan pada waktu itu keilmuan dijadikan sebagai persyaratan untuk menjadi pemimpin Seville berada di tangan keluarga Khaldun dan keluarga bangsawan lainnya serta pengaruh dan kekuasaan lainnya berada di tangan Khaldun.
Dari sejarah dan pengalaman hidupnya serta berbagai rintangan yang dihadapinya maka dari berbagai pengalaman itulah timbul konsep-konsep baru baik mengenai sosiolog sejarah dan pendidikan, jika dilihat dari berbagai pengalaman dalam berbagai pemerintahan yang berbeda dan selalu berganti-ganti maka beliau adalah seorang diplomat ulung yang dapat bekerja sama dengan berbagai penguasa yang sedang berkuasa saat itu sehingga beliau mampu menarik hati penguasa.
Al-Faruqi menggambarkan situasi yang dihadapi Ibnu Khaldun dengan baik yaitu sebagai berikut: “Ini adalah abad tentang intrik politik, tentang suksesi kekuasaan yang cepat dank eras antara negara-negara muslim yang keadaan umumnya dalam kejatuhan dan kehancuran. Muslim berkomplot jahat satu sama lain demi pemenuhan kepentingan pribadi Ibnu Khaldun sepenuhnya sesuai dengan lingkungan semacam itu seakan-akan beliau dilahirkan bukan hanya di dalamnya tetapi untuk keadaan semacam itu.[2]
C.    Pendekatan/ Ide Pokok/ Pemikiran
1.      Methodologi
Dari pengalaman Ibnu Khaldun dalam perjalanan hidupnya yang mengalami silih bergantinya kekuasaan, akhirnya beliau mengadakan pendekatan kepada penguasa dan pejabat, dengan pendidikan untuk/ sebagai suatu proses untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkebudayaan serta masyarakat seutuhnya.
Dari sini dapat kita lihat metode Ibnu Khaldun untuk merumuskan konsep pendidikan melalui pengalaman dan keahliannya sebagai ahli filsafat sejarah yaitu beliau menggunakan pendekatan filsafat sejarah atau “HISTORICAL PHILOSOPHI APROACH” dengan menghubungkan anatara konsep dan realita, karena kedua pendekatan tersebut akan mempengaruhi system bergilir dan pemikirannya dalam pembahasan setiap permasalahan karena kedua pendekatan tersebut mampu merumuskan beberapa pendapat dan interprestasi dari suatu kenyataan dan pengalaman yang telah dilalui, yang dimaksud dengan pendekatan filsafat sejarah atau historical filosofi approach adalah suatu pendekatan sejarah yang mencoba menggali berbagai konsepsi para filosof tersebut telah ditemukan jawabannya oleh para filosof sepanjang jaman, sejarah dari hasil kajian tersebut akan menimbulkan fenomena baru atau konsep baru dari berbagai sudut tinjauan atau aliran pemikiran.[3]
2.      Ide-ide Pokok tentang Pendidikan
Selain ahli dalam bidang filsafat dan sosiologi Ibnu Khaldun juga ahli dalam soal kependidikan. Hal ini karena beliau tidak mengkhususkan dirinya dalam satu disiplin ilmu saja.
Konsep pemikiran atau ide pokok Ibnu Khaldu mengenai dasar-dasar pendidikan dan pengajarannya dikemukakan oleh Mustofa Amin dalam bukunya “Tarikh At-Tarbiyah” sebagai berikut:
1.      Dalam pengajaran agar disampaikan secara global pada tingkat permulaan kemudian secara terperinci, dalam hal ini dilakukan dengan tiga kali pengulangan.
2.      Pemakaian alat-alat peraga dalam pengajaran pada masa permulaan.
3.      Jangan mengulur-ngulur waktu ketika murid sedang belajar vak/ materi tertentu, dengan jalan memutuskan proses belajar dengan istirahat.
4.      Jangan mengajarkan definisi-definisi atau kaidah-kaidah umum pada pertama kali.
5.      Jangan membiarkan murid belajar dua macam ilmu dalam satu waktu.
6.      Pengajaran al-Qur’an dilakukan sejak dini.
7.      Agar tidak memperluas pembahasan dalam pelajaran ilmu alat.
8.      Guru jangan meringkaskan ilmu-ilmu dengan seringkas-ringkasnya, dalam kitab kecil yang dinamai matan, perkataannya ringkas dan sempit tetapi isinya luas dan dalam, sehingga sulit bagi siswa untuk memahaminya.
9.      Hendaknya guru jangan menugaskan murid-muridnya mempelajari bermacam-macam aliran dan guru hendaknya jangan membebani murid-muridnya untuk meneliti buku-buku serta ilmu apa yang ditulis dalam buku-buku.
10.  Bepergian ke negeri-negeri lain untuk mencari ilmu menambah pengalaman dan pengetahuan karena kita memerlukan wawasan yang mungkin tidak dapat diperoleh dalam kampong sendiri.
11.  Cinta kasih kepada anak-anak, membina mereka dengan penuh keakraban, lemah lembut jangan keras dan kasar.
12.  Mendidik anak remaja berdasarkan pemberian contoh suri tauladan yang baik.[4]
3.      Pemikiran
Dalam melakukan aktifitasnya mengenai keilmuan Ibnu Khaldun mempunyai pendapat sendiri mengenai definisi ilmu pengetahuan, menurutnya ilmu pengetahuan adalah kemampuan manusia untuk membuat analisa dan sintesa sebagai hasil pemikiran atau berpikir. Kesanggupan berpikir menurutnya ada 3 tingkatan yaitu:
1.      Peahaman intelektualmanusia terhadap sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam tatanan alam atau tatanan yang berubah-ubah, dengan maksud supaya dia dapat melaksanakan seleksi dengan kemampuan ia sendiri. Bentuk pembeda (Al-Aqlu al-Tamyiszi) yang membantu manusia memperoleh penghidupannya dan menolak segala sesuatu yang sia-sia bagi dirinya.
2.      Berpikir yang melengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang bawaan dan mengatur mereka (anak buah). Pemikiran ini kebanyakan persepsi (tashdiqot) yang dicapai satu demi satu melalui pengalaman hingga benar-benar dirasakan manfaatnya, inilah yang dinamakan akal eksperimental (al-Aqlu al-Tajribi).
3.      Pemikiran yang melengkapi manusia dengan ilmu dan pengetahuan hipotesis (dzat) mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi indra tanpa tindakan praktis yang menyertainya, inilah akal spekulatif (al-Aqlu al-Nadzri).
Jika tingkatan berpikir itu menyatu dalam diri manusia maka akan mencapai kesempurnaan sebagai realitasnya, sebagai manusia intelektual murni serta memiliki jiwa-jiwa perseptif yang disebutnya sebagai realitas manusia (haqiqoh al-Insaniah).
Untuk memperoleh pengetahuan menurut Ibnu Khaldun haruslah mempunyai seorang guru, untuk pengawasan dengan melalui pengulangan dan pemahaman praktik sehingga melekat di dalamnya otak dan pikiran harus berorientasi kepada adanya penyatuan teori dan praktek.[5]
D.    Analisis Pemikiran
Ilmu adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini karena melalui tingkatan ilmulah akan terlihat seseorang itu berada pada tingkatan yang mana baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Ilmu dianugerahkan oleh Allah sebagai modal dasar bagi manusia untuk mengolah sumber daya alam agar manusia lebih mengembangkan potensi dalam mengenal dan mengabdikan dirinya dihadapan Allah SWT. Maka Ibnu Khaldun, adalah salah satu seorang yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Ada beberapa hal yang menyebabkan Ibnu Khaldun memiliki kecermelangan pemikiran-pemikiran sebagai seorang ahli sejarah dan penemu ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
1.      Beliau mendapatkan kecerdasan fitrah yang luar biasa.
2.      Mempunyai kemampuan dalam mengadakan pengamatan dan pengaitan antara sebab dan musabab.
3.      Mempunyai pengalaman yang luas dalam kehidupan politiknya yang penuh dengan kegoncangan dan revolusi.
4.      Sering mengembara antara barat dan timur, antara Eropa, Asia dan Afrika Utara.
5.      Memiliki ilmu pengetahuan yang luas yang di satu sisi diperolehnya dari membaca serta mempelajari kitab-kitab, dan di sisi yang lain dari pengamatannya yang cermat selama mengembara dan bergaul dengan bermacam-macam bangsa dan warga negara.
Dari beberapa uraian tersebut di atas maka pemikiran Ibnu Khaldun mengenai ilmu pengetahuan berorientasi pada:
1.      Tidak adanya pemisahan antara ilmu teoritis dan ilmu praktis.
2.      Orientasi pada pengadaan ilmu agama yang diseimbangkan dengan ilmu aqliyah.
3.      Orientasi pada anggapan bahwa tugas mengajar adalah alat terpuji untuk memperoleh rizki.
4.      Orientasi menjadikan pengajaran bersifat umum mencakup aspek-aspek dalam berbagai ilmu pengetahuan, serta jauh dari spesialisasi sempit sambil meperdalam ilmu alam seperti ilmu bahasa dan mantiq.
Dilihat dari tujuan dan orientasi pendidikan Ibnu Khaldun dan Al-Ghozali terdapat perbedaan yang menonjol, pendapat dan rumusan pendidikan Ibnu Khaldun merupakan reformasi terhadap pendapat Imam Ghozali yang mencolok adalah dari segi dari tujuan pendidikan dan mengenai gaji guru pendidikan agama.
Menurut Al-Ghozali menuntut ilmu pengetahuan itu bukanlah untuk memperoleh akan tetapi tujuan yang paling tinggi adalah untuk memperoleh ridlo Allah dan untuk menikmati kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Ilmu pengetahuan haruslah dilengkapi dengan amal. Dia menagatakan seorang manusia pastilah akan binasa kecuali orang yang berilmu dan orang yang berilmupun akan binasa kecuali orang yang beramal dan orang yang beramalpun akan binasa kecuali orang yang ikhlas.[6]
Sedangkan menurut Ibnu Khaldun tujuan pendidikan yaitu sebagai berikut:
1.      Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja.
2.      Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik di dalam masyarakat yang maju dan berbudaya.
3.      Memperoleh lapangan pekerjaan, yang digunakan untuk memperoleh rizki.
Pandangan pemikiran Ibnu Khaldun banyak diikuti oleh pemikir timur dan barat dan menjadi seolah satu tonggak kemajuan pendidikan dunia.



DAFTAR PUSTAKA

Mahdi, Muhsin, Ibnu Khaldun’s Philosopi Of Histori, Chicago: The Universiti of Chicago Perss, 1971
Ma’arif, Ahmad, Ibnu Khaldun dalam Pandangan Pemikir Timur Dan Barat, Jakarta: Gama Insani Pers, 1996
Kholik, Abdul, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999
Busyairi Madjid, Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, Jakarta: Al-Amin Perss, 1977


[1] Muhsin Mahdi, Ibnu Khaldun’s Philosopi Of Histori, (Chicago The Universiti of Chicago Perss, 1971), hlm. 27
[2] Ahmad Ma’arif, Ibnu Khaldun dalam Pandangan Pemikir Timur Dan Barat, (Jakarta: Gama Insani Pers, 1996) hlm.13
[3] Abdul Kholik, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 16
[4] Busyairi Madjid, Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, (Jakarta: Al-Amin Perss, 1977) hlm. 133
[5] Abdul Kholik, Pemikiran Pendidikan Islam ….., hlm.20
[6] Abdul Kholik, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam ….., hlm. 21

Rabu, 22 Januari 2014

Laporan KKN Tematik, Rehabilitasi Sungai



LAPORAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
(PPM)
REHABILITASI SUNGAI KOTA PEKALONGAN UNTUK KEHIDUPAN

Description: C:\Users\USER\Pictures\Pictures\about of campuss\LOGO\stain-pekalongan.gif










Nama Kelompok Sungai Krapyak Lor:
1.    NUR LAILI HANDAYANI             2021 111 005
2.    BARIROH                                          2021 111 029
3.    IMAM SYAFI’I                                 2021 111 071
4.    SITI ROHMAH                                 2021 111 090


Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M)
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pekalongan
(STAIN) PEKALONGAN
2013-2014
DAFTAR ISI

JUDUL                                                                                                                                  1
DAFTAR ISI                                                                                                                         2
BAB I             PROFILE DESA/ KELURAHAN                                                             3
A.    Sejarah Krapyak                                                                                                      3
B.     Sejarah tradisi syawalan dan lopis raksasa di krapyak                                        4
C.    Pemaknaan adanya tradisi lupisan                                                                         5
D.    Kesamaan informasi                                                                                                 6
BAB II            KONDISI SUNGAI , SAMPAH DAN LIMBAH                                     7
A.    SUNGAI                                                                                                                    7
B.     SAMPAH                                                                                                                   7
C.    LIMBAH                                                                                                                   8
BAB III          MASALAH SOSIAL MASYARAKAT                                                     9
LAMPIRAN                                                                                                                          14









BAB I
PROFILE DESA/KELURAHAN
A.           SEJARAH KRAPYAK
Kota Pekalongan adalah salah satu kota di pesisir pantai utara Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan dengan laut jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat dan Kabupaten Batang di timur. Kota Pekalongan terdiri atas 4 kecamatan, yakni Pekalongan Utara, Pekalongan Barat, Pekalongan Selatan dan Pekalongan Timur. Kota Pekalongan terletak di jalur pantai Utara Jawa yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Kota Pekalongan berjarak 384 km di timur Jakarta dan 101 km sebelah barat Semarang. Kota Pekalongan mendapat julukan kota batik. Hal ini tidak terlepas dari sejarah bahwa sejak puluhan dan ratusan tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.
Krapyak sendiri terletak dipekalongan bagian utara.yang mayoritas penduduknya beragama muslim dan banyak memproduksi batik. sedangkan penamaan krapayak sendiri mengalami kesulitan untuk mengetahuinya, Karena tidak adanya pembukuan atau dokumentasi dari para sesepuh sebelumnya. Sehingga mengenai asal usul daerah krapyak sendiri belum dapat diketahui secara jelas dan juga ketika para sesepuh warga sudah meninggal kejelasan penamaan desa kurang diketahui oleh warga. Penuturan dari pak carek desa krapyak lor saat di wawancarai di tempat kerja menyebutkan demikian bahwa sejarah desa belum begitu diketahui karena tidak ada nya pembukuan, akan tetapi perlu diketahui bahwa nama desa Krapyak masing-masing daerah di indonesia mepunyainya seperti halnya di solo, semarang, jogja. Sehingga nama desa sudah ada penentuanya sendiri.
Namun hasil wawancara dari ibu Alifah umur 63 tahun mengenai asal usul krapayak dapat diketahui bahwa  pada Zaman dahulu ada hujan yang datangnya dari arah selatan, atau dari daerah pegunungan. Yang mana air hujan tersebut turun kepesisir hingga menyebabkan banjir hingga beberapa meter, karena zaman dahulu belum ada yang namanya lantai ataupun pondasi seperti dizaman modern ini, dan pada zaman dahulu masih menggunakan tanah sebagai pengganti lantai, karena adanya banjir kiriman dari daerah pegunungan sehingga  tanah tersebut penuh dengan air banjir kiriman  serta menyebabkan kebecekan disekitar rumah warga maupun didalam rumah warga sendiri. Dan karena tanah tersebut penuh dengan air hingga ketika berjalan ada suara kropyak kropyaknya maka dari situlah daerah tersebut dinamakan dengan Desa KRAPYAK yang samapai sekarang masih  bertempat dipekalongan utara. Dari hasil cerita turun temurun mengenai penamaan krapyak yang banyak diketahui warga sekitar seperti yang dipaparkan diatas. Dan Krapyak sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu krapyak utara dan krapyak selatan, namun rencana program dari pemerintahan akan dijadikan satu menjadi nama krapyak tanpa adanya pemisahan lagi.
B.            SEJARAH TRADISI SYAWALAN DAN LOPIS RAKSASA DI KRAPYAK PEKALONGAN
Dalam  tradisi desa krapyak lor terdapat Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan. Tradisi ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M. Pertama kali yang menggelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Awal pembuatan lopis raksasa di Krapyak, sudah dimulai sejak 1955, yang berarti tradisi tersebut sudah berumur lebih dari 60 tahun. Muhammad Zein, salah satu warga yang dituakan dan mengalami langsung perkembangan tradisi pembuatan lopis raksasa di Krapyak Kidul, menceritakan awal mula tradisi tersebut muncul. Datang dengan busana sederhana berupa sarung, kemeja dan kopyah, Zein mengajak Radar untuk berbicara santai di ruang tamu salah seorang warga. Pria 80 tahun tersebut, mengisahkan bahwa tradisi Syawalan atau pembuatan lopis pada dasarnya menunjukkan keramahan masyarakat Pekalongan yang selalu ingin menjamu setiap tamu yang datang. "Awal pembuatan lopis dengan ukuran besar dilakukan pada tahun 1955," ucapnya memulai cerita.
Upacara pemotongan lopis ini baru dimulai sejak tahun 1956 oleh bapak Rohmat, kepala desa daerah tersebut pada saat itu. Sambil terus menghisap rokok kreteknya, Zein kembali menceritakan bahwa dulu pembuatan lopis raksasa memang bertujuan untuk diberikan kepada tamu dan pengunjung. "Masyarakat mengumpulkan jimpitan beras ketan dari masing- masing rumah di sekitar RW 3 kemudian dijasikan satu dan dibuat lopis. Lopis besar pertama yang dibuat hanya berukuran tinggi sekitar satu termos saja. (25 sentimenter)," kisahnya. Ukuran itu, kemudian bertahan hingga tahun 1980. Barulah saat itu, pemuda setempat berinisiatif untuk memperbesar ukuran lopis dan baru disebut lopis raksasa. Zein mengatakan bahwa dirinya ingat saat lopis raksasa pertama dibuat tahun 1980 mempunyai ukuran tinggi 80 sentimeter dengan ukuran lingkaran 115 sentimeter. Untuk membuatnya, dibutuhkan bahan baku beras ketan sebanyak 30 kilogram.
Lopisan berasal dari kata lopis, yaitu sejenis makanan spesifik Krapyak yang bahan bakunya terdiri dari ketan, yang memiliki daya rekat luar biasa bila sudah direbus sampai masak benar. Pertama kali dibuat, lopis raksasa hanya dipotong dan diresmikan oleh lurah setempat saja. Saat itu juga belum banyak warga yang berkumpul atau mengambil lopis usai dipotong. Setahun kemudian, peresmian dan pemotongan lopis raksasa dilakukan oleh Camat. Baru pada tahun ketiga. Walikota yang saat itu menjabat berkesempatan untuk ikut melakukan pemotongan pertama terhadap lopis raksasa. "Saya lupa siapa Walikota saat itu. Yang jelas, baru pada tahun ketiga sejak pembuatan lopis raksasa pertama Walikota berkesempatan untuk hadir dan melakukan pemotongan langsung," bebernya lagi.
Tradisi lopis terus bertahan dengan ukuran yang terus membesar. Namun, tradisi tersebut sempat berhenti dilaksanakan selama dua tahun tepatnya antara athun 1997 dan 1998. Penyebabnya, adanya perbedaan waktu lebaran yang ditentukan baik oleh ormas maupun pemerintah pusat. Berhenti dua tahun, tradisi pembuatan lopis raksasa kemudian diambil alih oleh warga krapyak Lor gang I dan gang 3. Setelah pembuatan lopis di Krapyak Kidul kembali aktif pada tahun 2000, tradisi serupa di Krapyak Lor juga terus berjalan. Sehingga sampai saat ini, ada dua lopis raksasa yang selalu dibuat pada momen syawalan. Pada tahun 2000, lopis raksasa di Krapyak Kidul juga mendapatkan kehormatan untuk dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai lopis terbesar yang pernah dibuat.
C.           PEMAKNAAN ADANYA TRADISI LUPISAN
Bagi masyarakat Krapyak, mungkin momen Lebaran sesungguhnya justru akan dirasakan saat Syawalan atau sepekan setelah Lebaran, mengingat ramainya wilayah tersebut saat peringatan syawalan. Hampir setiap rumah akan dipenuhi tamu, jalan akan dipenuhi kendaraan dan yang tak ketinggalan sajian ada disetiap kediaman tuan rumah. Syawalan sendiri, awalnya merupakan tradisi silaturahmi antara warga Krapyak dan luar Krapyak. Karena dulu, masyarakat Krapyak sering berpuasa setelah hari pertama Lebaran hingga enam hari kemudian. Hal itu membuat warga atau pun sanak saudara tidak dapat berkunjung.
Pada hari ketujuh, mereka berbondong-bondong datang ke Krapyak untuk bersilaturahmi. Tradisi tersebut kemudian berkembang dengan sebutan syawalan. Bahkan kemudian, pemuda setempat berinisiatif untuk membuat lopis raksasa dengan tujuan awal untuk dibagikan kepada pengunjung. Namun saat ini lopis raksasa sudah menjadi tradisi adat tersendiri. Setiap tahun, momen pembuatan hingga pemotongannya selalu ditunggu baik oleh warga Pekalongan maupun dari luar Pekalongan.
Setelah selesai melewati Idul Fitri hari pertama, kesibukan masyarakat Krapyak justru akan meningkat. Mereka akan kembali berkumpul untuk bergotong-royong membuat jajanan raksasa berbahan baku beras ketan tersebut.Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk bercerai berai kembali sebagaimana semula.Mengapa tidak dibungkus dengan plastik atau bahan lain yang lebih praktis, sesuai dengan kecangihan masa kini ? Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet. Demikian mendalamnya pemikiran sesepuh kita
D.           KESAMAAN INFORMASI
Ada satu tradisi syawalan yang terkenal sampai ke luar daerahyakni pemotongan kue lopis raksasa di Krapyak (disebut juga lopisan atau krapyakan).Yang sampai saat ini tradisi pembuatan lopis terus berlanjut dengan ukuran yang terus bertambah setiap tahunnya. Ibu Muslikhah 58 tahun warga krapyak lor Gg. 3A juga menuturkan bahwa tidak hanya bertambah dalam ukurannya, tetapi  masyarakat  juga pada setiap gang nya sudah mulai membuat lupisan sendiri-sendiri sehingga bukan satu tempat saja yang terdapat lupis beberapa titik terdapat lupis-lupis besar disamping lupis-lupis lainya.ibu menuturkan pula adanya lupis di krapyak yang sebagai bentuk gotong royongnya masyarakat membuat lupis bersama-sama dalam rangka penyambutan sanak saudara yang jauh. Walaupun nilai-nilai tradisi sedikit bergeser seperti yang di katakan beberapa pemuda-pemudi warga krapyak salah satunya handayani bahwa puasa yang di lakukan pada tanggal 2 sampai 6 setelah lebaran tidak sepenuhnya dilakukan oleh seluruh warga hanya beberapa orang yang masih memegang tradisi dan keinginan yang masih melakuaknnya.
BAB II
KONDISI SUNGAI , SAMPAH DAN LIMBAH
A.           SUNGAI
Sungai krapyak lor merupakan sungai yang berada di Kecamatan Pekalongan Utara adalah wilayah pesisir pantai utara (laut Jawa), sehingga sebagian wilayahnya yang berdekatan dengan pantai seringkali mengalami Rob (air laut pasang). Wilayah yang sering mengalami bencana rob antara lain; Kelurahan Panjang Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Krapyak Lor. Keadaan rob yang demikianyang nantinya air sungai akan naik sehingga terjadi banjir setiap tahunya apalagi pada musim hujan.
Hal ini juga  karena kondisi tanahnya lebih rendah dibanding dengan daratan disekitarnya’Penamaan masyarakat sungai krapyak tidak jauh berbeda dengan adanya desa krapyak yang adaa di setiap daerahnya, sehingga dari penaman sungai krapyak karena keberadaanya di daerah krapyak itu.  Belum adanya penaamaan krapyak secara jelasnya.
Berdasarkan penelusuran sungai yang telah kami lakukan bahwa kedalaman sungai krapyak lor, pekalongan utara yaitu sekitar 3,3 m, sedangkan lebar sungai yaitu sekitar 75 m, dengan warna air coklat lumpur dan hitam kelam karena banyak tercemar limbah batik. Warna hitam air akan tampak jelas bila mana saat musim kemarau tiba.
B.            Samapah
Sungai yang berada di daerah krapyak adalah sungai yang berasal bukan dari daerah krapyak lor saja sendiri sungai berasal dari krapyak kidul juga, kondisi keadaan sungai yang kotor dan  banyak sampah merupakan gambaran dari keadaan sungai yang nampak jelas dan nyata, kondisi sungai yang menghubungkan dua tembapt panjang wetan sehingga dapat di jadikan sebagai alat transportasi dengan adanya batasan-batasan sungai yang di jadikan tempat penyebrangan.
Berdasarkan penelusuran bersama pak jo batasan sungai yang ada di krapyak lor banyak beberapa pengamatan uyang tidak dapat di pungkiri, bahwa kondisi sampah mememang sudah banyak baik yang berada di dalam air maupun sekitar sungainya juga, banyak tumpukan salmah yang berada di sekitar sungai yang berasal dari  penduduk setempat.
Pola kebiasaan yang sudah menjadi hal yang lumrah bahwa membuang sampah di sekitar sungai bahkan kesungainya sekalipun.Dalam kebersihan terhadap lingkunganya sangatlah mengiris akan tetapi bukan halnya itu saja dalam kebersihan terhadap dirinya disisni masyarakat masih membiasakan pola yang kurang baik dengan MCK yang tidak pada tempatnya.
Kondisi air sungai dapat dilihat hitam yang lebih sering terjadi adapun beda warna keruh disebabakan pola hujan dan air rob yang datang dari arah mana apakah kiriman dari sungai atas ataupun dati arah laut.
Perlu diketahui sungai krapyak yang berasal dari sungai pekalongan bermuara langsung ke laut Slamaran sehingga dalam sekitar daerah tersebut dijadikan tempat persingahan perahu-perahu besar(dijadikan dog).
C.           LIMBAH
Tampak memeng disekitar sungai limbah-limbah yang ada di sekitar sungai mulai dari sampah-samapah baik dari yang organik maupun an organik seperti plastik   samapah peralatan rumah masak memasak dan lain sebagainya yang mana sampah sampah tersebut telah menyatu dengan air yang ada di sungai, limbah yang tak kalah memprihatikan sama halnya seperti sungai sungai yang telah tercemar pada umumnya ada adalah warna sungai yang sudah tidak lagi seperti sungai bersih, sungai yang berwarna hitam dan kotor yang mana tidaklah lepas dari limbah produksi batik, pekalongan sebagai kota batik memang kental akan rumah produksi pembuatan batik dan di desa krapyak sendiri secara mayoritas bermata pencaharian pelaut akan tetapi masih ada sebagian oarng yang bermata pencaharian batik, warna sungai yang bisa dikjuga sebagatakan tercemar oleh limbah juga dipengaruhi produksi batik yang ada di sungai sungai hulu sehingga sungai hilir yang sebagai  muara sungai juga akan ikut tercemar.








BAB III
MASALAH SOSIAL MASYARAKAT
Kondisi Kelurahan Krapyak Lor, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan kian memprihatinkan. Pasalnya, sepanjang tahun permukiman warga selalu terendam air pasang. Selain menggenangi jalan, rob juga merendam pekarang dan lantai rumah tangga yang biasadigunakan untuk aktivitas ekonomi. Akibatnya, aktivitas warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh batik, konfeksi dan warung kecil terhambat dan hasil pendapatan merekapun turun sekitar 30 hingga 70 persen.
Tidak hanya itu saja, banyak masyarakat yang terjangkit penyakit pernafasan, kulit, gatal- gatal dan diare. Rob terparah terjadi di Krapyak Lor Gang 3A, Krapyak Lor Gang 3B, dan Krapyak Lor Gang 5. Bahkan, di Krapyak Lor Gang 3A rob tidak pernah surut dan tingginya mencapai 1 meter, karena merupakan dataran rendah dibandinggang sekitarnya. Memprihatinkan “ Rob di Kelurahan Krapyak Lor, khususnya yang berada di dekat Sungai Loji sangat memprihatinkan jika dibanding dengan Panjang, Bandengan, dan Jeruksari. Meski, warga telah berupaya mengatasi dengan cara Jumat bersih dan pengerukan saluran, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Kondisi tersebut juga diperparah dengan pembuatan tanggul dan pintu air yang tidak berfungsi, sehingga membuat ketinggian rob kian bertambah.warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan mengatasi masalah rob. “Warga juga bersedia dampingi lurah ke pemerintah daerah dan Dewan jika dibutuhkan.
Lurah Krapyak Lor Kota Pekalongan Hasan Busro mengatakan, sebelumnya pihaknya telah menyampaikan permasalah rob kepada pemerintah daerah dan Dewan. Namun demikian, hingga kini belum ada tindak lanjut. Proyek polder yang semestinya diharapkan warga mampu mengatasi masalah rob,  justru menimbulkan permasalahan yang baru. “Sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah nantinya, saya mengimbau kepada ketua RT dan RW 1 sampai 4, serta perwakilan warga untuk bersama menyampaikan keluhan ke pemerintah yang secapatnya akan dilakukan.


Mengenai pendidikan dikelurahan krapyak lor dilihat dari catatan laporan buku monografi terdapat lulusan pendidikan umum dan pendidikan khusus:
a.       Lulusan pendidikan umum :
1). Taman Kanak- Kanak                          : 0                    orang
2). Sekolah Dasar                                      : 2.119             orang
3). SMP/SLTP                                           : 1.528             orang
4). SMU/SLTA                                         : 2.287             orang
5). Akademi/D1-D3                                  : 193                orang
6). Sarjana (S1-S3)                                    : 342                orang
b.   Lulusan pendidikan khusus :
1). Pondok pesantren                               : 300                orang
2). Madrasah                                            : 120                orang
3). Pendidikan keagamaan                       : 200                orang
4). Sekolah luar biasa                               : 0                    orang
5). Kursus/ketrampilan                             :5                     orang
A. PERIKANAN
1.    Tambak                                                  : 2                    Ha       30        Ton
2.    Empang Kolam                                      : -                     Ha       -           Ton
3.    Danau                                                    : -                     Ha       -           Ton
4.    Waduk / Dam                                        : -                     Ha       -           Ton
5.    Laut                                                       : -                     Ha       -           Ton

B. PERTANIAN
1. Status                  :
a. Sertifikat Hak Milik                           : 2.112             Buah                -           Ha
b. Sertifikat Hak Guna Usaha               : -                     Buah                -           Ha
c. Sertifikat Hak Guna Bangunan         : -                     Buah                -           Ha
d. Sertifikat Hak Pakai                          : -                     Buah                -           Ha

e. Tanah Kas Desa                                 : -                     Buah                -           Ha
1). Tanah Bengkok                            : 15                  Buah                -           Ha
2). Tanah Titisara                              : -                     Buah                -           Ha
3). Tanah Pangonan                          : -                     Buah                -           Ha
4). Tanah Desa Lainnya                    : -                     Buah                -           Ha
f. Tanah Bersertifikat                             : -                     Buah                -           Ha
g. Tanah bersertifikat melalui PRONA : -                     Buah                -           Ha
h. Tanah yang belum bersertifikat         : -                     Buah                -           Ha
2. Peruntukan         :
a. Jalan                                                   : 9.170             Ha
b. Sawah dan Ladang                            : -                     Ha
c. Bangunan Umum / Tambak               : 101.050         Ha
d. Empang                                             : -                     Ha
e. Pemukiman / Perumahan                    : 81. / 0,240     Ha
f. Jalur Hijau                                          : -                     Ha
g. Pekuburan                                          : 0,5665           Ha
h. Lain – lain                                          : 115.786         Ha
3. Penggunaan
a. Industri                                              : 3.314             Ha
b. Pertokoan / Perdagangan                   : 0.0710           Ha
c. Perkantoran                                        : -                     Ha
d. Pasar Kelurahan                                 : -                     Ha
e. Tanah Wakaf                                      : -                     Ha
f. Tanah Sawah                                      : -                     Ha
1). Irigasi Teknis                               : 77,3044         Ha
2). Irigasi Setengah Teknis                : 83,7464         Ha
3). Irigasi Sederhana                         : -                     Ha
4). Irigasi Tadah Hujan                     : -                     Ha
5). Sawah Pasang Surut                    : -                     Ha
g. Tanah Kering                                     : -                     Ha
1). Pekarangan                                  : -                     Ha
2). Perladangan                                 : -                     Ha
3). Tegalan                                        : -                     Ha
4). Perkebunan Negara                      : -                     Ha
5). Perkebunan Swasta                      : -                     Ha
6). Perkebunan Rakyat                      : -                     Ha
7). Tempat Rekreasi                          : 64.900           Ha
h. Tanah yang belum dikelola                : -                     Ha
1). Hutan                                           : -                     Ha
2). Rawa                                            : -                     Ha
3). Lain – lain                                    : -                     Ha

C. Mata Pencaharian
a. Karyawan           :
1). Pegawai Negeri Sipil                        : 296                Orang
2).TNI / POLRI                                     : 2                    Orang
3). Swasta                                              : 1152              Orang
b. Wiraswasta / pedagang                           : 883                Orang
c. Tani                                                         : 63                  Orang
d. Pertukangan                                           : 117                Orang
e. Buruh                                                      :516                 Orang
f . Pensiunan                                               : 155                Orang
g. Nelayan                                                  : 514                Orang
h. Pemulung                                                : 35                  Orang
i. Jasa                                                          : 62                  Orang



















Lampiran :
ð  Gambar 1:Bantuan MCK dari BKM SUKSES, Krapyak Lor, Pekalongan Utara yang terletak di sudut kampung Krapyak Lor Gg: 1, Pekalongan Utara.




ð  Gambar 2: Tumpukan sampah di pinggir sungai yang membatasi dengan perkampungan masyarakat krapyak lor yang berada di sekitar tanah mahakam.
ð  Gambar 3: Perahu bantuan yang diberikan oleh pemerintah lewat BKM SUKSES, Krapyak Lor, Pekalongan Utara sebagai sarana rehabilitasi sungai.
ð  Gambar 4: Contoh prilaku buruk yang biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar sungai Krapyak Lor, yang sebenarnya sudah disediakan adanya MCK UMUM.
ð  Gambar 5: Bantuan MCK yang dilakukan dalam usaha rehabilitasi sungai Krapyak Lor, Pekalongan Utara yang diletakkan di belakang TK. Mina Bahari 2.

Film Pendek LOMBA CERDAS CERMAT