Sabtu, 12 November 2016

KBK, KTSP, DAN KURIKULUM 2013



KBK, KTSP, DAN KURIKULUM 2013
(STUDY CIRI, PERSAMAAN, PERBEDAAN)
Oleh:
IMAM SYAFI’I (2052115026) Kelas B

Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam
IAIN Pekalongan
2016

ABSTRAK
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua sisi dari satu mata uang. artinya, dalam proses pendidikan dua hal itu tidak dapat dipisahkan. Kurikulum tidak akan berarti tanpa diimplementasikan dalam proses pembelajaran, sebaliknya pembelajaran tidak akan efektif tanpa didasarkan pada kurikulum sebagai pedoman. kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya.
Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan. Pemahaman akan konsep kurikulum, mutlak diperlukan bagi setiap orang yang berprofesi kependidikan termasuk guru, sebab kurikulum berfungsi sebagai alat dan pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan.

Kata Kunci                  : Ciri, Persamaan, dan Perbedaan Kurikulum
Secara konseptual, kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memilih kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan.[1]
Undang-Undang tentang sistem pendidikan nasional yang terbaru telah disahkan presiden pada 8 juli 2003 (Nomor 20 Tahun 2003). Dibanding dengan undang-undang tentang sistem pendidikan nasional sebelumnya (Nomor 2 Tahun 1989), undang-undang tentang sistem pendidikan nasional yang baru ini sarat dengan tuntutan yang cukup mendasar karena harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Sedangkan salah satu upaya yang segera dilakukan untuk memenuhi tuntunan tersebut adalah pembaruan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.[2]
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua sisi dari satu mata uang. artinya, dalam proses pendidikan dua hal itu tidak dapat dipisahkan. Kurikulum tidak akan berarti tanpa diimplementasikan dalam proses pembelajaran, sebaliknya pembelajaran tidak akan efektif tanpa didasarkan pada kurikulum sebagai pedoman.[3] Pemahaman akan konsep kurikulum, mutlak diperlukan bagi setiap orang yang berprofesi kependidikan termasuk guru, sebab kurikulum berfungsi sebagai alat dan pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan.[4]
A.      Pengertian KBK, KTSP, dan Kurikulum 2013
a.    Pengertian KBK
Dalam dokumen kurikulum 2004 dirumuskan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan (Depdiknas 2002).
Dari rumusan di atas, tampak jelas bahwa konsep KBK bertumpu pada konsep seperti yang dikemukakan Hilda Taba, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana. Ini berarti dalam KBK yang lebih ditekankan adalah kompetensi atau kemampuan apa yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu, sedangkan masalah bagaimana cara mencapainya, secara operasional diserahkan kepada guru di lapangan. Dalam KBK tidak secara khusus dijelaskan apa yang harus dilakukan guru untuk mencapai kompetensi tertentu.[5]
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yaitu suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan dan penguasaan kompetensi bagi peserta didik melalui berbagai kegiatan dan pengalaman sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, orang tua, dan masyarakat, baik untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, memasuki dunia kerja maupun sosialisasi dengan masyarakat.[6]
b.    Pengertian KTSP
Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15), dijelaskan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).[7]
KTSP yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. Penyusunan KTSP yang dipercayakan pada setiap tingkat satuan pendidikan hampir senada dengan prinsip implementasi KBK yang disebut pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah (KBS). Prinsip ini diimplementasikan untuk memberdayakan daerah dan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengelola serta menilai pembelajaran sesuai dengan kondisi dan aspirasi mereka.[8]
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.[9]
c.    Pengertian Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard skills yang berupa sikap, keterampilan dan pengetahuan.
Dalam konteks ini, kurikulum 2013 berusaha untuk lebih menanamkan nilai-nilai yang tercermin pada sikap dapat berbanding lurus dengan keterampilan yang diperoleh peserta didik melalui pengetahuan di bangku sekolah. Dengan kata lain, antara soft skills dan hard skills dapat tertanam secara seimbang, berdampingan, dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya kurikulum 2013, harapannya peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang meningkat dan berkembang sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah ditempuhnya sehingga akan dapat berpengaruh dan menentukan kesuksesan dalam kehidupan selanjutnya.[10]
B.       Ciri-Ciri KBK, KTSP, dan Kurikulum 2013
1.    Karakteristik KBK
Berdasarkan pengertian di atas, maka KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki tiga karakteristik utama, yaitu; Pertama, KBK memuat sejumlah kompetensi dasar  yang harus dicapai oleh siswa. Artinya melalui KBK diharapkan siswa memiliki kemampuan standar minimal yang harus dikuasai. Kedua, implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan kepada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. Pembelajaran tidak sekadar diarahkan untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana materi itu dapat menunjang dan mempengaruhi kemapuan berpikir dan kemampuan bertindak sehari-hari. Ketiga: Evalausi dalam KBK menekankan pada evaluasi hasil belajar dan proses belahar. Kedua sisi evaluasi itu sama pentingnya sehingga pencapaian standar kompetensi dilakukan secara utuh yang tidak hanya mengukur aspek pengetahuan saja, akan tetapi sikap dan keterampilan.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci sebagai berikut:[11]
1.    Menekankan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Ini mengandung pengertian bahwa KBK menekankan kepada ketercapaiankompetensi. Artinya isi KBK pada intinya adalah sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, kompetensi inilah yang selanjutnya dinamakan standar minimal atau kemampuan dasar.
2.    Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Ini artinya, keberhasilan pencapaian kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang selanjutnya dijadikan acuan apakah kompetensi yang diharapkan sudah tercapai atau belum. Proses pencapaian hasil belajar itu tentu saja sangat tergantung pada kemampuan siswa. Sebab dinyakini, siswa memiliki kemampuan dan kecepatan yang berbeda. KBK memberikan peluang yang sama kepada seluruh siswa untuk dapat mencapai hasil belajar.
3.    Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Artinya, sesuai dengan keberagaman
Terdapat sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam proses pengembangan kurikulum berbasis kompetensi antara lain;
1.    Prinsip Pengembangan
a.    Peningkatan keimanan, budi pekerti luhur, dan penghayatan nilai-nilai budaya.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertakwa sejalan dengan filsafat bangsa, maka peningkatan keimanan dan pembentukan budi pekerti luhur merupakan prinsip pertama yang harus diperhatikan oleh para pengembang KBK.
b.    Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika
Pembentukan manusia yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan. Manusia utuh adalah manusia yang seimbang antara kemampuan intelektual dan sikap moral serta keterampilan.
c.    Penguatan integritas nasional
Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku dengan latar budaya yang sangat beragam. Pendidikan harus dapat menanamkan pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa yang majemuk, sehingga mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia.
d.   Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi
Pengembangan KBK diarahkan agar anak memiliki kemampuan berpikir dan belajar dengan cara mengakses, memilih dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh tantangan serta ketidakpastian melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
e.    Pengembangan kecakapan hidup
Kecakapan hidup mencakup keterampilan diri (Personal Skills), keterampilan berpikir rasional (thinking skills), keterampilan akademik (academic skills), keterampilan vokasional (vocational skills). Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup melalui pembudayaan membaca, menulis, berhitung, sikap, perilaku adaptif, kreatif, kooperatif dan kompetitif.
f.     Pilar pendidikan
Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam empat, yaitu; belajar untuk memahami, belajar untuk berbuat kreatif, belajar hidup dalam kebersamaan, belajar untuk membangun dan mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya.
g.    Komprehensif dan berkesinambungan
Komprehensif mencakup keseluruhan dimensi kemampuan dan substansi yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan pendidikan menengah.
h.    Belajar sepanjang hayat
Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat.
i.      Diversifikasi kurikulum
Kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
2.    Prinsip Pelaksanaan
a.    Kesamaan memperoleh kesempatan
Prinsip ini mengandung pengertian, bahwa melalui KBK penyediaan tempat yang memberdayakan semua peserta didik secara demokratis dan berkeadilan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok seperti kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial, yang memerlukan bantuan khusus, berbakat dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
b.    Berpusat pada anak
Upaya memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerjasama dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman dan pengetahuannya. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik perlu terus-menerus diupayakan. Penyajiaannya disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan peserta didik melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
c.    Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
Semua pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari taman kanak-kanak samapai dengan kelas XII. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan peserta didik yang bervariasi dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. keberhasilan pencapaian pengalaman belajar menuntut kemitraan dan tanggung jawab bersama dari peserta didik, guru, sekolah dan madrasah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri dan masyarakat.
d.   Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
Standar kompetensi disusun pusat dan cara pelaksanaannya disesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing daerah atau sekolah dan madrasah. Standar kompetensi dapat dijadikan acuan penyusunan kurikulum berdiversifikasi berdasarkan pada satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik serta taraf internasional.[12]
2.    Karakteristik KTSP
Dihubungkan dengan konsep dasar dan desain kurikulum, maka KTSP memiliki semua unsur yang sekaligus merupakan karakteristik KTSP itu sendiri, yakni:[13]
1.    Dilihat dari desainnya KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari pertama, struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Setiap mata pelajaran yang harus dipelajari itu selain sesuai dengan nama-nama disiplin ilmu juga ditentukan jumlah jam pelajaran secara ketat. Kedua, kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak diukur dari kemampuan siswa menguasai materi pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari sistem kelulusan yang ditentukan oleh standar minimal penguasaan isi pelajaran seperti yang diukur dari hasil Ujian Nasional. Soal-soal dalam UN itu lebih banyak bahkan seluruhnya menguji kemampuan kognitif siswa dalam setiap mata pelajaran. Walaupun dianjurkan setiap guru menggunakan sistem penilaian proses misalnya dengan portofolio, namun pada akhirnya kelulusan siswa ditentukan oleh sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran.
2.    KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP yang menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran yang disarankan misalnya melalui CTL, inkuiri, pembelajaran portofolio, dan lain sebagainya. Demikian juga secara tegas dalam struktur kurikulum terdapat komponen pengembangan diri, yakni komponen kurilkulum yang menekankan kepada aspek pembangunan minat dan bakat siswa.
3.    KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah. Hal ini tampak pada salah satu prinsip KTSP, yakni berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Dengan demikian, maka KTSP adalah kurikulum yang dikembangkan oleh daerah. Bahkan, dengan program muatan lokalnya, KTSP didasarkan pada keberagaman kondisi, sosial, budaya yang berbeda masing-masing daerahnya.
4.    KTSP merupakan kurikulum teknologis. Hal ini dapat dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagai bahan penilaian.
KTSP dikembangakan berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:[14]
1.    Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
KTSP mimiliki prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangakan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered). Di samping itu juga pengembangan KTSP perlu memperhatikan potensi dan kebutuhan lingkungan di mana siswa tinggal.
2.    Beragam dan terpadu
Pengembangan kurikulum memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang, dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna.
3.    Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis.
4.    Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum
5.    Menyeluruh dan berkesinambungan
6.    Belajar sepanjang hayat
7.    Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
3.    Karakteristik Kurikulum 2013
Dalam Kurikulum 2013 terdapat karakteristik yang menjadi ciri khas pembeda dengan kurikulum yang telah ada selama ini di Indonesia. Karakteristik kurikulum 2013 sebagai berikut;[15]
a.    Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013 ialah pendekatan scientific dan tematik-integratif. Pendekatan scientific adalah pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses ilmiah. Apa yang dipelajari dan diperoleh peserta dilakukan dengan indra dan akal pikiran sendiri sehingga mereka mengalami secara langsung dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan. melalui pendekatan tersebut, peserta didik mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan baik.
b.    Kompetensi Lulusan
Dalam konteks ini kompetensi lulusan berhubungan dengan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi ini sebenarnya sudah ada pada kurikulum sebelumnya, hanya saja penyebutannya berbeda, misalnya sikap disebut dengan afektif, pengetahuan disebut dengan kognitif, dan keterampilan disebut dengan psikomotorik. Selain itu, titik tekannya berubah terbalik.
c.    Penilaian
Pada kurikulum 2013 proses penilaian pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik (authentic assesment). Penilaian otentik adalah penilaian secara utuh, meliputi kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar. Keterpaduan penilaian ketiga komponen tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan perolehan belajar peserta didik atau bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instruktional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.
4.        Persamaan dan Perbedaan KBK, KTSP, Kurikulum 2013
Beberapa keunggulan KBK dibandingkan kurikulum lain adalah.
1.    KBK yang dikedepankan Penguasaan materi Hasil dan kompetenasi Paradigma pembelajaran versi UNESCO: learning to know,learning to do, learning to live together, dan learning to be.
2.    Silabus ditentukan secara seragam, peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran, silabus menjadi kewenagan guru.
3.    Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi.
4.    Metode pembelajaran Keterampilan proses dengan melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL.
5.    Sistem penilaian Lebih menitik beratkan pada aspek kognitif, penilaian memadukan keseimbangan kognitif, psikomotorik, dan afektif, dengan penekanan penilaian berbasis kelas.
6.    KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian berbasis kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS).
Kemudian beberapa kelebihan KTSP antara lain:
1.    Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya.
2.    Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan.
3.    Pengambilan keputusan lebih baik dilakukan oleh sekolah karena sekolah sendiri yang paling tahu yang terbaik bagi sekolah tersebut.
4.    Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
5.    Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikannya masing-masing.
6.    Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam meningkatkan mutu pendidikan.
7.    Sekolah dapat merespon aspirasi masyarakatdan lingkungan yang berubah secara cepat serta mengakomodasikannya dengan KTSP.
Adapun beberapa persamaan dan perbedaan KBK, KTSP, Kurikulum 2013, dapat disimpulkan sebagai berikut:[16]
No
KBK
KTSP
Kurikulum 13
1
Standar Kompetensi Lulusan diturunkan standar isi
Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari kebutuhan
2
Standar Isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
3
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan
4
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
5
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran yang terpisah
Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas)
6
Tahun 2004-2005, Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Tahun 2006-2013, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Tahun 2013-2015, Kurikulum 2013 (K-13)






Perbedaan pola pikir sebagai berikut:















Susunan struktur kurikulum berbasis kompetensi SD dan MI:[17]
No
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu
Kelas I & II
Kelas III & IV
Kelas V & VI
1
Pendidikan Agama
*
3
3
2
Kewarganegaraan
*
2
2
3
Bahasa Indonesia
*
6
6
4
Matematika
*
6
6
5
Sains
*
4
4
6
Pengetahuan Sosial
*
4
4
7
Kesenian
*
2
2
8
Keterampilan
*
2
2
9
Pendidikan Jasmani
*
2
2

Jumlah
27
31
31

Susunan struktur kurikulum berbasis kompetensi SMP dan MTs:[18]
No
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu
Kelas VII
Kelas VIII
Kelas IX
1
Pendidikan Agama
2
2
2
2
Kewarganegaraan
2
2
2
3
Bahasa dan Sastra Indonesia
5
5
5
4
Matematika
5
5
5
5
Sains
5
5
5
6
Pengetahuan Sosial
5
5
5
7
Bahasa Inggris
4
4
4
8
Pendidikan Jasmani
2
2
2
9
Kesenian
2
2
2
10
Keterampilan



11
Teknologi Informasi dan Komunikasi
2
2
2

Jumlah
34
34
34

Susunan struktur kurikulum 2013:[19]
STRUKTUR KURIKULUM SD (K-13)
No
Komponen
I
II
III
IV
V
VI
Kelompok A






1
Pendidikan  Agama dan Budi Pekerti
4
4
4
4
4
4
2
PPKN
5
6
6
4
4
4
3
Bahasa Indonesia
8
8
10
7
7
7
4
Matematika
5
6
6
6
6
6
5
IPA
 *
*
 *
3
3
3
6
IPS
 *
*
 *
3
3
3
Kelompok B






7
Seni Budaya & Prakarya (termasuk muatan lokal**)
4
4
4
5
5
5
8
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan  (termasuk muatan lokal).
4
4
4
4
4
4
Jumlah
30
32
34
36
36
36
            Catatan:
* KD IPA dan IPS kelas I s.d. Kelas  III diintegrasikan ke mata pelajaran lainnya
** Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah
STRUKTUR KURIKULUM SMP (K-13)
No
Komponen
VII
VIII
IX

Kelompok A



1
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
3
3
3
2
Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan
3
3
3
3
Bahasa Indonesia
6
 6 
6
4
Matematika
5
5
5
5
Ilmu Pengetahuan Alam
5
5
5
6
Ilmu Pengetahuan Sosial
4
 
7
Bahasa Inggris
4
4
4

Kelompok B



8
Seni Budaya (termasuk mulok)*
3
3
3
9
Pend. Jasmani, OR & Kesehatan
(termasuk mulok)
3
 
3
10
 Prakarya  (termasuk mulok)
2
2
2
Jumlah
38
38
38
                       * Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah.


Struktur Kurikulum Peminatan SMA (K-13)
MATA PELAJARAN
Kelas
X
XI
XII
Kelompok A dan B (Wajib)
24
24
24
Peminatan Matematika dan IPA
 
 
 
I
1
Matematika
3
4
4
2
Biologi
3
4
4
3
Fisika
3
4
4
4
Kimia
3
4
4
Peminatan Sosial
 
 
 
II
1
Geografi
3
4
4
2
Sejarah
3
4
4
3
Sosiologi & Antropologi
3
4
4
4
Ekonomi
3
4
4
Peminatan Bahasa
 
 
 
III
1
Bahasa dan Sastra Indonesia
3
4
4
2
Bahasa dan Sastra Inggris
3
4
4
3
Bahasa dan Sastra Asing lainnya
3
4
4
4
Antropologi
3
4
4
Mata Pelajaran Pilihan  dan Pendalaman
 
 
 
 
Pilihan Pendalaman Minat atau Lintas Minat
6
4
4
Jumlah Jam Pelajaran Yang Tersedia per minggu
60
72
72
Jumlah Jam Pelajaran Yang harus Ditempuh per minggu
42
44
44

Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum[20]
Elemen
Ukuran Tata kelola
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Guru
Kewenangan
Hampir mutlak
Terbatas
Kompetensi
Harus tinggi
Sebaiknya tinggi. Bagi yang rendah masih terbantu dengan adanya buku
Beban
Berat
Ringan
Efektivitas  waktu untuk kegiatan pembelajaran
Rendah [banyak waktu untuk persiapan]
Tinggi
Buku
Peran penerbit
Besar
Kecil
Variasi materi dan proses
Tinggi
Rendah
Variasi harga/beban siswa
Tinggi
Rendah
Siswa
Hasil pembelajaran
Tergantung sepenuhnya pada guru
Tidak sepenuhnya tergantung guru, tetapi juga buku yang disediakan pemerintah
Pemantauan
Titik Penyimpangan
Banyak
Sedikit
Besar Penyimpangan
Tinggi
Rendah
Pengawasan
Sulit, hampir tidak mungkin
Mudah

Proses
Peran
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Penyusunan Silabus
Guru
Hampir mutlak [dibatasi hanya oleh SK-KD]
Pengembangan dari yang sudah disiapkan
Pemerintah
Hanya sampai SK-KD
Mutlak
Pemerintah Daerah
Supervisi penyusunan
Supervisi pelaksanaan
Penyediaan Buku
Penerbit
Kuat
Lemah
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk buku pengayaan
Pemerintah
Kecil, untuk kelayakan penggunaan di sekolah
Mutlak untuk buku teks, kecil untuk buku pengayaan
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk pengembangan dari yang ada pada buku teks
Pemerintah Daerah
Supervisi penyusunan dan pemantauan
Supervisi pelaksanaan dan pemantauan
Pelaksanaan Pembelajaran
Guru
Mutlak
Hampir mutlak
Pemerintah Daerah
Pemantauan kesesuaian dengan rencana [variatif]
Pemantauan kesesuaian dengan buku teks [terkendali]
Penjaminan Mutu
Pemerintah
Sulit, karena variasi terlalu besar
Mudah, karena mengarah pada pedoman yang sama
Secara garis besar, KTSP memiliki enam komponen penting sebagai berikut:
1.    Visi dan misi satuan pendidikan
Visi merupakan suatu pandangan atau wawasan yang merupakan representasi dari apa yang diyakini dan diharapkan dalam suatu organisasi dalam hal ini sekolah pada masa yang akan datang.
2.    Tujuan pendidikan satuan pendidikan
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan untuk pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3.    Kalender pendidikan
Kalender pendidikan untuk pengembang kurikulum jam belajar efektif untuk pembentukan kompetensi peserta didik, dan menyesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik.
4.    Struktur muatan KTSP
Struktur muatan KTSP terdiri atas: Mata pelajaran, Muatan lokal, Kegiatan pengembangan diri, Pengaturan beban belajar, Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, Pendidikan kecakapan hidup, Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
5.    Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.
6.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.







DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media.

Dewi Turgarini, Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013 di Bandung 16 Maret 2016.

Fadhillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTs & SMA/MA. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013, UNNES Semarang: 4 Mei 2013.

Sanjaya, Wina. 2006. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Zainal Arifin, 2014. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


[1] Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), hlm. 1.
[2] Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 1.
[3] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. v.
[4] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi…, hlm. 1-2.
[5] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi…, hlm. 6.
[6] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 152.
[7] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hlm. 128.
[8] Masnur Muslich, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), hlm. 10.
[9] Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum …, hlm. 184.
[10] M. Fadhillah, Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTs & SMA/MA, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 16.
[11] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi…, hlm. 11.
[12] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi…, hlm. 23-25.
[13] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)…, hlm. 130-131.
[14] Masnur Muslich, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan…, hlm. 11.
[15] M. Fadhillah, Implementasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTs & SMA/MA . . . , hlm. 175-179.
[16] Dewi Turgarini, Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013di Bandung 16 Maret 2016.
[17] S. Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 162.
[18] S. Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. . ., hlm. 164.
[19] Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013, UNNES Semarang: 4 Mei 2013.
[20] Dewi Turgarini, Paparan Mendikbud Sosialisasi Kurikulum 2013di Bandung 16 Maret 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media Boneka Tangan